Solusi Islam Mengatasi Krisis Kepemimpinan
Oleh : Khoeriyah Apendi, Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok
Saat ini Indonesia sedang mengalami krisis kepemimpinan yang nyata. Hal ini ditandai dengan ketidakmampuan dalam mitigasi bencana, yakni lambatnya penanganan bencana (khususnya di Sumatra) dan sikap pejabat yang cenderung defensif terhadap kritik. Ditambah pula adanya degradasi moral dan etika, yakni banyak pemimpin yang dianggap haus kekuasaan, arogan, minim empati, dan sering melanggar etika demi ambisi politik (seperti perubahan syarat usia capres-cawapres). Bahkan, kesenjangan sosial pun masih menganga, karena pejabat tetap hidup mewah dan melakukan korupsi di tengah penderitaan rakyat yang terkena bencana atau kemiskinan.
Penulis berargumen, akar masalah dari krisis ini adalah penerapan sekularisme, yaitu pemisahan agama dari kehidupan dan kekuasaan. Akibatnya, hukum menjadi produk manusia yang mudah diubah-ubah sesuai kepentingan penguasa. Pemimpin pun kehilangan rasa takut kepada Allah SWT (takwa), sehingga tidak merasa diawasi dalam menjalankan amanah.
Oleh karena itu, solusi yang ditawarkan untuk mengakhiri krisis ini, yakni: Pertama, kembali kepada tuntunan Islam secara menyeluruh (kaffah). Kedua, kepemimpinan sebagai amanah: Pemimpin harus sadar bahwa jabatan adalah beban yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat.
Ketiga, integritas tokoh. Meneladani Khulafaur Rasyidin (seperti Abu Bakar dan Umar bin Khattab) yang sangat berhati-hati dalam menjaga harta negara dan melayani rakyat dengan tulus. Keempat, penerapan hukum Allah. Keyakinan bahwa hanya hukum Islam (syariah) yang dapat mewujudkan keadilan hakiki, karena sifatnya yang pasti dan tidak memihak pada kepentingan korporasi atau pribadi (misal: pengelolaan sumber daya alam untuk kesejahteraan rakyat).
Maka, melalui institusi kepemimpinan yang berlandaskan akidah Islam, diharapkan lahir pemimpin yang bertakwa yang mampu menghapus kezaliman dan menciptakan kehidupan yang berkeadilan bagi seluruh masyarakat.[]

Posting Komentar