Kegagalan Kapitalisme Mengatasi Pandemi Covid-19

Oleh : Masitoh, S.Pd.I (Pendidik /Guru Madrasah) 

Penamabda.com - Perlawanan terhadap pandemi Covid-19 masih belum berakhir. Penambahan kasus baru masih terus terjadi di seluruh negara di dunia, vaksin untuk menghentikan penyebaran virus ini pun juga masih dalam tahap pengembangan. Namun akibat yang ditimbulkan pandemi Covid 19 ini pun tidak main-main. Mulai dari sistem politik ekonomi dan sosial. Bisa dikatakan sistem internasional saat ini tengah dilanda kekacauan yang amat parah. 

Bahkan para pakar ekonomi memprediksi akan terjadi resesi kembali pada 2020 diikuti dengan sejumlah krisis politik di seluruh dunia. Di samping menimbulkan sistem kesehatan global yang tidak mampu di atasi oleh negara-negara yang terkena wabah. Masing-masing negara melakukan berbagai upaya penanganan. 

Namun solusi yang tak komprehensif ditambah dengan karakter virus yang unik, membuat wabah sangat sulit ditaklukkan. Kurva penambahan korban pun tak kunjung melandai. Ditengah itu beberapa negara mencoba mengembalikan keadaan agar ekonomi segera pulih. Salah satunya konsep new normal life. Apakah “new normal” itu? 

Dikatakan bahwa new normal adalah kebijakan membuka kembali aktivitas ekonomi, sosial, dan kegiatan publik secara terbatas dengan menggunakan standar (protokol) kesehatan yang sebelumnya tidak ada sebelum pandemi. Konsep new normal life adalah salah satu upaya untuk membuka kembali perekonomian yang tersendat karena pandemic Covid 19. Beberapa negara sudah menerapkan konsep ini, namun terbukti gagal bahkan menambah kasus positif Covid 19, bahkan diprediksi akan muncul penularan wabah gelombang kedua mengancam dunia yang lebih parah. 

Contoh negara yang sudah menerapkan adalah Korea Selatan. Korea Selatan pada 6 Mei 2020 lalu mencabut pembatasan sosial dan menerapkan konsep new normal ini. Namun, kebijakan new normal yang diterapkan Korea Selatan setelah kurva infeksi Covid-19 menurun nyatanya tidak bisa bertahan lama. Kebijakan itu terbukti gagal di mana lonjakan infeksi virus covid-19 terbesar terjadi pada Kamis (29/5/2020). Kondisi itu memaksa pemerintah memberlakukan kembali pembatasan sosial di beberapa wilayah. 

Para pejabat mengatakan otoritas kesehatan semakin sulit untuk menelusuri jejak penularan infeksi baru. Karenanya, pembatasan sosial akan kembali berlaku mulai Jumat (29/5/2020) hingga 14 Juni mendatang. Museum, taman, dan galeri seni semuanya akan ditutup kembali. Perusahaan juga didesak untuk menerapkan kembali jam kerja yang fleksibel demi mendukung langkah-langkah pemerintah (suara.com, 29 Mei 2020). Selain Korea Selatan, Thailand juga mulai melonggarkan aturan social distancingnya dengan mengizinkan pedagang kecil, ritel, dan restoran untuk membuka kembali usahanya.

Di Malaysia, pemberlakuan new normal sudah mulai berlaku. Negara selanjutnya yang akan menerapkan new normal adalah Italia, di mana mereka akan mulai membuka kembali sektor pariwisata pada 3 Juni. Pembukaan pada fasilitas publik, pertokoan, dan layanan seperti salon juga diumumkan segera mulai beroperasi kembali. Negara lainnya yang mulai memberlakukan new normal adalah Selandia Baru. Pertemuan keluarga dan teman-teman terdekat sudah bisa dilakukan oleh warga negara tersebut dengan jumlah dibawah 10 orang.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Sejak awal pandemi para petinggi negeri ini merespon wabah ini dengan penuh candaan. Tak menganggap wabah corona sebagai sesuatu yang harus segera dicegah penyebarannya apalagi melakukan penjagaan ketat terhadap bandara serta pelabuhan sebagai tempat keluar masuknya orang asing dari luar negeri. Ditambah lagi kebijakan yang mencla-mencle, tidak tegas terhadap TKA, penerapan PSBB tidak serius, penanganan kemiskinan dan pengangguran akibat pendemi juga buruk. Di samping itu, penerapan PSBB mengakibatkan rakyat sulit bekerja, kartu prakerja belum efektif, belum ada solusi yang tepat bagi yang menganggur. Kemiskinan bertambah, jumlah bantuan sedikit, serta masih banyak lagi masyarakat miskin yang tidak terbantu. 

Wabah corona benar-benar menelanjangi borok-borok kepemimpinan kapitalis. Yang paling nyata, tidak ada kesungguhan pemerintah atasi wabah. Saat ini justru mengupayakan new normal life di saat wabah semakin meningkat penyebarannya. Mereka sebut akan memberlakukan protocol kesehatan. Dengan dalih ekonomi negara harus terus berjalan tapi jiwa rakyat tak menjadi prioritas untuk diselamatkan. Alasannya benar-benar pragmatis. Lima bulan wabah berjalan, perekonomian dunia memang nyaris collaps. Kebijakan lockdown atau semi lockdown yang diterapkan benar-benar telah memukul sektor ekonomi ril. Hingga gelombang PHK merebak di mana-mana dan penduduk miskin pun bertambah banyak.

Sistem kapitalisme global sudah menunjukkan tanda-tanda nyata akan ambruk. Berbagai upaya untuk mengatasi kolapsnya sistem kapitalisme saat ini sejatinya hanya upaya tambal sulam yang menipu mata. Kepercayaan masyarakat dunia terhadap sistem kapitalisme sudah semakin berkurang. Pahitnya hidup karena kesenjangan ekonomi-sosial yang besar di tengah masyarakat akibat penerapan sistem kapitalisme sudah sering dirasakan. Apalagi saat pandemi, semua kerusakan ini semakin parah.

Rakyat kecil semakin menjerit, yang miskin semakin miskin. Rakyat ekonomi menengah ke atas juga merasakan dampak buruknya penerapan sistem kapitalisme. Semua pihak terdampak. Ini semua sebenarnya menunjukkan kegagalan ideologi kapitalisme mengatur kehidupan kita. Mau bagaimana pun kebijakan tambal sulam untuk mengatasi krisis, keruntuhan kapitalisme sepertinya sudah tak bisa dihentikan. Kapitalisme semakin terpuruk. Indonesia yang menerapkannya semakin tak berdaya mengurusi rakyatnya secara mandiri. Cengkeraman asing semakin nampak nyata. . Kita tidak ingin, nantinya krisis ekonomi-sosial-politik semakin melebar ke dimensi yang lain.

Maka kita perlu gebrakan baru dalam mengatur negeri ini. Kita perlu new system, sebuah sistem baru kehidupan, ideologi baru yang menggantikan kapitalisme. 

Islam adalah Solusi

Sudah saatnya menjadikan Islam sebagai satu-satunya sistem untuk memperbaiki dunia saat ini. Negara Islam menjamin kesejahteraan rakyat hasil dari penerapan hukum ALLAH SWT. Memberikan layanan kesehatan kepada warga negaranya dan kaum kafir menjadi saksi atas hal itu. Sebagai contoh, Gomar, salah satu seorang pemimpin dalam masa Napoleon selama perang yang dilancarkan Perancis untuk menduduki Mesir, menggambarkan pelayanan kesehatan. 

Semua orang sakit biasa pergi ke Bimaristan (rumah sakit) bagi kaum miskin dan kaum kaya, tanpa perbedaan. Dokter berasal dari banyak tempat di wilayah timur, dan mereka juga mendapat bayaran yang baik. Ada apotek yang penuh dengan obat-obatan dan instrumentasi, dengan dua perawat yang melayani setiap pasien. Ketika selesai dirawat, setiap pasien akan diberikan lima keping emas sehingga para mantan pasien itu tidak perlu bekerja segera setelah ia meninggalkan rumah sakit.”

Dan ini, sejalan dengan penerapan aturan Islam secara kaffah, seperti penerapan sistem pendidikan yang mencerdaskan, sistem ekonomi yang menyejahterakan, sistem politik yang memandirikan dan memartabatkan, sistem hukum yang meminimalisir penyimpangan, sistem sosial yang mendorong kerja sama dalam kebaikan, dan lain-lain. Termasuk di dalamnya, sistem kesehatan yang komprehensif yang dipastikan akan menjadi jalan kebaikan, berupa hadirnya sumber daya manusia yang unggul dan siap melaksanakan fungsi penciptaannya sebagai pengelola bumi sekaligus pengemban risalah Islam ke seluruh alam. 

Selama 1.300 tahun ideologi Islam dalam sejarahnya mampu mengurusi umat hampir di dua pertiga dunia. Akankah pascapandemi ini Islam bangkit kembali dan menunjukkan kepada dunia sisi rahmatan lil ‘alaminnya?

Allah SWT berfirman dalam Alquran surah An-nuur ayat 55 yang artinya: 
“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa.”

Wallahu’alam bishowab
banner zoom