Terowongan Silaturahmi ? Rakyat Butuh Toleransi Nyata, Bukan Simbol

Oleh : Tusriyani - Ibu dan Penggiat Opini Ideologis Lubuklinggau

Rencana pembangunan terowongan masjid Istiqlal - Gereja Katedral disambut baik kedua agama yakni Islam dan Kristen. Nantinya terowongan tersebut diproyeksi bakal menjadi ikon toleransi dan kerukunan umat beragama di Indonesia.
Presiden Jokowi telah menyepakati Proyek renovasi masjid Istiqlal. Didalamnya dimasukkan rencana Pembangunan Terowongan Silaturahmi yang menghubungkan dua tempat ibadah dari agama yang berbeda. Pembangunan nantinya dapat menjadikan ikon toleransi yang dapat berlangsung secara terus menerus.

Untuk pendanaan besar kemungkinan berasal dari kas negara sebagai mana proyek pembangunan masjid Istiqlal yang juga menggunakan dana tersebut.

Selama ini para jemaat gereja katedral sering menggunakan halaman parkir masjid untuk memarkirkan kendaraan ketika hendak beribadat.
"Jadi kalau umat jalan biasa, itu muter para jemaat gereja, jauh sekali. Ada yang sudah tua, pakai tongkat, jalan muter-muter kan kasihan," ungkapnya.

Ketua GPIG Paulus Jakarta, Jerry Sumampauw mengatakan, rencana tersebut patut diapresiasi. Toleransi merupakan ciri dari peradaban maju sebuah bangsa yang majemuk. Kita memang butuh simbol-simbol yang memperkuat toleransi dan kerukunan ditengah bangsa. Pembangunan masjid Istiqlal sengaja didekatkan dengan Gereja katedral merupakan gagasan kerukunan keagamaan dan menjadi ikon negara yang beragama.

Disaat negara sedang mengatasi cara membayar hutang luar negeri yang menumpuk, sehingga rakyat yang ikut kena dampaknya karena semua serba naik dan mahal. Tetapi disini penguasa malah menambah pengeluaran lagi dan lagi, itupun bukan untuk kebutuhan hajat orang banyak. Hanya sebagian bahkan seperempat rakyat saja yang ikut merasakan manfaatnya. Bagaimana nasib anak-anak di pelosok yang jembatan nya ambruk, hingga berjalan dengan taruhan nyawa diatas air sungai yang mengalir deras dibawah nya. Bagaimana caranya supaya rakyat tidak menderita dengan biaya kehidupan sehari-hari yang semakin mahal. Kenapa rezim justru tidak memikirkan kesejahteraan masyarakat banyak, ketimbang membangun terowongan Silaturahmi yang lumayan besar biayanya.
Rumah ibadah tidak dinilai dari megahnya bangunan itu tetapi isi dari orang-orang yang beribadah didalamnya. Terapkan sholat lima waktu di masjid untuk kaum muslimin.

Rakyat negeri ini tidak butuh terowongan sebagai simbol toleransi, tetapi bangsa ini butuh kerja nyata, bagaimana cara mengatasi masalah intoleransi bukan sekedar simbol. Pembakaran, perusakan bahkan penghancuran masjid yang terjadi belakangan ini, sudah kah teratasi?.  Simbol yang dibangun tidak mengatasi masalah intoleransi yang terjadi di negeri ini. Banyak pro dan kontra dikalangan tokoh, karena masyarakat butuh Silaturahmi dalam bentuk sosial bukan bentuk fisik atau simbol berupa Terowongan.
Kenapa harus membuat terowongan Silaturahmi dengan biaya yang cukup besar? Sebelumnya Indonesia juga merencanakan kampus moderasi (moderasi Islam) yang sudah lama dibuat. Dimana nama lain dari moderasi Islam adalah Islam moderat, istilah yang kemudian berubah total dengan menganggapnya sebagai Islam pertengahan. 

Islam yang lurus pasti banyak yang memusuhinya, bahkan menjauhkan orang-orangnya dari Islam Kaffah sehingga harus diwaspadai agenda ini. Dinegeri yang mayoritas muslim harus tetap berhati-hati dengan istilah pluralisme (menyamakan semua agama sama). Wajib seorang muslim berpegang teguh pada QS Al-Kafirun ayat 6 yang artinya " Untukmu agamamu dan untukku lah agamaku".

Jadi jangan sampai kita terpengaruh dengan proyek moderasi agama yang menyesatkan Umat Islam dengan mencampur adukan antara yang Haq dan batil. Karena itu sudah saatnya umat kembali pada syariah Islam yang datang dari Allah Maha Sempurna yaitu Khilafah. Khilafah adalah perjuangan terbaik untuk menerapkan Islam secara Kaffah.

Wallahu a'lam bi ash shawab

—————————
Sumber : Muslimah Sriwijaya
banner zoom