Adab adalah Perhiasan

Oleh: Ust. Yuana Ryan Tresna (Mudir Ma’had Darul Hadits Khadimus Sunnah Bandung)

Pencarian dan penguasaan terhadap ilmu yang tidak didahului dengan adab akan melahirkan petaka. Masalah terbesar bagi para pelajar dan ahli ilmu yang miskin adab adalah hilangnya keberkahan, munculnya kesombongan dan lalai dari amanah mengemban ilmu. Ini adalah musibah.

Hal ini pula yang disampaikan oleh Syaikh al-Zarnuji ra. dalam memulai kitabnya, Ta’lim al-Muta’allim. Dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa pada zamannya banyak orang yang sungguh-sungguh belajar, namun tidak mendapat hasil berupa kemanfaatan ilmu.

Para ulama salaf shalih sangat memperhatikan masalah adab. Mereka pun mengarahkan murid-muridnya mempelajari adab sebelum menggeluti suatu bidang ilmu dan menemukan berbagai macam khilaf (perbedaan pendapat) ulama.

Imam Darul Hijrah, Imam Malik bin Anas ra., pernah menyatakan kepada seorang pemuda Quraisy, “Wahai putra saudaraku, pelajarilah adab, sebelum kamu belajar ilmu.”

Itulah rahasia mengapa para ulama yang mengemban ilmu menjadi orang yang ‘alimlagi tawadhu’, berbuah dalam amal, dan jujur mengemban tanggung jawab pengajaran serta dakwah.

Ibn Hajar al-Asqalani ra. menyatakan,

وَاْلأَدَبُ اسْتِعْمَالُ مَا يُحْمَدُ قَوْلاً وَفِعْلاً وَعَبَّرَ بَعْضُهُمْ عَنْهُ بِأَنَّهُ اْلأَخْذُ بِمَكَارِمِ اْلأَخْلاَقِ

Adab artinya menerapkan segala yang terpuji, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Sebagian ulama juga mendefinisikan adab adalah mempraktikkan akhlak-akhlak yang mulia.

Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah mengartikan adab dengan:

هُوَ عِلْمُ إِصْلاَحِ اللِّسَانِ وَالْخِطَابِ، وَإِصَابَةِ مَوَاقِعِهِ، وَتَحْسِيْنِ أَلْفَاظِهِ، وَصِيَانَتِهِ عَنِ الْخَطَأِ وَالْخَلَل

Adab adalah ilmu untuk memperbaiki lisan dan seruan serta ketepatan posisinya; juga memperbaiki ungkapan dan menjaganya dari kesalahan dan cacat.

Banyak ulama lainnya yang mendefinisikan adab. Pada muaranya adab adalah perhiasan pada perilaku dan lisan seorang Muslim. Adab tumbuh subur dalam masyarakat Islam kala itu. Masyarakat Islam adalah sekumpulan individu yang memiliki pemikiran dan perasaan islami serta aturan Islam yang mengikatnya. Oleh karena itu, kendati adab tidak ditunjukki langsung oleh dalil dalam perinciannya, ia adalah sesuatu yang masyru’ (disyariatkan).

Adab dan Ilmu

Dalil keharusan memiliki adab terhadap ilmu dan ulama adalah firman Allah SWT:

وَمَن يُعَظِّمۡ حُرُمَٰتِ ٱللَّهِ فَهُوَ خَيۡرٞ لَّهُۥ عِندَ رَبِّهِۦۗ ٣٠

Siapa saja yang mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, itu adalah lebih baik bagi dia di sisi Tuhannya (QS al-Hajj [22]: 30).

وَمَن يُعَظِّمۡ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقۡوَى ٱلۡقُلُوبِ ٣٢

Siapa saja yang mengagungkan syiar-syiar Allah, sungguh itu timbul dari ketakwaan hati (QS al-Hajj [22]: 32).

Nabi saw. bersabda,

إِنَّ اللهَ قَالَ: مَنْ عَادَىْ لِيْ وَلِيًّا فَقَدْ آذِنْتُه بِالْحَرْبِ

Sungguh Allah telah berfirman, “Siapa saja yang menentang wali-Ku, ia telah menyatakan perang terhadap-Ku.” (HR al-Bukhari).

Imam Syafii ra. mengatakan,

إِنْ لَمْ يَكُنِ الْفُقَهَاءَ الْعَامِلُوْنَ أَوْلِيَاءَ اللهِ فَلَيْسَ لِلَّه وَلِيٌّ

Jika para fuqaha (ulama) yang mengamalkan ilmu mereka tidak disebut wali Allah maka Allah tidak punya wali.

Sudah makruf, posisi adab itu lebih dulu daripada ilmu. Ibn al-Mubarak menyatakan,

قَالَ لِيْ مَخْلَدُ بْنُ الْحُسَيْنِ: (نَحْنُ إِلَى كَثِيْرٍ مِنَ اْلأَدَب أَحْوَجُ مِنَّا إِلَى كَثِيْرٍ مِنَ الْحَدِيْثِ)

Makhlad bin al-Husain berkata kepadaku, “Kami lebih membutuhkan banyak adab ketimbang kebutuhan kami akan banyak hadis.”

Muhammad bin Sirin menceritakan karakteristik Tabiin, “Mereka itu mempelajari tuntunan hidup (adab), sebagaimana mereka mempelajari ilmu.”

Imam Malik bin Anas juga menyatakan, “Hak yang menjadi kewajiban bagi siapa yang mencari ilmu adalah dia hendaknya memiliki penghormatan, ketenangan dan rasa takut (kepada Allah). Hendaknya dia juga mengikuti jejak orang-orang sebelumnya.”

Ibn an-Nakha’i mengatakan, “Mereka (generasi salaf), ketika mendatangi seseorang (ulama) untuk mengambil ilmu dari dirinya, akan memperhatikan perilakunya, shalat dan keadaannya. Baru setelah itu mereka mengambil ilmu darinya.”

Habib bin asy-Syahid berkata, “Anakku, bersahabatlah dengan fukaha dan ulama. Belajarlah dari mereka dan ambilah (keutamaan) adab-adab mereka. Sebab hal itu lebih aku sukai daripada (menghapal) banyak hadis.”

Sumber : muslimahnews.com


banner zoom