Israel Didukung Adidaya, Palestina Dibela Setengah Hati

Oleh: Siti Sulistiyani

Serangan udara Israel di jalur gaza menghancurkan beberapa rumah dan menewaskan puluhan warga Palestina di jalur gaza. Ada 42 orang tewas termasuk diantaranya 10 anak-anak. Serangan tersebut dilakukan pada minggu 16/5/2021. Serangan seperti ini bukan pertama kalinya, bahkan sudah seringkali terjadi sejak keberadaan Israel di Palestina. Bukan tidak di ketahui bahkan menjadi berita yang terus menerus disiarkan. Namun tidak ada perlindumgan atas penduduk Palestina yang sudah sekian lama menderita karena Israel penjajah. Mana PBB? mana amerika yang selama ini menjadi polisi dunia, mana penguasa penguasa muslim yang seseungguhnya punya tentara yang jumlahnya tidak sedikit. Semua terdiam seakan rela atas tindakan yang dilakukan oleh Israel laknatullah.


Sikap Indonesia sendiri hanya mengecam keras tindakan Israel tersebut. Sebagaimana yang dilansir (detik news 16 mei 2021). Retno (menlu indonesia), menegaskan Indonesia mengecam keras tindakan Israel tersebut. Terlebih lagi serangan tersebut dilakukan di bulan ramadhan dan idul fitri. Sikap “mengecam”sesungguhnya adalah sikap abu abu yang tidak jelas maknanya.  Karena terbukti sejak Israel menduduki Palestina kecaman-kecaman semacam ini tidak pernah menghentikan tindakan Israel di Palestina. Dalam pertemuan OKI retno menyampaikan langkah kunci penyelesaian Israel ini adalah pertama memastikan adanya persatuan Negara OKI. Langkah kedua adalah OKI harus mengupayakan gencatan senjata dan yang ketiga adalah membantu kemerdekaan bangsa Palestina.


Seakan apa yang disampaikan menlu Indonesia memberi solusi atas persoalan Palestiana. Namun sejak dulu seakan solusi tersebut hanya retorika sesaat, karena bentuk persatuan yang bagaimana  yang akan memberikan solusi jika saat ini masih berpijak pada kepentingan “nation state” yang selama ini ada. OKI sendiri saat ini Nampak tidak punya taring saat problem problem di dunia Islam terjadi. Lihat kasus di uighur, rohingnya, kasmir dll. OKI tidak lebih hanya sekedar menjaga marwah dari masing masing Negara. Yang dibutuhkan Palestina saat ini juga bukan hanya gencatan senjata yang kadang justru perundingan-perundingan yang dilakukan justru semakin mengokohkan kedudukan Israel dan menjadikan wilayah yang semakin luas di Palestina. Mestinya jika benar ingin memerdekakan Palestina dari Israel adalah mengusir penjajah Israel dari Palestina. Sehingga jika hanya dengan OKI dengan melihat sepak terjamgnya selama ini, keraguan atas terselesaikannya kasus penjajahan di Palestina akan ragu untuk bisa terselesaikan.


Apalagi jika kita melihat kedudukan Israel di tanah Palestina justru di bidani dan di pelihara oleh Negara adidaya. Secara faktual Israel itu tidaklah besar. Mungkin saat ini jika kita bandingkan wilayah di Indonesia luasnya mungkin hanya sebesar Madura. Dan jumlah penduduknya pun juga hanya sekitar 10 jt jiwa. Namun karena keberadaan Israel sangat di dukung keberadaannya oleh Negara adidaya saat ini, maka inilah yang menjadi persoalan. Dalam sebuah sumber (warta ekonomi.co,id /2020) menyebutkan bahwa sokongan senjata gratis dari AS disebut sebagai pensuplay senjata gratis bagi Israel. Program pemberian senjata dan amunisi tersebut sebagai bagian dari program excess defense articale (EDA) yang membuat israel secara gratis menerima suplay senjata dari AS. Sejak tahun 1976 menurut william D hartung dan frida berrigan dari world policy institute, Israel telah menjadi penerima terbesar bantuan dari AS tiap tahun. Bantuan AS untuk Israel dalam setengah abad mencapai 81,3 miliar dolar AS.


Sehingga bisa kita katakana  induk semang dari Israel yang sesugguhnya adalah AS. Sehingga mestinya ini membuka mata kita bahwa persoalan Palestina bukan hanya persoalan boikot produk atau masalah kecama mengecam. Namun karena eksistensi Israel ini justru di dukung dan ada karena juga dukungan Negara adidaya saat ini, mestinya kita akan berfikir bahwa tanpa adanya Negara adidaya yang mampu menanandingi Negara saat ini maka persoalan Palestina tidak akan pernah terselesaikan.


Maka mestinya kaum muslimin berkonsentarasi bagaimana mewujudkan Negara adidaya yang mampu menandingi Negara adidaya saat ini. Potensi Islam dan kaum muslimin sesungguhnya mampu untuk itu dengan potensi wilayah yang luas dengan segala potensi sumber daya alam yang melimpah, sumber daya manusia yang mencai 1,8 miliar, serta potensi mabda Islam yang sesuai dengan fitrah manusia yang menyatukannya. Sembari membangun pemikiran umat agar umat tersadar akan problem yang sesungguhnya, maka mestinya penguasa penguasa muslim dan dengan tentara kaum muslimin mestinya tergerak untuk bersama sama membebaskan bumi Palestina.

Waallahu a’lam .

banner zoom