-->

Mahasiswa Menjadi Korban TPPO, kok bisa?

Oleh: Binti Masruroh, S.Pd

Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BPEMI) membongkar kasus perdagangan orang yang melibatkan mahasiswa dengan modus magang ke Jepang.  Sebagaimana dilansir indopos.co.id 02/07/23 sebelas mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri di Sumatera Barat menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di Jepang. Sebelas mahasiswa  dikirim politeknik negeri Payakumbuh untuk melakukan magang di perusahaan Jepang. Namun korban  diperlakukan bukan sebagai magang tapi sebagai buruh. Akhirnya korban  yang berinisial ZA dan FY melaporkan ke KBRI Tokyo.

Bareskrim Polri Djahandari Raharjo Puro menjelaskan TPPO yang memakan korban mahasiswa bermula ketika para korban mendaftarkan diri untuk mengikuti program magang tahun 2019. Para korban mendapat persetujuan dari EH selaku Direktur Politeknik kemudian diberangkatkan menggunakan visa pelajar, berlaku selama satu tahun, kemudian diperpanjang dengan visa kerja selama 6 bulan. Bukan diarahkan untuk belajar sambil bekerja, para korban malah dipaksa bekerja selama 14 jam, mulai jam 8 pagi sampai jam 10 malam selama 7 hari dalam seminggu tanpa libur. Bahkan istirahat makan hanya 10-15 menit, korban juga tidak boleh beribadah. Korban di beri upah 50.000 yen atau  Rp 5 juta  per bulan, tetapi diwajibkan memberi dana  kontribusi 17,5 yen atau Rp 2 juta perbulan kepada EH (news.detik.com 14/07/23).

Kasus ini tentu saja menambah masalah khususnya dibidang pendidikan. Magang pada pelajar dan mahasiswa ternyata menjadi celah tidak TPPO. Padahal  Magang  merupakan program yang dicanangkan oleh  Menteri Pendidikan dan Kebudayaan  yang bertujuan untuk memberikan pembelajaran secara langsung kepada  pelajar dan  mahasiswa sebelum memasuki dunia kerja. Mahasiswa yang seharusnya mendapatkan pembimbingan malah disalahgunakan  akibat kerakusan oknum. Hal ini tidak lepas dari pendidikan yang diterapkan berorientasi pada kerja. Sehingga program magang yang ternyata menjadi celah eksploitasi orang untuk mendapatkan keuntungan.

Sistem pendidikan sekuler kapitalis menuntut kampus untuk menyediakan sumber tenaga manusia yang mampu bersaing di dunia kerja. Sulitnya lapangan kerja menjadikan mahasiswa antusias mengikuti program magang yang dikenal dengan istilah MSIB (Magang dan Studi Independen Bersertifikat) hal ini dilakukan untuk eksistensi diri dan merupakan peluang besar untuk direkrut perusahaan besar. Perusahan akan semakin diuntungkan dengan  link and match antara industri dan dunia pendidikan. Hal ini sejatinya merupakan pembajakan terhadap potensi pemuda dan mahasiswa yang seharusnya menjadi agen perubahan menjadi para buruh perusahaan. Bahkan ada yang menjadi korban TPPO.

Dalam sistem Islam, belajar bukan semata untuk mendapatkan pekerjaan, belajar baik itu ilmu agama maupun umum dalam rangka menuntut ilmu yang diwajibkan oleh Allah swt. Allah menempatkan Ilmu sebagai saudara kembar yang akan memuliakan manusia di dunia dan diakhirat.

Sistem Pendidikan Islam bertujuan untuk membentuk generasi yang berkepribadian Islam dan menguasai Iptek, bukan untuk pekerja. Penguasaan ilmu dalam sistem Islam digunakan untuk menopang tugas negara menerapkan syariat Islam secara kaffah baik dalam urusan dalam negeri maupun urusan luar negeri. Urusan dalam negeri memberikan layanan terbaik untuk umat, sedangkan urusan  luar negeri  untuk menyebarkan Islam keseluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad.

Pendidikan Islam pada masa khilafah terbukti mampu mencetak para ulama sekaligus para ilmuan di berbagai bidang  seperti Al Kharijmi ahli matematika dan astronomi, Ibnu Haitam  dikenal sebagi Bapak Optik beliau juga penemu gaya grafitasi sebelum Issac Newton, Ibnu Kaldun seorang sejarawan dan sosiolog, Al Farabi seorang filosuf dan matematikawan, Al Battani seorang astronom dan matematikawan, Ibnu Sina ahli kedokteran, Ibnu Rusyit ahli filsafat kedokteran, Jabir Ibnu Hayan seorang ahli kimia Bangsa arab, Al Zahrawi seorang fisikawan dan ahli bedah dikenal sebagai Bapak ahli bedah, Imam Ghozali seorang filosof dan ahli tasawuf. Dan masih banyak lagi para ulama dan ilmuan yang lain.

Para Ilmuwan itu tidak menggunakan ilmunya untuk bekerja tetapi diabdikan untuk kepentingan negara khilafah untuk melayani umat, sehingga khilafah Islam  mampu memimpin peradaban dunia selama berabad abad. Selain itu karya para Ilmuan Muslim itu juga dijadikan rujukan oleh ilmuan di dunia barat.

Dengan menerapkan Sistem Islam secara kaffah tidak akan ada mahasiswa yang menjadi korban TPPO sebaliknya akan lahir generasi yang berkepribadian Islam yang menguasai Iptek dan para agent of change pembangun peradaban Islam. Sehingga peradaban Islam kembali memimpin dunia. Wallahu a’lam bish-shawab.