Kala Alam Menjadi Korban Ketamakan

Oleh: Intan H.A (Pegiat Literasi)

Penamabda.com - Meski penolakan terus terjadi sebagai sikap tidak setuju terhadap pembangunan tempat wisata Jurrasic park di pulau Komodo, NTT. Luhut Binsar Pandjaitan, selaku menteri koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi menyatakan akan tetap mempromosikan pariwisata komodo di Taman Nasional Komodo. 

Seperti dilansir dari Antaranews.com,  pada tanggal 29 November 2020, pihaknya meyakinkan bahwa pembangunan yang dilakukan di destinasi pariwisata tersebut dilakukan untuk menjaga keberlangsungan Komodo. 

"Komodo ini satu-satunya di dunia, jadi harus dijual," ujar Luhut dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) percepatan lima destinasi pariwisata super prioritas di Jakarta, jum'at 27 November 2020 lalu.

Pemerintah begitu berhasrat untuk tetap mempromosikan pariwisata Komodo di Taman Nasional Komodo, dengan dalih menambah pendapatan negara melalui tempat wisata. Sistem  kapitalisme yang menjadikan manusia sebagai individu materialistik, memandang apapun yang berpotensi menghasilkan materi akan dikomersialkan, meski harus mengeksploitasi alam. 

Ide liberalisme dalam sistem kapitalisme menyingkirkan halal-haram dan baik-buruk yang akan ditimbulkan. Sehingga, manusia bisa melakukan apa saja yang ia inginkan. Yang penting hawa nafsunya terpenuhi, tidak peduli siapa dan apa yang menjadi korbannya.

Hewan komodo adalah salah satu hewan langka yang dilindungi oleh dunia Internasional, yang berada dikepulauan Nusa Tenggara Timur. Pulau komodo diakui sebagai salah satu dari tujuh keajaiban negara. Karena keindahan yang dimilikinya menarik investor asing untuk menguasainya. 

Islam Memandang Lahan Konservasi

Dalam Islam, kawasan konservasi disebut dengan Hima. Hima merupakan zona yang tidak boleh disentuh atau digunakan untuk kepentingan pribadi. Tempat tersebut digunakan sebagai konservasi alam, baik ditinggali oleh hewan liar, maupun ditumbuhi oleh pepohonan. 

Di zaman Rasulullah SAW, terdapat beberapa hima. Antara lain, hima ar-Rabadzah serta hima an-Naqi. Hima an-Naqi terletak di dekat Madinah sebagai tempat kavaleri. Di tempat itulah umat Islam menggembalakan kuda-kudanya. Di tempat ini pula Rasulullah melarang berburu binatang pada radius empat mil di sekitar kota Madinah. 

Selain itu, masyarakat dilarang merusak tanaman dalam radius 12 mil disekitar kota tersebut. Dan hima merupakan wilayah konservasi untuk menjaga keseimbangan alam. Sehingga tidak dibenarkan untuk mengeksploitasi wilayah ini. Sebab jika hal tersebut dipaksakan, akan merusak tatanan kehidupan alam.

Solusi Tepat Bagi Pendapatan Negara

Islam memberikan solusi yang tepat bagi negara dalam memenuhi pendapatannya. Kegiatan ekonomi dalam konteks negara, merupakan salah satu wujud pengaturan dalam pelayanan urusan rakyat. Inilah tugas umum negara. Negara menerapkan hukum-hukum Allah sebagai koridor kegiatan ekonomi dan bisnis dalam rangka mencegah aktivitas ekonomi yang zalim, eksploitatif, dan menyengsarakan rakyat maupun makhluk lainnya.

Tidak dibenarkan pula di dalam Islam bahwa negara mengeksploitasi alam untuk memenuhi kas negara. Sebab, Islam memiliki mekanismenya yang jelas  dalam mengatur urusan ini. 

Islam memerintahkan kepala negara untuk memaksimalkan semua pos-pos pendapatan yang halal sebagaimana ditetapkan oleh aturan Islam. Baik dari pengelolaan kekayaan milik umat, seperti hasil tambang, minyak bumi dan lainnya. Pengelolaannya dilakukan secara mandiri tanpa melibatkan investasi dari pihak luar. Dan pos-pos pendapatan negara ini akan melimpah ruah, apabila dikelola dengan baik. 

Inilah konsep yang diberikan oleh Islam  sebagai solusi dalam menjaga lingkungan dan mensejahterakan rakyat. Kehidupan yang tertata rapi, nyaman, aman, dan sejahtera akan terwujud dalam penerapan sistem Islam di bawah kepemimpinan Khilafah. Hanya sistem inilah yang telah terbukti selama berabad-abad lamanya mampu menjaga tatanan hidup dan menyejahterakan manusia. Wallahu'alam.[]


banner zoom