NGAJI BUDAYA? AWAS!! MODERASI BERAGAMA MERUSAK AKIDAH

Oleh : Dhiyaul Haq (Aktivis Muslimah Malang Raya)

Kegiatan Doa Lintas Agama dan Ngaji Budaya di gelaran 1000 Sajen dan Dupa digelar di depan Balai Kota Malang, Sabtu (22/1/2022). Kegiatan yang digelar pertama kali ini dapat menghadirkan ratusan komunitas dari berbagai kalangan budaya dan agama se Jawa Timur.

Adapun dilansir dari portal-indonesia.com acara ngaji budaya 1000 sajen dan dupa serta doa bersama lintas agama dilaksanakan karena dipantik oleh sebuah video viral di sosmed  yang memperlihatkan bahwa ada seorang pria yang menendang dan melempar sesajen di lokasi yang terdampak erupsi semeru, yang mana hal ini dipandang sebagai sebuah bentuk intoleransi oleh beberapa kalangan dari gerakkan lintas agama, hingga akhirnya diadakanlah sebuah diskusi yang bertajuk “melawan intoleransi”  yang di deklarasikan oleh Hisa Al-Ayubbi Sholahudin pengasuh PPIQ Darul Hidayah. Ia juga mengatakan merasa jengkel dan malu dengan video tersebut, sehingga menurutnya membenci atau menghina agama atau kepercayaan orang lain adalah perbuatan yang tidak dibenarkan. 

Beredar info di beberapa group whatsapp yang menyebutkan beberapa nama donator yang terlibat untuk penyedian sesajen dan dupa. Yang konon itu dilakukan agar melestarikan budaya dan menjaga toleransi antar beragama. 

Sebagaimana dengan spanduk acara mereka adalah “Melestarikan budaya nusantara dan menjaga toleransi”.
Koordinator kegiatan, Gus Hisa Al-Ayubbi mengatakan, ada dua tujuan utama dalam kegiatan tersebut. Pertama adalah doa bersama lintas agama dan juga memperkenalkan budaya Jawa yang selama ini dianggap miring oleh masyarakat. Ia mengatakan “Dengan kejadian di Semeru lalu, kita bisa ambil hikmahnya di sini. Seluruh budayawan dan seniman bersatu di sini,” ujar pria yang juga sebagai pengasuh PPIQ Darul Hidayah, Sabtu (22/1/2022).

Aneh tapi nyata, miris sekali dengan kejadian ngaji budaya lintas agama ini. Kaum muslimin berdoa bersama sementara mereka sendiri sadar betul bahwa mereka mempunyai Tuhan yang berbeda, akidah berbeda. Bukan main, yang dipertaruhkan adalah akidah. 
Pada akhirnya acara-acara semacam ini akan merujuk pada paham pluralisme, semua agama adalah benar. 

Konsekuensinya adalah agama tidak boleh mempunyai klaim kebenaran (truth claim). Setiap agama benar, oleh sebab itu, satu dengan yang lainnya bisa duduk bersama dengan tuhan masing-masing, dan tidak perlu mempermasalahkan perbedaan keyakinan yang ada. Kita bisa duduk bersanding dan berdoa bersama. 
Astaghfirullah.

Sangat wajar fakta ini terjadi di dalam sistem demokrasi. Karena demokrasi selalu membanggakan semboyan “moderasi beragama”. Moderasi adalah mega projek yang sengaja digaungkan oleh demokrasi untuk membutakan masyarakat kaum muslimin agar mempunyai akidah yang tercemar dengan mengatasnamakan toleransi. Inilah bentuk toleransi yang kebablasan, alih-alih ngaji bersama lintas agama ini mengundang keridhoan dan pahala sebaliknya justru mengundang murka dari Allah.

Sebagai kaum muslimin kita harus menyadari bahwa ide moderasi, pluralisme dan toleransi kebablasan ini bertentangan dengan Islam dan sangat membahayakan kepada aqidah Islam bahkan merusak aqidah Islam.

Firman Allah SWT telah mengingatkan kita 

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.” (QS al-Baqarah [2]: 42). 

Selayaknya, umat Islam berpegang pada apa yang sudah Allah tetapkan:

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ، لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ، وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ، وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ، وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ، لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِين

“Katakanlah: “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukku, agamaku”. (QS al-Kafirun [109]: 1-6). 

Tugas besar kita hari ini adalah menyampaikan kepada umat bahwa fakta ini adalah hal yang sesat yang akan mendatangkan adzab Allah. Na’udzubillah jika sapai adzab Allah mendatangi kita khususnya warga Malang. Sehingga wajib untuk mengingkarinya dan meninggalkan hal berbau pada kesyirikan. Sampaikanlah kebaikan-kebaikan dan jangan mundur jika itu adalah syari’at Allah. 

Wallahu’alam bi Ash-Showab 

__________________________________________

Dukung terus Penamabda.com menjadi media rujukan umat. 

Dukung juga channel youtube dan IG Pena Mabda ya sahabat!


 

  
banner zoom