-->

Wacana KUA Fasilitasi Nikah Semua Agama, Boroknya Topeng Oligarki dan Moderasi Beragama

Oleh: Anastasia S.Pd. 

Baru-baru ini, Kementerian Agama (Kemenag) berencana untuk membuat Kantor Urusan Agama (KUA) menjadi tempat untuk mencatat pernikahan dari semua keyakinan, bukan hanya muslim saja.

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas berharap, KUA dapat menjadi pusat pelayanan keagamaan yang inklusif bagi semua agama. Diketahui, seperti yang kita ketahui KUA adalah kantor urusan agama pendaftaran pernikahan agama islam.

"Kita sepakat dari awal,  KUA akan kita jadikan sebagai tempat  pelayanan keagamaan bagi semua agama. KUA bisa dipergunakan untuk tempat pernikahan semua agama," ujar Yaqut dalam keterangannya di Jakarta, dikutip dari CNNIndonesia, Minggu (25/2/2024). Selain itu, masih menurut Yaqut, dengan adanya penyatuan fungsi KUA,  sebagai ruang pencatatan pernikahan semua agama, data-data pernikahan dan perceraian bisa lebih terintegrasi dengan teratur.

"Sekarang ini, kita paham bahwa saudara-saudari kita yang non-Muslim, mereka mencatat pernikahannya di pencatatan sipil. Padahal, seharusnya urusan tersebut adalah wilayah kewenangan Kementerian Agama," katanya.

Di sisi lain, aula yang ada di KUA bisa dipergunakan sebagai tempat ibadah sementara bagi umat non-Muslim,  yang masih mengalami kesulitan membangun rumah ibadah sendiri karena faktor ekonomi dan sosial.

"Ayo kita bantu saudara-saudari kita yang non-Muslim untuk bisa merealisasikan ibadah yang sebaik-baiknya. Tugas Muslim sebagai mayoritas yaitu memberikan perlindungan kepada  saudara-saudari yang minoritas, bukan sebaliknya," kata Yaqut.

Di sisi lain , Direktur Jenderal (Dirjen) Bimas Islam Kamaruddin Amin mengatakan KUA sebagai tempat layanan keagamaan lintas agama akan mulai diluncurkan tahun ini.

Untuk mewujudkan program ini, KUA sebagai pusat layanan terpadu keagamaan lintas fungsi dan lintas agama ini akan diluncurkan tahun depan.

Topeng Boroknya Oligarki dan Moderasi Beragama 

Sungguh ironi bangsa ini, dengan jumlah penduduk Islam paling banyak, namun dipaksa untuk mengikuti selara minoritas. Seolah-olah dengan jumlah muslim yang banyak kita bisa mengintervensi agama lain. Potensi Islam di Indonesia, dimaknai sebagai ancaman bagi kelompok kecil. Selama ini narasi yang digunakan oleh para pendukung moderasi beragama, untuk menekan eksistensi kelompok radikalisme, yang diklaim bisa menimbulkan kegaduhan di Indonesia. Padahal, sejatinya segala ketimpangan dan kegaduhan muncul akibat diterapkannya sistem kapitalisme yang melahirkan oligarki. Untuk menutupi topeng ini, mereka menjadikan kelompok yang dicap radikal sebagai komunitas yang disalahkan, dibenturkan dengan segala perbedaan yang tidak mendasar. Namun, faktanya konflik yang muncul di masyarakat bukanlah datang dari pemahaman agama yang radikal atau ekstrimis, tapi banyak disebabkan oleh ketimpangan ekonomi dan politik yang diciptakan oleh segelintir elite politik. Contohnya, konflik agraria di mana negara telah merebut lahan rakyat secara paksa. Sebaliknya, saat ini justru orang-orang yang mengkampanyekan moderasi beragama, adalah mereka yang dekat dengan elite oligarki. Rakyat hanya bisa melihat persekongkolan politik. 

Pada akhirnya, narasi moderasi dijadikan alat untuk membungkam orang-orang yang selalu ini getol mengkritisi kebijakan mereka.

Moderasi Beragama Pelecehan Terhadap Aqidah 

Dalam sejarah peradaban, dunia telah mencatat bagaimana Islam tampil sebagai agama yang mampu memimpin dunia. Kesempurnaan Islam telah memberikan cahaya kepada manusia menuju jalan yang terang. Namun, seiring dengan segala perkembangannya barat menyimpan kebencian yang luar biasa terhadap Islam. Sehingga kebencian menjadi alasan bagaimana menjadikan Islam sebagai agama yang harus dihilangkan dari kencang kehidupan internasional. Mereka sadar bahwa Islam tidaklah mudah untuk dikalahkan, dalam sejarah peperangan Islam selalu tampil menjadi pemenang. Lantas demikian, akhirnya barat menemukan titik untuk mampu melumpuhkan Islam, yaitu mengubah perang fisik menjadi perang pemikiran, di mana barat telah menggunakan narasi moderasi beragama, sebagai wacana melumpuhkan pemahaman Islam,  agar  disesuai dengan kepentingan barat dan antek-antek oligarki. 

Faktanya, moderasi beragama benar-benar dikampanyekan secara masif khusus ke Indonesia. Hal ini, terus diupayakan supaya umat Islam tidak merasa yakin dengan pemahamannya. Akibatnya,  apabila wacana ini berhasil, maka  generasi Islam tidak akan mau lagi memperjuang Islam sampai ke level penerapan Islam secara kaffah, dalam wadah negara. Perjuangan tersebut, merupakan puncak kemenangan, memposisikan Islam ke tempat tertinggi, yaitu mengatur segala urusan. Tentu ini adalah akhir dari segala kezaliman barat dan elite oligarki. Maka dari,  narasi moderasi beragama digencarkan untuk membajak kebangkitan Islam.

Wacana  KUA inilah salah satu upayanya, negara memfasilitasi pernikahan non-Muslim supaya disatukankan dengan Islam. 

Sungguh wacana ini sangat berbahaya, mengingat KUA merupakan tempat melaksanakan tugas seperti, masalah  pernikahan, rujuk, cerai, mengurus dan membangun masjid. Bahkan terkait, wakaf, zakat, kependudukan, dan pengembangan keluarga sakinah yang sudah ditetapkan berdasarkan hukum syariat Islam. Apabila sekarang KUA dipaksa,  harus mengurusi masalah pernikahan di luar agama Islam, bahkan menjadikan KUA sebagai rumah ibadah sementara, jelas ini merupakan pelecehan terhadap agama Islam. Yaitu desakralisasi ajaran Islam, dan sekularisasi agama. Umat Islam dipaksa untuk menerima ajaran lain, dengan dalih saling menghormati. Adanya sekularisasi ini,  menjadikan nilai kebenaran menjadi ambigu, karena ujung-ujungnya dari program moderasi beragama adalah pemahaman yang menyatakan semua agama benar. Hal ini bertujuan, untuk melemahkan aqidah generasi Islam,  supaya berwawasan terbuka, menerima nilai kebenaran dari agama lain. Umat Islam digiring untuk tidak militan dalam memandang pemikiran Islam, karena semua agama mengajarkan kebenaran.

Hal ini tentu bertentangan dengan firman Allah Swt, yang berbunyi:

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِن بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۗ وَمَن يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab, kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di antara mereka. Barangsiapa yang ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” [Ali ‘Imran/3: 19]

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.” [Ali ‘Imran/3: 85]

Kedua ayat di atas, telah menegaskan kita sebagai muslim tidak boleh mencari kebenaran dari agama lain, dan sesungguhnya agama yang benar sisi Allah, adalah Islam. 

Sudah dapat dipastikan, agenda moderasi beragama dengan berbagai wacananya, adalah upaya untuk menutupi boroknya elite oligarki dan pelecahan terhadap aqidah Islam. 

Padahal sejarah peradaban Islam telah membuktikan, hanya Islamlah agama yang mampu melindungi dan mewadahi segala perbedaan dalam wadah negara, tanpa harus mencampuradukkan keyakinan agama lain. Wallahu 'Alam.