Kampanye Prematur Politisi Pengabdi Kursi

Oleh : Ummu Azka

Periode kedua pemerintahan berkuasa diwarnai berbagai dinamika. Ragam ujian pun  dihadapi negeri. Musibah alam yang terjadi di sana sini, hingga kelakuan pejabat yang membuat rakyat sakit hati. Korupsi yang tumbuh subur diikuti dengan welas asih kepada para pelakunya. 

Di negeri ini pula nafsu berkuasa seolah menemukan muaranya. Bagaimana tidak, belum genap periode kedua selesai berkuasa, masyarakat disuguhi baliho yang terpampang di beberapa kota besar. Beberapa nama petinggi partai politik di negeri ini yang tak asing namanya terpampang jelas lengkap dengan foto berukuran sebanding dengan besarnya baliho tersebut. Puan Maharani dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Airlangga Hartanto yang mewakili partai Golkar, serta Muhaimin Iskandar yang mewakili partai Kebangkitan Bangsa, serta AHY (Agus Harimurti Hudhoyono ) yang mewakili Partai Demokrat. Semua menunjukkan pose terbaik dengan senyum memgembang bak putri dari kayangan. 

Dilengkapi dengan kata kata singkat, baliho berukuran jumbo itu kerap kali memalingkan mata rakyat yang melihatnya. Menanggapi hal tersebut, Pakar Komunikasi UI Firman Kurniawan Sujono mengatakan memang baliho memiliki keunggulan tersendiri. Apalagi di tempat strategis yang banyak orang berlalu lalang, baliho akan menjadi pusat perhatian publik.

Bersamaan dengan hal itu dirinya juga menilai bahwa baliho bisa menjadi alat komunikasi efektif terhadap masyarakat untuk menyampaikan pesan melalui kalimat kalimat yang dicantumkan. 

Namun di sisi lain, dia menilai bahwa cara memasang baliho di luar waktu kampanye dengan jumlah yang banyak akan memicu kejenuhan pada masyarakat. Hal ini memicu masyarakat untuk muak dan mengambil sikap berkebalikan dari pesan yang tertera dalam baliho. 

Fakta politik kekinian yang terjadi di negeri kita sejatinya patut mendapatkan sejumlah catatan, agar masyarakat bisa menilai kinerja penguasa secara objektif. Masyarakat butuh waktu untuk merasakan kinerja nyata penguasa dalam mengurusi rakyatnya. Bukan malah sebaliknya, serentetan ujian yang dirasakan masyarakat tidak berbanding lurus dengan keseriusan penguasa menanganinya membuat masyarakat hidup dalam ketidak pastian. Baik secara ekonomi, keamanan dan juga hubungan sosial. 

Bersamaan dengan hal itu, masyarakat bisa mengindera secara nyata bagaimana tindak tanduk penguasa mencitrakan mereka tak ubahnya penjual kepada pembeli. Korupsi yang makin subur, dijawab dengan pelemahan lembaga anti rasuah. Bahkan sepak terjang para menteri di daftar atas tersangka korupsi menambah deret hitam kinerja penguasa negeri. 

Kondisi pailit yang kita hadapi tak lantas menarik empati yang selayaknya di miliki pejabat negeri. Justru yang terjadi adalah sebaliknya, para pejabat beramai ramai meminta simpati demi hausnya nafsu kekuasaan. 

Oleh karena itu saatnya kita sebagai umat islam melepaskan kepercayaan tehadap demokrasi yang hanya mencetak para politisi pengabdi kursi. Bagi mereka tak ada lawan dan musuh abadi, yang ada hanya kepentingan abadi. Dari sinilah Allah telah memperingatkan kepada hambanya agar tak terlena dengan tipu daya dunia. 

Saatnya umat bangkit dan berjuang bersama dalam rangka menerapkan islam kaffah di semua lini kehidupan. Inilah sistem  paripurna yang tak mampu memberikan janji tanpa bukti. Inilah sistem yang universal yang darinya telah lahir generasi emas pemimpin sejarah peradaban. 

Wallahu alam bishshowab.
banner zoom