TEKAD BAJA

Oleh : Aya Ummu Najwa


وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسۡتَخۡلِفَنَّهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ كَمَا ٱسۡتَخۡلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمۡ دِينَهُمُ ٱلَّذِي ٱرۡتَضَىٰ لَهُمۡ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعۡدِ خَوۡفِهِمۡ أَمۡنٗاۚ يَعۡبُدُونَنِي لَا يُشۡرِكُونَ بِي شَيۡـٔٗاۚ وَمَن كَفَرَ بَعۡدَ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ

Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh, akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh, Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridhai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun. Tetapi barangsiapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS. An-Nur: 55). 

Islam adalah agama yang sempurna. Sudah menjadi janji Allah Islam akan senantiasa menang. Islam akan selalu berdiri kokoh bersama orang-orang yang kuat dalam menanggung berbagai penderitaan, bukan bersama orang-orang murahan, yang terbiasa hidup enak lagi bergelimang kemewahan. Islam yang agung ini akan selalu tegak bersama orang-orang yang agung yang mampu memangku amanah besar. Amanah besar ini tidak mampu dipikul oleh langit dan bumi, tapi mampu diemban oleh orang-orang yang besar.

Bagaimana Islam dapat tegak dan kembali berjaya seperti dulu tanpa tekad baja dan membara dari Abu Bakar as Siddiq pada saat penumpasan orang-orang murtad? Saat itu, kendati berusia lanjut dan mudah menangis, iya berkata dengan tekad kuat, "Demi Allah, aku pasti menumpas orang-orang yang memisahkan salat dengan zakat karena zakat itu hak harta. Demi Allah, andai mereka menolak membayar zakat unta dan kambing yang dulu mereka bayarkan kepada Rasulullah, aku pasti memerangi mereka karena penolakan tersebut." (HR. Bukhari dan Ahmad).

Kisah tentang para pembangkang zakat ini disebutkan dalam beberapa kitab hadits. Di antaranya adalah Sahih Muslim.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: لَمَّا تُوُفِّيَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَاسْتُخْلِفَ أَبُو بَكْرٍ بَعْدَهُ، وَكَفَرَ مَنْ كَفَرَ مِنَ الْعَرَبِ، قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ لِأَبِي بَكْرٍ: كَيْفَ تُقَاتِلُ النَّاسَ، وَقَدْ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، فَمَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، فَقَدْ عَصَمَ مِنِّي مَالَهُ، وَنَفْسَهُ، إِلَّا بِحَقِّهِ وَحِسَابُهُ عَلَى اللهِ “، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: وَاللهِ لَأُقَاتِلَنَّ مَنْ فَرَّقَ بَيْنَ الصَّلَاةِ، وَالزَّكَاةِ، فَإِنَّ الزَّكَاةَ حَقُّ الْمَالِ، وَاللهِ لَوْ مَنَعُونِي عِقَالًا كَانُوا يُؤَدُّونَهُ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَاتَلْتُهُمْ عَلَى مَنْعِهِ، فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ: فَوَاللهِ، مَا هُوَ إِلَّا أَنْ رَأَيْتُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ شَرَحَ صَدْرَ أَبِي بَكْرٍ لِلْقِتَالِ، فَعَرَفْتُ أَنَّهُ الْحَقُّ

Dari Abu Hurairah yang berkata, “Ketika Rasulullah SAW wafat, dan Abu Bakar diangkat jadi penggantinya, dan kembali kafir orang-orang Arab yang memilih kafir, Umar bin Khatthab berkata kepada Abu Bakr, ‘Bagaimana engkau memerangi orang-orang, padahal Rasulullah SAW telah berkata, ‘Saya diperintahkan memerangi manusia hingga mereka mengatakan la ilaha illallah. Barang siapa telah mengatakan la ilaha illallah, dia telah menjaga harta dan nyawanya dariku kecuali bila ada haknya. Hisabnya diserahkan kepada Allah.’ Abu Bakar berkata, ‘Demi Allah, aku akan benar-benar memerangi orang yang memisahkan antara salat dan zakat. Zakat adalah haknya harta. Demi Allah, jika mereka menahan satu anak unta saja yang biasanya mereka serahkan kepada Rasulullah saw. niscaya aku akan memerangi mereka karena menahannya.’ Umar berkata, ‘Demi Allah, tidaklah Abu Bakar kecuali aku telah melihat Allah azza wa jalla telah melapangkan dada Abu Bakar untuk berperang. Lalu aku menyadari bahwa dia berada di atas kebenaran.’” (HR. Muslim).

Bagaimana Islam bisa tegak dan berjaya tanpa tekad seperti tekad Mushab bin Umair. Tekad kuat yang mampu mendorong dirinya untuk mengabaikan masa remaja dan kehidupan yang serba enak. Ia kemudian rela menjalani kehidupan yang keras, miskin, dan penuh derita. Tekad kuatnya menjadi faktor penting bagi masuk Islamnya sebagian besar penduduk Madinah. Sepanjang hidupnya diwarnai ruh perjuangan dan semangat berkorban yang luar biasa.

Ketika ia memegang panji perang saat bertempur di perang Uhud, tangan kanannya terpotong. Lalu ia memegang panji perang tersebut dengan tangan kirinya. Tangan kirinya pun tertebas pedang. Ia kemudian memegang panji itu dengan kedua lengannya. Di dalam kondisi seperti itu, datang musuh bernama Ibnu Qumaiah dengan menunggang kuda, lalu menebas tangan Mush’ab hingga putus, sementara Mush’ab melantukan surah Ali Imran ayat 144; menuju syahid.

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلاَّ رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ

“Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul.”

Inilah sahabat Nabi yang di masa remajanya hidup enak dalam kemewahan, tapi kemudian hanya mempunyai satu helai baju untuk kafannya ketika meninggal dunia. Jika kaum Muslim menutup kepalanya, kedua kakinya terlihat. Jika kaum Muslim menutup kakinya, kepalanya terlihat. Lalu Rasulullah menyuruh mereka menutup kepala Mushab bin Umair dengan bajunya dan menutup kedua kakinya dengan pohon idzkhir (IBN Sa'ad, Thabaqat lll/82). 

Bagaimana Islam bisa tegak dan kembali berjaya seperti dulu tanpa tekad baja seperti tekad Umar bin Abdul Aziz. Dengan tekadnya, Allah menjadikan ia mampu memperbaiki umat hanya dalam tempo dua setengah tahun. Hingga dikatakan, "Pada masanya serigala hidup rukun dengan kambing."

Dikisahkan pada suatu hari salah seorang pejabatnya mengirim surat kepadanya. Dalam surat itu ia menulis, "Reformasi keuangan yang dijalankan Khalifah dan penghapusan kewajiban jizyah dari orang-orang barbar yang masuk Islam akan mengurangi pemasukan kharaj." Umar bin Abdul Aziz menjawab, "Demi Allah, saya sangat ingin manusia semuanya masuk Islam hingga saya dan anda menjadi petani dan kita makan dengan keringat kita sendiri." ( Ibn Jauzi, Sirah Umar bin Abdul Aziz). 

Begitu pentingnya kekokohan tekad dalam agama Allah. Bahkan Rasulullah bermunajat kepada Allah agar diberikan keteguhan tekad dalam urusan agama ini. Doa ini dapat ditemukan dalam hadis yang diriwayatkan Imam Tirmidzi nomor 2.066 dan 3.444.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

Wahai Dzat yang membolak-balikan hati, teguhkanlah hatiku berada di atas agamamu. 

Tekad kuat akan menghilangkan keragu-raguan. Tekad kuat akan mendorong semangat dalam berjuang dan mewujudkan cita-cita. Karena musuh-musuh Islam saja sangat serius dalam upayanya untuk menjatuhkan Islam, mengapa umat Islam tidak bertekad kuat dalam memperjuangkan Islam, yang senantiasa telah dijanjikan oleh Allah kemenangan.

Islam pasti jaya kembali, yang harus kita lakukan adalah senantiasa memohon kepada Allah dengan doa yang sungguh-sungguh dan memperjuangkan Islam dengan tekad yang kuat sekuat baja, yang tidak mudah goyah oleh sapuan angin iming-iming kenikmatan dunia, pun oleh badai ancaman dari musuh-musuh Islam. 

Wallahu a'lam

banner zoom