Wabah Covid-19 Mengancam Negeri, Bukti Peringatan Allah Ta’ala Kepada Hamba-Nya

Oleh : Ummu Farras (Aktivis Muslimah) 

Setelah diumumkannya korban suspect Covid-19 pada dua orang di Depok, timbul kepanikan di tengah-tengah masyarakat. Merebaknya wabah penyakit ini ke dalam negeri tentu bukan tanpa sebab. Selain adanya kontak langsung korban suspect dengan warga negara asing yang positif terkena wabah, harusnya ancaman wabah penyakit ini pun dijadikan sebagai renungan bagi seluruh rakyat Indonesia, terutama para pemimpin negeri.

Dalam sahih Muslim, Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa tidak ada penyakit yang menular secara sendirinya tanpa seizin Allah Ta'ala. Dan Allah Ta'ala tidak menurunkan suatu penyakit kecuali menurunkan obatnya. Pada zaman Rasulullah SAW juga pernah terjadi wabah penyakit yang melanda Kota Madinah yaitu penyakit tha'un, semacam penyakit menular atau wabah kolera.

Dalam Sahih Muslim pun disebutkan bahwa wabah penyakit penular merupakan peringatan dari Allah Ta'ala. Dari Ibnu 'Abdur Rahman Al Quraisy berkata, dari Abu An Nadhr dari 'Amir bin Sa'd bin Abu Waqqash dari Usamah bin Zaid dia berkata bahwa Rasulullah bersabda: "Tha'un (penyakit menular/wabah kolera) adalah suatu peringatan dari Allah Ta'ala untuk menguji hamba-hamba-Nya dari kalangan manusia. Maka apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari daripadanya.

Peringatan Bagi Kedzaliman Manusia 

Maha benar Allah ‘Azza wa Jalla yang berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ {٤١}

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Al-Rûm [30]: 41)

Ayat ini mengandung petunjuk agung dari Allah SWT yang berkaitan erat dengan masa depan hidup manusia, yakni akibat buruk dari perbuatan mereka yang menegakkan kemungkaran. Merebaknya wabah Covid-19 di negeri ini bisa jadi sebab dari kemaksiatan dan kedzaliman yang dilakukan manusia. Merebaknya fenomena perzinahan, gurita korupsi yang bertubi-tubi, serta maraknya praktik ribawi di segala lini kehidupan, adalah diantara sebab turunnya peringatan Allah Ta’ala bagi negeri ini. 

Selain itu, tidak ditegakkannya syariat Islam di negeri ini, juga bisa menjadi sebab datangnya azab Allah Ta’ala lewat wabah penyakit. Betapa sombong dan angkuhnya manusia yang menolak diterapkannya hukum Allah. Padahal, manusia adalah makhluk yang lemah dan terbatas. Tak pantas sombong dan menolak hukum Allah yang sempurna. Ancaman wabah virus ini mengingatkan kita tentang sejarah Kaum Fir'aun sang pembangkang, dan Abrahah Sang Pasukan Bergajah.

Jika menilik sejarah, kaum Fir'aun yang sombong dan terus menerus membangkang kepada Nabi Musa, mereka di akhir dalihnya mengatakan, “Bukti apapun yang kau bawa untuk menyihir kami, kami tidak akan pernah beriman kepadamu.” (QS: Al-A’raf : 132)
Akhirnya Allah Ta’ala menurunkan azab terhadap kaum ini lewat serangan belalang dan kutu (QS Al-A’raf : 133). Mereka akhirnya meminta doa Nabi Musa kembali, lalu membangkang yang kesekian kalinya, hingga akhirnya binasa oleh gulungan ombak laut merah. (Tafsir At-Thabari 13/64)

Pasukan Abrahah tidak kalah tragis. Mereka sengaja membariskan gajah sebagai simbol kekuatan. Tapi sebelum menginjak ka’bah sebagai sasarannya, mereka lumat hanya oleh pasukan burung. (QS. Al-Fiil : 1-5). Belalang, kutu, burung, hewan-hewan adalah peringatan dari Allah untuk kaum yang berani jumawa.

Yang dipakai di dalam Al-Qur’an memang nama belalang, kutu, dan burung. Tapi setelah manusia menemukan virus, Allah Maha Berkuasa untuk memakai makhluk-Nya yang lebih kecil yaitu virus sebagai gambaran betapa hebatnya dan kuatnya azab Allah, sekaligus menunjukkan betapa lemahnya manusia.

Bersegera Kembali Kepada Syariat Islam 

Seharusnya, kita sebagai manusia yang serba lemah dan terbatas bersegera melaksanakan syariat Islam agar terwujud keberkahan negeri. Allah Ta’ala telah memberikan peringatan peringatan kepada kita manusia, lantas masih pantaskah kita berpaling dari aturannya yaitu syariat Islam yang sempurna? 

Dengan diterapkan syariat Islam dalam naungan Khilafah, akan mampu mengatasi segala problematika yang dihadapi negeri. Islam beserta aturannya yang sempurna akan memberangus praktik korupsi yang merajalela, akan menghilangkan perzinahan dan praktik praktik ribawi serta segala kemaksiatan yang berpotensi merusak negeri. 
Allah SWT berfirman : 

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (TQS. Ali-Imran ayat 133)

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

”Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (TQS. Al Maidah ayat 50) 

Wallahu'alam bisshowwab 


banner zoom