“Paramedisfobia”, Sisi Lain Pahitnya Pengorbanan

Oleh: Henyk Nur Widaryanti, S.Si., M.Si.

Di tengah pandemi yang semakin panas ini, masyarakat dibuat “parno” dengan segala kejadian. Tak hanya takut ke luar rumah, tapi juga saling curiga. Bahkan dari ketakutan yang berlebihan membuat mereka melakukan aktivitas di luar kewarasan manusia. Terutama adat ketimuran dan agama.

Yang benar saja, di masa pertempuran melawan tentara tak terlihat ini, masyarakat justru bertindak diskriminatif dengan paramedis. Mereka yang merupakan pejuang garda depan dalam melawan pandemi ini; Mereka yang tak egois berjibaku merawat korban-korban yang jatuh terkena serangan; Mereka yang dengan sabar menahan kerinduan terhadap keluarga, memberi jarak agar kesayangan mereka tak terimbas dari tentara yang mungkin masih menyusup.

Teriris hati ini saat mendapat kabar ada masyarakat yang menolak pemakaman jenazah paramedis. Dengan alasan coronafobia, mereka tak membiarkan jenazah itu bersemayam dengan tenang. Kabar itu menyeruak, membungkam kata siapa pun yang mendengarnya.

Ganjar Pranomo, orang nomor satu di Jawa Tengah itu berpesan peristiwa penolakan jenazah ini jangan sampai terulang. (Kompas, 10/4/20)

Akan tetapi, ada yang lebih menyayat hati. Ini bukan lagi bicara masalah orang mati, tapi orang yang masih hidup. Akibat coronafobia, luntur sudah rasa kemanusiaan manusia. Sebagian mereka –masyarakat- tega mengusir para dokter dan perawat dari kosnya, hanya karena takut tertular virus. Sebagaimana yang terjadi pada beberapa paramedis di Rumah Sakit Persahabatan Jakarta. (liputan6, 25/3/20)

Miris, di tengah krisis seperti ini seharusnya kita bahu membahu. Meringankan beban saudara. Saling menolong dan menyuntikkan semangat kepada mereka para pejuang garda depan Covid-19. Namun, egoisme mengikis rasa kemanusiaan tersebut. Sebagian masyarakat terlalu “parno” dan akhirnya hanya memikirkan keselamatannya sendiri.

Kondisi seperti ini bisa dialami masyarakat karena kurangnya sosialisasi. Banyak dari mereka tak memahami bagaimana Covid-19 bisa menular. Yang mereka tahu hanya “paramedis adalah kelompok yang paling rentan terpapar corona”. Apalagi dengan melihat prosesi pemakaman yang menurut mereka “aneh”.

Kondisi macam ini tentu melahirkan pemikiran-pemikiran negatif kepada para pejuang garda terdepan. Apabila tak diimbangi dengan penyuluhan yang pas, sosialisasi yang rata, serta penyediaan sarana kesehatan yang tercukupi, akan menimbulkan pemahaman yang tumpang tindih. Hasilnya rakyat berpersepsi dengan spekulasi sendiri.

Tragedi paramedisfobia ini terjadi akibat adanya miskomunikasi yang sampai pada masyarakat. Sebuah kelalaian yang harus dipertanggungjawabkan sebab merugikan paramedis dan masyarakat itu sendiri.

Harusnya instansi yang terkait memberikan penyuluhan kepada masyarakat dapat memastikan informasi itu sampai ke setiap telinga. Bukan hanya duduk dan diam tinggal menerima laporan saja. Inilah bukti lalainya pemimpin dalam mengecek apakah info itu benar-benar sampai pada masyarakat ataukah tidak.

Pemimpin Itu Pelayan bukan Minta Dilayani

Sangat disayangkan jika pemimpin yang ditugaskan mengayomi rakyat bertindak lalai. Jika hal ini dibiarkan, bisa saja akan ada banyak nyawa tak berdosa dikorbankan. Entah dari kurang tanggapnya masyarakat terhadap pandemi ini, atau justru banyaknya paramedis yang dikorbankan dalam perang ini.

Harusnya, sebagai seorang pemimpin ingat bahwa segala apa yang dipimpin akan diminta pertanggungjawaban. Apalagi bagi pemimpin yang lalai, hidupnya tidak akan tenang di akhirat.

Sebagaimana Allah menyampaikan,

“Dan sesungguhnya, akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.” (QS Al-A’raf: 179)

Orang-orang yang lengah itulah orang yang lalai. Bagi mereka adalah neraka. Apalagi pemimpin, menjadi pemimpin yang lalai sangat dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya. Ibaratnya pemimpin itu adalah penggembala yang akan diminta pertanggungjawaban atas yang digembalakannya.

Cara Islam Menyeimbangkan Informasi

Islam melalui pemerintahan khilafah akan berusaha menyelesaikan masalah ini. Khalifah yang akan dibantu oleh Muawin, Wali, Departemen Penyiaran, tokoh umat, serta surtoh ‘aparat keamanan’ akan memberikan penyuluhan, pengaturan, dan pembinaan kepada masyarakat. Agar mereka memahami makna menjaga kesehatan dan cara menghadapi pandemi ini.

Amanah yang diberikan untuk menjelaskan masalah wabah tentu akan dijalankan dengan baik. Mereka akan memeriksa hingga detail, sampai seluruh masyarakat paham dengan masalah ini.

Sedangkan rakyat akan patuh dengan aturan yang telah ditetapkan khalifah. Karena mereka sadar bahwa kebijakan itu untuk kebaikan masyarakat.

Sehingga tidak akan ditemui masyarakat yang terkena “paramedisfobia”. Atau bahkan tidak percaya kepada petugas wabah dan kebijakan pemerintah. Walhasil, Islam mewujudkan pemimpin yang dicintai rakyatnya dan rakyat yang dicintai pemimpinnya.

“Sebaik-baiknya pemimpin kamu adalah mereka yang kamu cintai dan mereka pun mencintaimu, kamu menghormati mereka dan mereka pun menghormati kamu. Pun sejelek-jeleknya pemimpin kamu adalah mereka yang kamu benci dan mereka pun benci kepada kamu. Kamu melaknat mereka dan mereka pun melaknatmu.” (HR. Muslim)

Sumber : MuslimahNews.com 

banner zoom