Mantan Guru Honorer Bakar Sekolah, Sengkarut Kegagalan Sistem Pendidikan Indonesia

Oleh : Aini Rahmalia, S.Si

Mendengar sebuah berita di bidang pendidikan membuat hati miris, seorang guru honorer tega membakar sekolah tempat ia bekerja dulu. Dilansir dari KOMPAS.com (29/01/2022) Dua ruangan di SMPN 1 Cikelet, Garut, Jawa Barat, dibakar oleh seseorang tak dikenal pada Jumat (14/1/2022) lalu. Setelah polisi melakukan penyelidikan dan penyidikan, petugas berhasil menangkap pelakunya yakni bernama Munir Alamsyah (53). Pelaku diketahui merupakan mantan guru honorer di sekolah tersebut. 

Munir pernah mengajar di SMP itu sebagai guru fisika pada tahun 1996-1998. Kepada polisi, Munir mengaku nekat membakar dua ruangan itu karena kesal uang honornya sebesar Rp 6 juta tak kunjung dibayar selama 24 tahun. Usai kejadian itu, Dinas Pendidikan Kabupaten Garut pun membayar honornya. Bukan itu saja, pihak kepolisian juga membebaskannya, Jumat (28/1/2022). Pembebasan Munir didasari dari hasil kesepakatan pihak sekolah dan Dinas Pendidikan Kabupaten Garut. Hal tersebut juga didasari dari peraturan kepolisian nomor 8 tahun 2021 terkait penanganan pidana berdasarkan keadilan restoratif.

Kronologi awal pembakaran itu ketika Munir memasuki sekolah saat staf sekolah dan guru sedang melaksanakan ibadah Jumat pada 14 Januari 2022 sekira pukul 11.30 WB. Ternyata aksinya tersebut terekam CCTV dan akhirnya berhasil ditangkap oleh tim Sancang Polres Garut. Selain marah karena gajinya tidak kunjung dibayarkan, Munir juga memiliki masalah ekonomi dan menuntut haknya selama ia mengajar.

Ini adalah salah satu kasus yang membuktikan gagalnya sistem pendidikan di Negara ini. Gaji seorang guru honorer yang sudah mengabdi selama tiga tahun untuk mengajar jauh dari kata sejahtera. Padahal gaji yang diperjuangkan seorang guru honorer hanyalah 200-300 ribu perbulan. Gaji sekecil itu sangatlah tidak cukup untuk memenuhi segala kebutuhan, dan itupun tak kunjung di bayar hingga berakhir pembakaran. Dimana letak sistem pendidikan saat ini dalam menghargai dan memuliakan seorang guru?

Sistem pendidikan yang membedakan antara PNS dengan honorer, membuat para guru harus ikhlas menerima takdir ketika tidak lulus seleksi PNS menjadi guru honorer selamanya.

Islam menyejahterakan guru

Guru sangat berperan penting dalam mencetak generasi terbaik. Seorang guru dapat melahirkan ratusan generasi tebaik dalah segala profesi. Peran penting inilah yang membuat islam sangat memuliakan dan mensejahterakan guru.  Guru yang berkualitas akan lahir dari sitem yang memuliakannya. Dalam sebuah hadist Nabi SAW bersabda, “barang siapa yang memuliakan orang berilmu (guru), maka sungguh ia telah memuliakan aku, maka sungguh ia telah memuliakan Allaah SWT. Barang siapa yang memuliakan Allaah, maka tempatnya di surga.” 

Islam tidak membedakan tenaga pendidik dengan sebutan PNS dan honorer. Semua tanaga pendidik dipandang sama yaitu sebagai pegawai Negara. Karena pendidikan adalah kebutuhan dan kewajiaban bagi setiap umat islam. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda dalam salah satu hadits:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ 

“Mencari ilmu adalah kewajiban setiap muslim” (HR Ibnu Majah).

Gaji seorang guru pada masa kekhilafahan islam sangatlah tinggi sebanding dengan peranannya yang sangat penting. Pada masa khalifah Umar Bin Khattab r.a. gaji seorang guru mencapai 15 dinar setara dengan 63 juta rupiah per bulannya. Kemudian sistem gaji berkembang pada masa ke khilafahan Abassiyah seorang professor di Madrasah Nizamiyah digaji sebesar 40 Dinar. Sementara, professor di Mesir digaji 60 dirham, asistennya 40 dirham. Bahkan ada pengajar yang digaji mencapai 1000 dirham. Sungguh luar biasa islam sangat memuliakan dan mensejahterakan guru.

Sebenarnya seberapa pun gaji guru jika di imbangi dengan segala kebutuhan yang di jamin oleh Negara maka akan terasa ringan. Seperti kesehatan gratis, pendidikan gratis, bahan pokok murah dan lainnya. Maka guru akan merasa ringan dan fokus dalam menjalankan peranannya sebgai seorang guru. Sedangkan dalam sistem saat ini, sudahlah  gaji guru sangat kecil ditambah banyaknya tuntukan kehidupan yang harus dipenuhi.

Tak heran jika pada masa daulan islamiyah tercetak ribuan ulama dan generasi terbaik. Murid berlomba-lomba menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh, dan guru dengan suka cita memberikan ilmu terbaiknya. Terbentuklah sebuah Negara dengan peradaban gemilang. 

Wa’allaahua’lam bishowab

__________________________________________

Dukung terus Penamabda.com menjadi media rujukan umat. 

Dukung juga channel youtube dan IG Pena Mabda ya sahabat!


banner zoom