Pemulihan korban bencana Sumatra, termasuk jaminan kelangsungan pendidikan generasi pasca bencana
Oleh : Suwarni
Mendikdasmen Prof Abdul Mu'ti dalam rapat kerja dengan Komisi X memaparkan bahwa 2.798 satuan pendidikan terdampak, 5.421 ruang kelas rusak, dan lebih dari 600 ribu siswa mengalami gangguan layanan pendidikan. Banyak sekolah rusak, akses terputus, dan sebagian digunakan sebagai posko pengungsian.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengatakan pihaknya mengupayakan pada Februari 2026, akan memulai pembangunan sekolah yang rusak akibat bencana banjir dan longsor di wilayah Provinsi Aceh, Sumatra Utara (Sumut) dan Sumatra Barat (Sumbar).
Saat ini pihaknya terus menghimpun data terkait seluruh sekolah yang terdampak bencana alam di tiga provinsi tersebut beserta skala kerusakannya.
Mendikdasmen telah membuat tiga skenario pembelajaran darurat.Skenario ini dikelompokkan, sesuai skala kerusakan sekolah-sekolah yang terdampak bencana alam tersebut.Salah satunya pembelajaran darurat selama 0-3 bulan bagi sekolah-sekolah yang terdampak tetapi masih memiliki beberapa ruang kelas layak pakai.Untuk sekolah dengan ruangan layak pakai, pihaknya memberlakukan sistem belajar bergantian (shift) sembari pihaknya memperbaiki kerusakan pada sekolah tersebut.
skenario kedua, yaitu pembelajaran darurat selama 3-12 bulan, dan skenario yang ketiga ialah pembelajaran darurat hingga 3 tahun bagi sekolah yang mengalami kerusakan berat bahkan roboh total.
Menurut Mendikdasmen, sekolah yang sudah memang roboh total, bangun baru perlu waktu yang lama tentunya.
Sementara disisi lain,presiden mengatakan bahwa kondisi Sumatera pasca bencana dalam kondisi baik sehingga penanganan pasca bencana terkesan lamban, utamanya pemulihan sarana dan prasarana pendidikan untuk mewujudkan hak generasi dalam memperoleh pendidikan yang layak.
Dalam hal ini,kesan lamban respon dan nirempati dari pemerintah pusat belum ada respon cepat untuk menangani kebutuhan generasi akan pendidikan, yang bergerak di lapangan lebih banyak lembaga kemanusiaan, NGO maupun influencer. Pemerintah pusat terkesan lepas tangan.
Aspek paradigmatik kepemimpinan
Pemimpin sebagai pelayan dan pengurus rakyat senantiasa memiliki jiwa kesiapsiagaan tanggap risiko bencana termasuk memastikan terpenuhinya hak rakyat atas kebutuhan asasi termasuk pendidikan, kesehatan, dll.
selain itu melakukan pemulihan infrastruktur secara tanggap dengan melakukan koordinasi dengan gubernur di mana bencana terjadi. Memobilisasi guru, menyediakan sarana pendidikan di fase pasca bencana.
Kapitalisme Pangkal Masalah
Bangunan sekolah yang layak akan memberikan keamanan dan kenyamanan dalam proses belajar dan mengajar,proses kegiatan belajar mengajar bisa berjalan dengan optimal.Namun jika kondisi bangunannya tidak layak bahkan rusak akan menjadi faktor yang membuat siswa tidak fokus belajar dan mendapatkan hasil terbaik. Di satu sisi siswa harus mencapai standar nilai-nilai tertentu namun di sisi lain fasilitasnya tidak mendukung.
Inilah watak negara dalam naungan kapitalisme. Penguasanya mengeluarkan kebijakan yang disetir oleh pemodal. Pendidikan pun tidak menjadi perhatian utama termasuk bangunan sekolah yang menjadi tempat proses belajar dan mengajar sebab dalam paradigma kapitalisme pendidikan dipandang tak ubahnya sebagai ladang bisnis. Maka pendidikan berkualitas itu hanya bisa dirasakan oleh mereka yang mampu membelinya.
Islam Menjamin Kelayakan Fasilitas Sekolah
Tempat yang layak menjadi salah satu hal penting untuk keberlangsungan pendidikan. Agar terwujud pendidikan yang berkualitas, banyak hal yang harus dipenuhi. Islam menjadikan pendidikan sebagai hal penting yang menjadi tanggung jawab negara. Dengan demikian, negara harus menyediakan sarana prasarana berkualitas yang aman untuk tercapainya tujuan pendidikan. Negara memiliki kewajiban untuk memenuhi kebutuhan bangunan sekolah yang kokoh serta mengupayakan untuk mewujudkannya. Sebab, di dalam Islam setiap individu rakyat berhak memperoleh pendidikan terbaik. Artinya tempat dalam proses belajar juga harus berkualitas.
sistem Islam mewujudkan pendidikan diantaranya mengadakan bangunan sekolah yang berkualitas dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Oleh karena itu, penguasa akan menerapkan sistem ekonomi Islam di negara. Dengan penerapan sistem ekonomi Islam akan terwujud bangunan sekolah terbaik lengkap dan kokoh.
Semua itu dapat terjadi karena negara memiliki kekayaan besar yang mampu membiayai. Kekayaan itu utamanya diperoleh dari pengelolaan sumber daya alam yang melimpah.
Dengan kekuatan modal yang diperoleh dari pengelolaan sumber daya alam, sangat mudah bagi negara untuk menyediakan bangunan sekolah yang berkualitas.
Dengan demikian sekolah yang bagus bisa dinikmati oleh semua rakyat tanpa kecuali. Bukan hanya dari sisi bangunannya saja yang memadai, namun juga dari sisi kurikulum sekolah yang berbasis aqidah Islam serta tenaga guru yang handal yang akan memproduksi generasi beriman, berkepribadian Islam dan berakhlak luhur.

Posting Komentar