Bubar? Dakwah Must Go on

Oleh : Ummu Tsabita Nur

Penamabda.com - Akhirnya terjadi lagi. Pemerintah melalui Menkopulhukam, Mahfud MD secara resmi melarang segala aktivitas serta penggunaan atribut FPI.

Pelarangan ini tertuang dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) 6 menteri yaitu Mendagri, Menkumham, Menkominfo, Jaksa Agung, Kapolri, Kepala BNPT.  

Mengejutkan ? Iya. Karena ujug-ujug tanpa proses di pengadilan. Ada apa? Negara makin ke sini makin dzolim. Otoriter banget, kalau kata aktifis Demokrasi.

Memang sempat jadi polemik soal perpanjangan SKT FPI di Kementerian Dalam Negeri beberapa waktu lalu. Padahal Kementerian Agama telah memberi rekomendasi perpanjangan. Karena FPI mau berikrar setia kepada Pancasila dan NKRI lewat surat pernyataan di atas meterai.

Meski telah mendapatkan surat rekomendasi dari Kemenag, tidak membuat SKT FPI serta-merta diperpanjang izinnya oleh Kemendagri. Instansi ini merasa masih perlu melakukan kajian-kajian yang mendalam, seperti Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) FPI, termasuk adanya kalimat Khilafah Islamiah di dalamnya (nusantaranews.com).

Di sisi lain,  kalau kita bicara persfektif Islam, pembullyan, narasi negatif, bahkan pembunuhan aktifis itu niscaya. Ketika  pejuang Islam sudah secara terang- terangan bicara tentang kerusakan sistem dan kebijakan rezim. Pasti yang tersindir dan tersudut adalah penguasa saat itu.

Wajar kemudian sebagai bentuk apologi mereka mengklarifikasi. Sambil sekalian menjatuhkan pihak lawan.  Kalau perlu gunakan semua fasilitas dan aparat untuk mendukung segala "kebenaran" versi penguasa. 

Seperti ujaran yang sempat viral. "Kalau pemerintah bilang hoax.. ya hoax. Jangan membantah!"

Jadi kali ini, kalau rezim membubarkan, sudah jangan membantah !!

Rasulullah saw yang mulia pun pernah mengalami kedzoliman, sebagai konsekuensi dakwah menyerang rezim dan sistemnya yang bobrok.

Itu semua terjadi tentu bukan karena Beliau mengajak "sekedar" kepada kebaikan (ma'ruf).   Tapi justru setelah Rasul saw menyerang pemikiran dan segala tradisi jahiliyah.

Lihat bagaimana Nabi berusaha memutuskan ikatan antara pemimpin Makkah dan orang-orang biasa. Beliau menyerang berhala pujaan  mereka, dengan menyampaikan :

"Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah adalah umpan Jahanam, kamu akan masuk ke dalamnya." (TQS. Al Anbiyaa' : 98).

Nabi pun menyerang kebiasaan mereka mengubur bayi perempuan hidup-hidup. 

"Apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh?" (TQS. At Takwir : 8-9)

Peristiwa lain, yang diriwayatkan oleh at-Thabrani ialah ketika seorang delegasi dari Quraisy mendatangi Nabi saw untuk mencoba negosiasi dan  kompromi. Dengan tawaran sejumlah harta, juga wanita.  Syaratnya, berhenti menghina tuhan- tuhan mereka.

Mereka berkata, "  Jika engkau tidak menerima tawaran ini, maka kami tawarkan solusi yang menguntungkan kita semua. "

"Apa itu ?" tanya Nabi saw.  "Engkau  menyembah tuhan kami selama setahun dan kami menyembah Tuhanmu selama setahun. "

Rasulullah menyuruh mereka menunggu, sementra Beliau sendiri menunggu wahyu terkait tawaran itu. Allah swt kemudian menurunkan surat al Kaafiruun :

"Katakanlah, Hai orang-orang kafir, aku tak kan menyembah apa yang kamu sembah, dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Aku tak penah jadi penyembah apa yng kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku." (TQS. Al Kaafiruun : 1-6)

(Iyad Hilal dkk  : 2009).

Rezim jahiliyah makin panas juga kalap, apalagi  Rasul saw tak bisa diajak kompromi. Mungkin bagi penganut jalan tengah dengan masuk ke dalam sistem bisa merubah dari dalam. Namun sungguh bukan seperti itu yang dicontohkan kekasih Allah.  Justru Beliau tetap tegar menyeru di luar sistem, meski segala penderitaan ditimpakan oleh penganut paham jahiliyah.

Akhirnya,  mereka pikir dengan memboikot Nabi saw atau bahkan membunuhnya akan menuntaskan masalah? Mereka salah!  Justru hal tersebut makin menegaskan  jati diri mereka sebagai kekasih syetan. Yang setia mengikuti kesesatan dan semua tipuannya. 

Apakah ada dalam sejarah kemungkaran bisa mengalahkan kebenaran ? Justru, kebenaran itu makin terang cahayanya. Buktinya Rasulullah saw berhasil menegakkan Negara Islam pertama di Madinah. Yang menjadikan kalimat tauhid sebagai asasnya, dan syariat Islam sebagai aturan bernegara dan urusan publik.

Sedangkan kafir Quraisy justru luluh lantak ketika Fathul Makkah. Tidakkah rezim sekarang mengambil pelajaran?

Dakwah must go on

Berdakwah secara pemikiran dengan menyerang sistem rusak harus terus berlangsung. Karena uswah dan qudwah para pejuang adalah Nabi Muhammad saw, dan para shahabatnya tak pernah mundur seinchi pun dari dakwah.

Mereka konsisten melawan sistem dan mengungkap kebobrokan hukum dan kebiasaan jahil bangsa mereka pada waktu itu. Kemudian Rasulullah saw, dan para pengikutnya mengajukan Islam sebagai solusi paripurna.

Karena itu dakwah ibarat dua mata pedang : merobohkan konsep dan sistem yang rusak, dengan menunjukkan secara jelas kesesatannya dan menyelisihi  fitrah manusia. Di waktu yang sama Beliau menjelaskan bagaimana keimanan yang lurus (hanif) dan bagaimana aturan Islam menjawab segala kebutuhan manusia. Tanpa merusak fitrahnya sebagai manusia.

Inilah teladan abadi bagi para pejuang Islam kekinian. Untuk  ormas dan jamaah dakwah yang telah diberangus,  cukuplah Allah sebagai penolong. Tetap tegakkan kepala menyerukan Islam kaffah. Jangan pernah takut dengan ancaman, bahkan mati sekali pun jika dalam kebenaran maka pahalanya syurga. Insyaa Allah.

Umat sedang bergolak, mereka benci kezoliman. Mereka perlu sistem alternatif. Maka jadilah pemberi solusi terbaik, Islam dan sistemnya. Jangan ragu apalagi ditutupi. Agar umat segera siap, bersama menegakkan sistem Islam, khilafah. 

Bukan malah tertipu dengan nilai universal dan mengaburkan nilai Islam.  Apalagi sampai membebek para penjajah , seperti mengambil Demokrasi , Kapitalisme, Komunisme, Nasionalisme atau isme-isme racun lainnya.

Maka tegaklah dalam kebenaran, meskipun harus kehilangan harta bahkan  jiwa. Cukuplah Sabda Rasul saw menguatkan tekad perjuangan : 

"Pemimpin para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthallib dan laki-laki yang berdiri di hadapan penguasa yang zalim lalu ia memerintah penguasa itu (dengan kemakrufan) dan melarangnya (dari kemungkaran), kemudian penguasa itu membunuh dirinya" (HR al-Hakim dan ath-Thabarani).

Maasya Allah []

banner zoom