Sistem Kapitalis Sukses Lahirkan Remaja Bermental Sakit

Oleh : Ummu Farras (Pemerhati Remaja)

Publik sedang digemparkan oleh Pembunuhan yang dilakukan oleh seorang remaja perempuan berusia 15 tahun terhadap anak yang masih berusia 5 tahun di Sawah Besar, Jakarta Pusat. Korban dibunuh dengan cara yang begitu sadis, yakni ditenggelamkan ke bak mandi, dicolok mulutnya, hingga diikat dan disimpan di dalam lemari.(detik.com)

Belakangan diketahui, remaja ini kerap menonton film bergenre horor dan sadis. Bahkan, salah satu adegan film itu menjadi inspirasi remaja tersebut untuk membunuh. Lebih mencengangkan lagi, dilansir dari iNews.id, ternyata pelaku juga suka bermain dengan hewan. Tapi di sisi lain, hewan-hewan tersebut sering disiksa secara sadis, bahkan sampai dibunuh.

"Memang sejak kecil pelaku sering bermain dan membunuh hewan secara gampang. Misal kodok ditusuk-tusuk pakai garpu, dia juga punya kucing kesayangan. Tapi saat kesal kucing itu sering dilempar dari lantai kedua," kata Yusri dalam konferensi pers di Mapolres Jakarta Pusat, Sabtu (7/3/2020).
Lebih parah lagi, remaja tersebut tidak menyesali perbuatannya, melainkan ia mengaku merasa puas telah membunuh.

Remaja Bermental Sakit Lahir Dari Rahim Sistem Kapitalis

Sistem kapitalis yang mengusung asas sekularisme, menjadikan para remaja bebas bersikap dan berperilaku sesuai dengan hawa nafsunya. Tak adanya penanaman akidah, moral, dan minimnya pemahaman ilmu agama terhadap remaja, menjadikan para remaja tersesat dan berbuat diluar kendali, melanggar aturan, bahkan dapat berbuat hal yang membahayakan dirinya sendiri ataupun orang lain. Tak pelak, dari rahim sistem kapitalis sekular ini, tak sedikit lahir para remaja bermental sakit (mental illness).

Direktur Eksekutif National Alliance on Mental Illness (NAMI), Mary Giliberti, menyatakan, ada 1 dari 5 remaja mengidap kondisi gangguan mental seperti yang dijelaskan dari name.org. Mental Illness adalah gangguan jiwa yang cukup berbahaya dan dapat menyebabkan bunuh diri.

Penyebab terjadinya Mental Illnes ini muncul oleh banyak faktor, bisa karena stres, depresi karena mengalami tekanan yang dalam terhadap mental, atau traumatik akan kehilangan sesuatu dan seseorang. Tekanan batin karena lingkungan sekitar atau orang tua, kurang perhatian atau kasih sayang dan masih banyak lagi.(suara.com)

Selain minimnya pengawasan dari keluarga, dan lemahnya pendidikan agama yang diberikan orang tua terhadap anaknya, tontonan pun menjadi salah satu faktor utama penyebab remaja menjadi sakit mental hingga tergiur untuk melakukan hal yang sama dengan apa yang ia tonton. Faktanya, remaja yang melakukan pembunuhan sadis terhadap anak di Sawah Besar, Jakarta Pusat, terinspirasi dari tontonan sadis dan horor salah satu film terkenal yakni chucky si "boneka pembunuh".

Di negeri kapitalis ini, tolak ukur yang digunakan adalah untung rugi. Konten-konten dan film-film bergenre seperti ini memang menggiurkan karena kerap meraih rating tertinggi dan tak pernah sepi peminat. Film-film sadis, horor, dengan konten pembunuhan dan lainnya, bisa dinikmati publik termasuk anak-anak. Lembaga sensor film serta komisi penyiaran seakan tak bertaji karena masih lemahnya pengawasan pemerintah terhadap film dan konten-konten tak bermutu yang lolos siar. Akibatnya, banyak anak dan remaja yang terkontaminasi racun racun sesat yang ditawarkan dunia perfilman. Mulai dari sinetron-sinetron dan film beradegan penuh romansa yang mengumbar syahwat, bergenre horor dan sadis, hingga masifnya game online, video, serta aplikasi yang dapat menjerumuskan remaja kepada kemaksiatan.

Syariat Islam Lahirkan Remaja Bersyaksiyah Islamiyah

Di dalam Islam, landasan pendidikan yang harus dibangun dengan kokoh sedari dini adalah akidah. Adanya pondasi akidah yang kuat, akan menjadikan anak memiliki pola pikir dan pola sikap yang islami (bersyaksiyah Islamiyah). Dari pola pikir dan pola sikap yang islami ini akan melahirkan remaja remaja tangguh dan cerdas, serta berakhlakul karimah serta senantiasa melakukan perbuatan yang baik, menjauhi perbuatan buruk. Namun, Tak dapat dipungkiri, untuk melahirkan remaja seperti ini tak mungkin jika sistem yang dipakai adalah sistem kapitalis sekular. Karena sistem ini mustahil melahirkan remaja yang bersyaksiyah Islamiyah. Remaja seperti ini hanya dapat dilahirkan dari sistem yang haq, yaitu syariat Islam dalam naungan Khilafah Islamiyah. Dalam abad kedigdayaanya selama hampir 14 abad, Khilafah terbukti mampu lahirkan para remaja tangguh harapan umat.

Pemuda pemuda tersebut diantaranya Alfiyah Ibn Malik yang saat usia sepuluh tahun, ia sudah mampu menguasai Alquran, hadits, juga kitab-kitab bahasa Arab yang berat. Di era khilafah pun bermunculan pemuda yang sudah mampu memberikan fatwa, seperti Iyash bin Mu’awiyah dan Muhammad bin Idris as-Syafii, misalnya, sudah bisa memberikan fatwa saat usianya belum genap 15 tahun. Dan masih banyak lagi para pemuda penoreh peradaban emas di era Khilafah.

Hal ini dapat terwujud karena adanya penerapan syariat Islam secara kaffah dalam setiap aspek kehidupan. Sehingga tak ada ruang bagi remaja untuk melakukan kemaksiatan, karena setiap perbuatan akan didasarkan pada hukum syara. Selain itu, Khilafah juga meniscayakan adanya sinergi yang kokoh antara keluarga, masyarakat dan negara untuk mendidik generasi muda, sehingga menjadikan mereka siap untuk menjadi penakluk peradaban.

Dengan demikian, sudah jelas sekali di depan mata berbagai kerusakan yang ditimbulkan sistem kapitalis sekular terhadap generasi muda. Untuk mengakhirinya, mari kita bersama-sama memperjuangkan tegaknya syariat Islam dalam naungan Khilafah Islamiyah.

Wallahu'alam bisshowwab 

banner zoom