Menjadi Muslimah Kaffah

Oleh : Aya Ummu Najwa

Penamabda.com - Kaffah secara bahasa mempunyai arti total. Makna tersebut memberikan gambaran bahwa muslim atau muslimah yang kaffah, adalah muslim yang total, yang tidak setengah-tengah atau menjadi muslim yang sejati bukan muslim jadi-jadian. 

Muslimah kaffah adalah Muslimah yang menerapkan Islam di segala aspek kehidupannya. Yang artinya, seorang Muslimah belum bisa disebut Muslimah yang kaffah jika di setiap aspek kehidupannya belum menjadikan Islam sebagai standar. Yang tidak mencukupkan diri hanya dengan rangkaian ibadah ritual semata, tetapi ia menjalankan ajaran Islam secara total, baik dalam ranah individunya dengan Tuhannya, dengan sesamanya, maupun dengan dirinya sendiri.

Sebagai contoh, sering dalam keseharian terlihat seorang Muslimah yang sempurna dalam menutup auratnya, rajin menghadiri majlis ta'lim, rajin berpuasa sunnah, rajin tilawah, berdzikir, akan tetapi tingkah lakunya terhadap sesamanya kurang baik, sering menggunjing, tidak ramah dan cenderung judes, apalagi jika berhadapan dengan sesama muslimah yang bukan kelompoknya, atau yang belum menutup aurat dengan sempurna sepertinya,ia akan memandang mereka dengan sinis, bahkan sekedar menjawab salamnya pun ia enggan.

Atau, sering dijumpai dalam keseharian, ada orang-orang yang dianggap masyarakat sebagai tokoh dan panutan dalam agama, ternyata masih menganggap enteng dosa riba, mengganggu orang lain, menyepelekan hutang, dan sering ingkar janji. Banyak kaum muslim yang masih sibuk dan fokus dengan dirinya sendiri dan kelompoknya, tidak peduli terhadap kondisi umat, apatis terhadap perkembangan dakwah Islam, atau bahkan menentang perjuangan kebangkitan Islam, dan lebih memilih sibuk dengan amalan fardhiyah dan zona aman.

Sejatinya, memakai jilbab dan kerudung, ritual ibadah, seperti sholat, puasa, zikir, dan ibadah fardhiyah yang lainnya, adalah merupakan simbol dari nilai-nilai Islam. menutup aurat dengan jilbab dan kerudung adalah simbol kemuliaan seorang muslimah, dengannya ia menjaga dirinya dan lingkungannya dari kemaksiatan. Sholat berjamaah menjadi simbol dari persatuan dan kebersamaan umat, puasa menjadi simbol dari empati sesama muslim, maka, alangkah ruginya jika seorang Muslimah hanya bertumpu pada simbol-simbol tanpa bisa menggapai nilai-nilai di balik simbol tersebut. Alangkah tidak berartinya ritual-ritual yang dilakukan setiap hari jika ia tidak mampu mengamalkan nilai-nilai di balik ritual itu.

Islam sendiri adalah sebuah sistem kehidupan, ia bukan hanya sebatas agama ritual semata. Di samping memiliki sejumlah konsepsi (fikrah), Islam juga dilengkapi dengan metode operasional (thariqah) untuk menerapkannya, menyebarluaskannya, dan mempertahankan fikrah tersebut. Thariqah untuk menerapkan Islam adalah dengan sistem (Khilafah), sedangkan thariqah untuk menyebarluaskan Islam adalah dengan dakwah dan jihad, dan thariqah untuk mempertahankan fikrah Islam adalah dengan uqubat (menerapkan sanksi). Maka dari itu, selain sebagai agama, Islam juga merupakan sebuah ideologi atau mabda, yaitu aqidah rasional yang memancarkan aturan.

 ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ 

Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.. (Surat Al-Ma'idah, Ayat 3)

Tidak ada masalah yang luput kecuali Islam punya solusinya. Syariat Islam yang sempurna dan paripurna, telah mengatur urusan manusia baik dengan Rabb-nya, yang meliputi urusan ibadah, baik itu shalat, puasa, zakat, haji, dzikir, membaca Alquran dan sebagainya. Selain itu, Islam juga mengatur urusan manusia dengan dirinya sendiri, mencakup tentang makanan dan pakaian. Mengapa dia harus makan makanan yang halal lagi baik, juga bagaimana ia harus menutup auratnya. Tak kalah penting, adalah Islam juga mengatur hubungan manusia dengan sesamanya, ini termasuk muamalah, ekonomi, pendidikan, pergaulan, sosial budaya, pidana, pemerintahan, dan sebagainya.

وَتَمَّتۡ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدۡقٗا وَعَدۡلٗاۚ لَّا مُبَدِّلَ لِكَلِمَٰتِهِۦۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ

Dan telah sempurna firman Tuhanmu (Al-Qur'an) dengan benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah firman-Nya. Dan Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (Surat Al-An'am, Ayat 115)

Ideologi Islam, yang meyakini bahwa sebelum kehidupan ini ada pencipta yaitu Allah, dan setelah kehidupan dunia ini berakhir pun, semua akan kembali kepada Allah, menjadi pemikiran menyeluruh bagi seorang muslim, pemikiran ini akan membentuk pemikiran dan pemahamannya tentang kehidupan dunia ini, dan pemahamannya yang akan membentuk tingkah lakunya. Pemikiran ini akan menjadi solusinya dalam menjawab pertanyaan dalam dirinya, darimana dia berasal, mau ke mana setelah ia mati, dan untuk apa ia hidup di dunia. 

Maka, ketika ia menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan Islam sebagai ideologi, maka bisa dipastikan ia akan menjadi manusia yang ideologis, yang telah terinstal dalam dirinya Mabda Islam, ia akan bertingkah laku sesuai dengan syariat Islam, ia akan menyikapi setiap masalah dengan Islam, ia akan memperlakukan dirinya dan orang lain sesuai standar Islam, menjalani kehidupannya dengan aturan Islam, dan ingin Islam bisa diterapkan di setiap aspek kehidupannya, bukan hanya ranah individu, tapi juga dalam masyarakat dan negara.

Maka seorang muslimah yang kaffah, ia akan menutup auratnya dengan sempurna sesuai standar Al-Qur'an.

 وَلۡيَضۡرِبۡنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّۖ 

..Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya.. (Surat An-Nur, Ayat 31)

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ قُل لِّأَزۡوَٰجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ يُدۡنِينَ عَلَيۡهِنَّ مِن جَلَٰبِيبِهِنَّۚ ذَٰلِكَ أَدۡنَىٰٓ أَن يُعۡرَفۡنَ فَلَا يُؤۡذَيۡنَۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورٗا رَّحِيمٗا

Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Surat Al-Ahzab, Ayat 59)

Ia akan memperlakukan saudaranya sesuai dengan standar Islam, baik yang satu negara dengannya ataupun beda organisasi, apalagi hanya berbeda pandangan fiqih, ia akan berkasih sayang dengan sesama muslim tanpa melihat latar belakang mereka.

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌفَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Alloh, supaya kamu mendapat rahmat” (QS. Al Hujurot: 10

Ia akan mengimani kandungan Al-Qur'an tanpa memilah-milah, mana yang disukainya ia ambil, mana yang menurutnya berat maka akan ia tinggalkan.

 أَفَتُؤۡمِنُونَ بِبَعۡضِ ٱلۡكِتَٰبِ وَتَكۡفُرُونَ بِبَعۡضٖۚ فَمَا جَزَآءُ مَن يَفۡعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمۡ إِلَّا خِزۡيٞ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ وَيَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰٓ أَشَدِّ ٱلۡعَذَابِۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعۡمَلُونَ

Apakah kamu beriman kepada sebagian Kitab (Taurat) dan ingkar kepada sebagian (yang lain)? Maka tidak ada balasan (yang pantas) bagi orang yang berbuat demikian di antara kamu selain kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari Kiamat mereka dikembalikan kepada azab yang paling berat. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.(Surat Al-Baqarah, Ayat 85)

Ia akan mendakwahkan ajaran Islam secara total, sempurna dan menyeluruh tanpa memilih dan menimbang resiko, apakah  disukai oleh masyarakat ataukah tidak, apakah aman tau tidak.

وَلۡتَكُن مِّنكُمۡ أُمَّةٞ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَيۡرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ

Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Surat Ali 'Imran, Ayat 104)

Ia akan masuk ke dalam Islam secara sempurna dan totalitas, ia akan mengimani ayat jilbab sebagaimana ia mengimani ayat shalat, ia akan mengimani ayat riba sebagaimana ia mengimani ayat puasa, ia mengimani ayat jihad sebagaimana ia mengimani ayat syurga neraka, ia mengimani ayat kewajiban dakwah sebagaimana ia mengimani ayat wajibnya menerapkan hukum Allah di muka bumi secara total.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱدۡخُلُواْ فِي ٱلسِّلۡمِ كَآفَّةٗ وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٞ

Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu. (Surat Al-Baqarah, Ayat 208)

Menjadi muslim yang kaffah tentunya butuh proses, namun proses itu haruslah senantiasa bergerak kepada kemajuan bukan jalan di tempat, senantiasa tawadhu dalam menerima nasihat. Karena manusia tak ada yang sempurna, maka evaluasi tentu senantiasa dibutuhkan. Untuk menuju kaffah, seorang muslim harus terus mengkaji, menuntut ilmu, melatih pemikiran yang kaffah, begitupun berusaha untuk mengubah perilakunya sesuai pemikiran yang islami, sembari terus mendakwahkan Islam kaffah, mengopinikan Islam sebagai solusi dari segala persoalan kehidupan.

Wallahu a'lam
banner zoom