Islam Perisai Umat, Garda Terdepan Melawan Corona

Oleh: Henyk Nur Widaryanti, S.Si., M.Si.

Nyawa rakyat merupakan sesuatu yang perlu diprioritaskan oleh seorang pemimpin. Bagaimana pun kesulitan sebuah kepemimpinan, keterjaminan keamanan adalah modal awal melindungi rakyat. Dengan begitu mereka tak perlu takut, was-was maupun ragu. Karena keselamatan mereka telah terjamin.

Namun, jauh panggang dari api. Impian keselamatan rakyat utama hanya menjadi retorika belaka. Sebagaimana yang terjadi di negeri penganut kapitalisme. Di negeri para kapitalis ini, keselamatan rakyat hanya fiktif belaka.

Sebagai manusia apalagi seorang pemimpin dalam sistem sekuler ini, secara naluriah, upaya menyelamatkan rakyat ingin dan perlu diacungi jempol. Sebagaimana diberitakan oleh Media Indonesia (22/3/2020), Bapak Presiden menyampaikan bahwa keselamatan rakyat menjadi prioritas utama dalam menangani kasus Covid-19 ini.

Perang Badar Melawan Covid-19

Hanya saja, keinginan itu tak sejalan dengan kenyataan. Berbagai komentar dan pertanyaan di mana peran pemerintah saat rakyatnya menghadapi corona ini muncul. Fakta di lapangan menunjukkan, banyaknya Rumah Sakit (RS) yang kekurangan Alat Pelindung Diri (APD).

Salah satunya adalah Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA). Melalui laman liputan 6 (20/3/2020) dinyatakan bahwa Ketua Satgas Corona Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) Surabaya dr. Prastuti Asta Wulaningrum membenarkan jika kekurangan APD. Beliau berharap pemerintah bersedia memfasilitasi pengadaan APD.

Serupa namun tak sama, beberapa hari belakangan netizen juga dibuat heboh dengan beredarnya sebuah pernyataan dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Dalam pernyataan itu dijelaskan bahwa IDI meminta adanya jaminan keselamatan kerja bagi para tenaga medis.

Mereka adalah pasukan garda depan, yang langsung bersinggungan dengan virus Covid-19. Jika tenaga medis tak menjalankan SOP, dikhawatirkan justru akan tertular dengan virus ini. Padahal, saat ini sudah banyak juga tenaga kesehatan yang tumbang saat melawan virus. Baik yang terinfeksi atau karena kelelahan. (tempo, 28/3/2020)

Meskipun pada kenyataannya pemerintah telah mengimpor dan mendistribusikan APD ke seluruh RS rujukan yang menangani Covid-19. Ada sekitar 105 ribu APD yang telah didistribusikan ke RS, namun kenyataannya para medis masih mengalami kekurangan. Karena kebutuhan APD secara dinamis berkembang lebih banyak. Apalagi APD hanya digunakan sekali pakai.

Pertimbangan Pengambilan Kebijakan
Cara pemimpin negeri ini menghadapi perang melawan Covid-19 sepertinya terseok-seok. Ibarat orang mau perang, masih maju mundur cantik. Ada keragu-raguan dalam benak mereka. Di sisi lain mereka menyatakan bahwa keselamatan rakyat adalah utama. Namun, di lain pihak justru tidak cepat dalam mengambil kebijakan.

Pasalnya, ketika kasus Covid-19 ini baru ditemukan, pemerintah tak langsung mengambil kebijakan lockdown. Hal itu dilakukan karena pertimbangan ekonomi. Dengan kondisi saat ini, negara tak mampu membiayai kebutuhan di saat lockdown. Sebagaimana yang dilakukan beberapa negara yang memutuskan lockdown. Mereka menanggung kebutuhan masyarakat saat isolasi itu dilakukan.

Jangankan buat lockdown, untuk memenuhi kebutuhan APD bagi tenaga medis saja kurang. Apalagi mereka adalah tentara garda depan dalam peperangan ini. Hal ini memperlihatkan bahwa segala kebijakan yang diambil masih mengikuti prinsip pertimbangan materi.

Materi dalam hal ini adalah ekonomi menjadi pertimbangan besar dalam keputusan kebijakan. Adanya ketakutan pertumbuhan ekonomi bisa nol, membuat pemimpin mengambil kebijakan non-lockdown.

Islam Melindungi Rakyat, Maju Terus Pantang Mundur

Berbeda penanganannya dalam Islam. Islam menjadikan rakyat adalah unsur utama yang harus diselamatkan. Rakyat ibarat gembalaan yang perlu dijaga dan dirawat. Sehingga saat terjadi wabah seperti ini, Islam pun menjadikan rakyat sebagai acuan utama.

Seorang pemimpin yang bervisi Islam akan menjadikan keimanannya sebagai landasan memutuskan kebijakan. Keyakinan pada Allah SWT, membuatnya tawakal dan berserah diri pada Allah dalam menghadapi wabah ini. Ibarat dalam peperangan, sebagaimana dalam QS Al Anfal ayat 60 artinya:

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kalian menggentarkan musuh Allah, musuh kalian, dan orang-orang selain mereka yang kalian tidak mengetahuinya; sedangkan Allah mengetahuinya. Apa saja yang kalian nafkahkan pada jalan Allah, niscaya akan dibalasi dengan cukup kepada kalian dan kalian tidak akan dianiaya”.

Menjadi seorang pemimpin di tengah wabah harus berani mengambil risiko. Tanpa mempertimbangkan masalah materi, yang utama rakyat terselamatkan. Karena standar kebahagiaan seorang muslim adalah rida Allah, maka pemimpin muslim akan menjadikan rida Allah sebagai tujuan. Oleh karena itu, ia akan langsung memutuskan lockdown agar wabah tak meluas menyerang masyarakat.

Sebagaimana surat Al Anfal ayat 60, kita diperintahkan mengumpulkan amunisi yang banyak untuk persiapan perang. Maka, pemimpin perlu menjamin ketersediaan alat perang (APD) untuk para medis. Sehingga tenaga medis akan merasa aman menjadi garda terdepan penanganan wabah ini.

Pemimpin muslim yang bervisi Islam seperti ini tidak akan mudah didapat. Karena pemimpin seperti ini adalah pemimpin yang mencintai rakyatnya, menjadikan ketaatan tertinggi hanya pada Allah, memiliki tujuan memimpin untuk memperoleh rida Allah, dan yakin bahwa apa yang dipimpinnya akan diminta pertanggungjawaban.

Kepemimpinan model ini hanya dapat diperoleh dari sistem yang bersandar ketaatan pada Allah, bukan sistem buatan manusia. Yaitu sistem Islam, dengan sistem pemerintahannya yakni Khilafah. 

Sumber : https://www.muslimahnews.com/2020/03/29/islam-perisai-umat-garda-terdepan-melawan-corona/


banner zoom