No Class, Corona Bebas

Oleh : Zenia Rumaisya
(Intitut Kajian Politik dan Perempuan)

Penamabda.com - Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengatakan, hingga saat ini masih banyak masyarakat yang tidak mempercayai virus corona. Menurutnya, sebagian besar masyarakat di negara majority low class menganggap COVID-19 adalah hoaks atau sebuah kebohongan. 

"Di negara yang majority low class, yang tidak terdidik, kurang mampu, jangankan meminta memakai masker, bahkan ada dikatakan COVID hoaks, konspirasi, dan lain-lain. Ini tidak gampang," kata Tito dalam webinar 'Strategi Menurunkan COVID-19, Menaikkan Ekonomi', Minggu (20/9). 

Tito mengatakan hal itu justru berbanding terbalik jika dibandingkan dengan situasi di negara majority middle class seperti Singapura. Menurutnya, masyarakat Singapura sudah paham dengan bahaya virus corona sehingga penularan di sana dapat ditekan.  (KumparanNews. com, 20/9/2020)

Tidak tepat rasanya menggunakan indikator keberhasilan suatu negara dalam menangani wabah diukur dari,  apakah negara tersebut Majority Low Class atau Majority Middle Class. Semua tergantung kepada upaya dan kebijakan pemerintah  negaranya, sejauh mana edukasi yang diberikan kepada masyarakat dan dukungan terhadap penyebaran covid-19.

Jika ada  dalam suatu masyarakat  mengatakan covid-19 itu adalah hoax dan  konspirasi. Bisa jadi ada yang salah, seperti  ada suatu pemimpin negeri menyatakan  covid-19 bukan untuk dimusuhi tapi menyarankan agar masyarakatnya  berdamai dengan virus. Yang namanya berdamai, ibarat perang rakyat tidak perlu angkat senjata. Jika berdamai dengan virus tidak perlu lagi pakai masker, cuci tangan dan jaga jarak.  Bertahanlah jika kuat, kalau tidak bersiaplah dengan kematian.

Kemudian terkait dengan  sistem politik . Sebanarnya kebijakan sistem politik didunia saat ini belum ada satu pun yang bisa dikatakan berhasil untuk menangani covid.  Seperti di negara-negara yang menggunakan  sistem otoriter kerajaan dan  oligarki,  apalagi dalam sistem demokrasi. 

Sebab, mereka hanya mengandalkan akal  tanpa hati nurani ,  agama juga mereka abaikan. Bagi mereka yang terpenting adalah ekonomi bisa terselamatkan. Wajar jika akhirnya mareka masih hitung-hitungan untuk melakukan lockdown dan mengabaikan nyawa yang makin hari banyak berjatuhan. Mereka lebih memikirkan bagaimana perekonomian bisa bangkit agar tidak terjadi resesi dan depresi. Pola yang mereka lakukan juga sama, dengan memakai sistem ekonomi kapitalis yang tidak jauh dengan ribawi. 

Dalam Islam negara tidak perlu berkelas, penting berkualitas dan loyalitas. Berkualiatas dalam arti setiap yang kita dilakukan semata-mata karena Allah SWT, maka lakukanlah sesuai syariat yang sudah ditetapkan. Bukan dengan cara-cara batil, apalagi melakukan kompromi terhadap ketentuan Sang Khaliq.

Loyalitas terhadap ketentuan syara dengan  mengabaikan hukum-hukum buatan manusia yang lemah dan jauh dari rasa keadilan. Loyalitas mustilah diwujudkan dengan menerapkan Islam secara kaffah dalam instutusi negara.  Dengan demikian pertolongan Allah SWT  akan semakin dekat, tak mustahil corona pun bebas kembali ke asalnya.

Wallahualam bis-showab
banner zoom