Indo Pasifik Terusik, Adakah Peran Islam?

Oleh : Ummu Hanan (Aktivis Muslimah)

Geliat kebangkitan China kembali membuka kekhawatiran lawan politiknya, Amerika Serikat. Melalui Presiden Joe Biden, Amerika Serikat (AS) dikabarkan akan membangun aliansi guna menangkal potensi kebangkitan China. Amerika serikat menjalin kerjasama dengan beberapa negara yang menjadi sekutunya, yakni Australia, India, dan Jepang. 

Pertemuan antar empat negara ini diselenggarakan secara virtual dan menjadi Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) pertama pada masa pemerintahan Joe Biden (liputan6.com,12/3/2021). KTT ini disebut pula dengan “Quad” karena dihadiri oleh empat negara peserta.
KTT Quad yang diinisasi oleh AS memfokuskan pembahasan pada potensi penguasaan China atas wilayah Indo Pasifik. Meskipun demikian Pemerintah AS enggan menyebut pertemuan Quad tersebut sebagai upaya merespon perkembangan pengaruh China. Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Ned Price menyatakan bahwa Quad tidak fokus pada satu masalah apa pun termasuk China (liputan6.com,12/3/2021). AS menyangka adanya rivalitas antara negara tersebut dan China dengan menyebut keduanya memiliki kepentingan yang sama dalam membela nilai-nilai universal, kepentingan ekonomi dan hubungan yang dalam antar warga mereka.

Perebutan pengaruh antara AS dan China atas kawasan Indo Pasifik adalah fakta yang tak terelakkan. AS menempatkan China sebagai penantang utama AS serta memberikan gertakan melalui potensi dukungan agresi melawan China. Para sekutu AS menjadi pilar kekuatan dalam menjaga kepentingan AS di kawasan Indo Pasifik. AS menyerang kredibilitas China melaui isu pelanggaran hak asasi manusia seperti yang terjadi pada minoritas Muslim Uighur (liputan6.com,12/3/2021). Selain itu AS juga menyoroti seputar pembatasan dalam pemilihan umum di Hong Kong oleh Pemerintah China.

Di sisi lain, China menilai keberadaan KTT Quad sebagai sebuah kekuatan yang sengaja dibangun AS untuk menghadapi China. Disebutkan dalam surat kabar milik pemerintah China, Global Times, eksistensi negara-negara yang berada dalam Quad adalah bagian dari tekanan AS dan kepentingan masing-masing mereka terhadap China (liputan6.com,12/3/2021). Adapun Australia sebagai sekutu AS memandang penting bagi China untuk memperhitungkan pertemuan Quad ini. Melalui Perdana Menteri Scott Morrison Australia mengungkapkan tujuan KTT tersebut untuk mewujudkan jangkar perdamaian dan stailitas di kawasan Indo Pasifik (dw.com,12/3/2021).

Saling tarik kepentingan di kawasan Indo Pasifik adalah sebuah keniscayaan. Kondisi ini merujuk pada posisi kawasan Indo Pasifik yang sangat strategis. Wilayah Indo Pasifik meliputi wilayah laut antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia yang berbatasan dengan Jepang, India dan Australia. Nilai strategis kawasan Indo Pasifik terletak pada sisi geopolitik yang muncul dari kebutuhan akan jalur laut dalam rangka mobilitas transaksi sumber daya alam dan perdagangan antara negara-negara di dunia. Pada posisi inilah letak Indo Pasifik menjadi sangat krusial bagi keberlangsungan hidup masyarakat dunia.
Siapapun yang menguasai Indo Pasifik kelak dapat menguasai kekuatan politik dan ekonomi global. Karena itu tidak berlebihan jika dua negara adi daya saat ini tengah bertarung pengaruh di dalamnya. China menawarkan proyek ekonomi yang fantastis bernama Belt and Road Initiative atau BRI. Demi proyek ini konon Pemerintah China menggelontorkan dana yang sangat besar yakni sekitar 90 miliar Dollar AS atau setara dengan Rp 1.200 triliun (tagar.id,18/9/2019). AS pun tak mau kalah dengan mengaruskan strateginya melalui program ASEAN Outlook on the Indo-Pacific yang berisi 4 bidang kerjasama kemitraan meliputi maritime, konektivitas, pembangunan berkelanjutan dan ekonomi.

Kawasan Indo Pasifik sedang menjadi pertaruhan kepentingan negara beserta ideologI mereka. AS sangat jelas mengampu ideologi kapitalisme yang akan menjadikan kawasan Indo Pasifik sebagai titik strategis kebutuhan kapital mereka. Bagaimana halnya dengan China? Setali tiga uang dengan AS, China juga merupakan negara pengemban ideologi dengan kepentingan mengokohkan hegemoni atas kawasan yang mereka kuasai. Semua menjadikan orientasi penguasaan atas politik dan ekonomi demi kepentingan bangsa dan sekutu mereka saja. Adapun kondisi negara pengikut hanya menjadi pelengkap derita dengan mengikuti kebijakan tuannya.
Indonesia tak luput menjadi bagian dari tarik menarik kepentingan antara AS dan China. Indonesia, meski mengaku menganut politik luar negeri yang bebas aktif serta tidak memihak kepada blok tertentu, namun nyata mengekor pada arus kebijakan dua negara ini. Padahal Indonesia adalah negeri Muslim dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah dengan potensi besar untuk menunjukkan ketegasan sikap. Terlebih lagi, dengan potensi jumlah penduduk mayoritas Muslim yang sangat besar, Indonesia mampu bersikap tegas dengan panduan ideologi Islam. Namun sayang hal ini tidak muncul sebagai sebuah kemandirian sikap bangsa Indonesia dengan aqidah Islam nya.

Penguasaan AS maupun China di kawasan Indo Pasifik tidak akan membawa perbaikan pada kawasan tersebut. Bagaimana tidak, kedua negara tersebut hanya ingin mengambil keuntungan demi terwujudnya kepentingan mereka saja, tanpa mengindahkan nasib masyarakat dunia yang lainnya. Keduanya hanya melanggengkan neo imperialisme. 

Sangat berbeda dengan bagaimana ketika Ideologi Islam menyikapi futuhat atau penaklukan atas sebuah wilayah. Syariat Islam yang diemban oleh negara menjadikan pengaturan interaksi ke dalam dan luar negeri berbasis pada aqidah Islam. Ideologi Islam akan mewujudkan mashlahat bagi seluruh manusia dan melahirkan ketentraman hidup.

Membahasa seputar pertaruhan pengaruh di kawasan Indo Pasifik hakikatnya adalah pertarungan antara ideologi. Selama pemain dalam adu kuat pengaruh ini mengemban ideologi sekuler maka tidak akan ada perubahan signifikan yang dapat diharapkan oleh masyarakat global. Karenanya ideologi Islam berperan besar dalam memberi perubahan kawasan Indo Pasifik bahkan dunia secara keseluruhan dengan penerapan syariat Islam yang diampu oleh negara. 

Peran ideologi Islam tidak saja penting namun sangat dibutuhkan oleh umat manusia dalam rangka menghapuskan penindasan yang selama ini telah ditunjukkan oleh idelogi kapitalisme sekuler. Saatnya ideologi Islam memimpin dengan syariat Islam kaffah.
banner zoom