Blokade Selat Hormus, Strategi Iran Tekan AS-Isr43l
By: Hasna Hanan
Selat Hormuz secara geografis diapit oleh Iran di utara dan Oman di selatan, menjadikannya sebagai jalur internasional vital. Meskipun bukan milik satu negara, Iran mengendalikan sebagian besar perairan dan pulau di sana, serta membatasi akses bagi kapal AS dan Israel per Maret 2026.
Kompas, Iran sudah berulang-ulang mengingatkan bahwa serangan militer ke Iran akan membuatnya menutup Selat Hormuz. Iran kini menepati ”janji” itu. Langkah Iran membuat Amerika Serikat dan Israel mendapat tekanan global dan domestik untuk menghentikan perang.
Sebuah kapal kontainer terkena proyektil tak dikenal saat sedang berada di lepas pantai Uni Emirat Arab, dekat Selat Hormuz. Insiden yang dicurigai melibatkan Iran itu terjadi sekitar 46 kilometer dari Ras Al Khaimah, salah satu wilayah di UEA.
Akan tetapi Dalam sebuah wawancara dengan Hindustan Times pada 15 Maret 2026, Araghchi menjelaskan bahwa “Selat Hormuz terbuka. Jalur ini hanya ditutup untuk kapal tanker dan kapal milik musuh kami, yakni mereka yang menyerang kami dan sekutu kami. Negara lain bebas melintas.” Pernyataan ini menegaskan bahwa Iran berupaya menyeimbangkan antara menunjukkan sikap terbuka bagi perdagangan dunia dan sekaligus menegaskan posisi konfrontatifnya terhadap Amerika Serikat dan Israel.
Jebakan Maut Bagi AS-ISR43L
Selat Hormuz menyumbang sekitar 20% dari total pengiriman minyak dunia. Setiap gangguan di jalur ini dapat menimbulkan fluktuasi harga minyak secara drastis. Dengan menolak kapal AS melintas, Iran secara tidak langsung menekan kemampuan militer dan ekonomi Amerika Serikat untuk mengamankan pasokan energi serta mengirimkan peralatan militer melalui rute tersebut.
Selain penolakan langsung, Iran juga meningkatkan kehadiran Pasukan Garda Revolusi (IRGC) dan menempatkan kapal selam serta drone di perairan selat. Pada Mei 2023, IRGC secara terbuka mengawasi kapal perang Amerika yang melintasi Hormuz, memperlihatkan kemampuan deteksi dan respons cepat yang dapat menimbulkan risiko konfrontasi militer.
Dampak keputusan ini menyebabkan fluktuasi harga minyak yang menunjukkan kenaikan sebesar 4-6% dalam satu minggu pertama, Hal ini mencerminkan ketidakpastian pasar. Para analis memprediksi bahwa jika Iran memperluas pembatasan atau terjadi insiden militer di selat, harga minyak dapat melambung lebih tinggi, menambah beban inflasi di negara-negara importir.inilah kekhawatiran di kalangan negara-negara yang bergantung pada jalur ini untuk perdagangan minyak, seperti India, Jepang, dan negara-negara Uni Eropa. Meskipun kapal-kapal dari negara tersebut masih dapat melintas, ketidakpastian keamanan dapat mendorong mereka mencari rute alternatif yang lebih mahal dan memakan waktu.
Mendudukkan Persoalan Politik Dunia
Pengamat Hubungan Internasional Budi Mulyana mengungkap motif utama Amerika Serikat menyerang Iran.
“Berdasarkan pernyataan resmi dari Gedung Putih dan dinamika geopolitik per Maret 2026, motif utama Amerika Serikat menyerang Iran dapat dirangkum dalam beberapa poin strategis yang saling berkaitan,” tuturnya kepada Tinta Media, Kamis (5/3/2026).
Pertama, sebut Budi, pencegahan senjata nuklir (nuclear Non-Proliferation). Ini adalah alasan paling mendasar yang terus ditekankan oleh Presiden Donald Trump.
Setelah gagalnya negosiasi nuklir di Jenewa pada Februari 2026, ungkapnya, AS meyakini bahwa Iran sudah sangat dekat dengan kemampuan memproduksi senjata nuklir. AS menyatakan tidak akan membiarkan Teheran memiliki hulu ledak nuklir yang dapat mengancam stabilitas global,” ungkapnya.
Kedua, penghancuran kapabilitas rudal balistik. “Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menegaskan bahwa tujuan militer jangka pendek adalah melumpuhkan inventaris rudal balistik dan hipersonik Iran (seperti rudal Fattah). AS memandang rudal-rudal ini sebagai ancaman langsung terhadap pangkalan militer mereka di Timur Tengah serta wilayah Eropa,” jelasnya.
Ketiga, tekanan dari Israel (faktor aliansi). Terdapat pengakuan menarik dari pejabat AS bahwa serangan ini sebagian dipicu oleh niat Israel untuk melakukan serangan pre-emptive (mendahului). “AS merasa perlu terlibat guna memastikan serangan tersebut terukur dan untuk melindungi aset-aset Amerika di kawasan yang pasti akan menjadi sasaran balas dendam Iran jika Israel bergerak sendirian,” terangnya.
Keempat, dorongan perubahan rezim (regime change). Secara eksplisit, Trump telah menyerukan rakyat Iran untuk melepaskan diri dari belenggu tirani. “Dengan menargetkan pusat komando dan syahidnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, AS berharap terjadi kekosongan kekuasaan yang bisa memicu revolusi rakyat dari dalam, terutama setelah gelombang protes besar-besaran di Iran sejak akhir 2025,” ungkapnya.
Kelima, keamanan jalur energi dan logistik. AS ingin memastikan Iran tidak lagi memiliki kemampuan untuk mengganggu navigasi internasional di Selat Hormuz.
“Dengan menghancurkan Angkatan Laut IRGC (Islamic Revolutionary Guard Corps atau Korps Garda Revolusi Islam), AS berupaya mengamankan jalur pasokan minyak dunia yang menjadi urat nadi ekonomi global, termasuk bagi sekutu-sekutunya di Asia dan Eropa,” pungkasnya
Secara keseluruhan, kebijakan Iran yang menutup Selat Hormuz bagi kapal AS dan Israel menciptakan dinamika baru dalam persaingan geopolitik di Timur Tengah. Langkah ini tidak hanya menambah tekanan pada Amerika Serikat, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran global tentang stabilitas energi dan keamanan maritim. Upaya diplomatik masih menjadi satu-satunya jalan keluar yang dapat mencegah konfrontasi militer yang lebih luas.
Wallahu'alam bisshowab

Posting Komentar