Ketahuan, Emak Merana di Era Corona


Oleh : Iswatik

Yeay, Libur. Berseri wajah ketika libur dari aktivitas sekolah, emak kudu gercep atur jadwal homeschooling dadakan, karena anak-anak akan kembali sekolah di madrasah pertama dan utama. Yap, emak mereka. Al ummu madrasatul ula.

Sebuah fenomena menarik hadir di tengah horornya Corona, hingga detik ini telah mendatangkan 1.046 jiwa positif Corona, 87 jiwa meninggal dunia, dan 46 jiwa sembuh darinya (cnn.indonesia.com )

Himbauan pemerintah untuk meliburkan aktivitas belajar mengajar disekolah sebagai upaya pencegahan dari covid-19, rupanya telah membuka tabir emak masa kini tentang bagaimana mendidik para generasi.

Ada yang terkikis punah, hingga para emak cenderung pasrah, salah siapakah? 

Ketika fitrah ibu menjadi madrasah pertama tergadai karena tuntutan duniawi, ketika ummi menjadi tak peduli dengan konsep parenting yang islami, ketika para emak pasrah pada konsep didik disekolah.

Seorang penyair berkata : "Ibu adalah madrasah jika kamu menyiapkanNya, maka dia menyiapkan generasi berkarakter baik. Apabila para ibu tumbuh dalam ketidaktahuan, maka anak-anak akan menyusu kebodohan dan keterbelakangan" 

Bayangkan, bagaimana nasib generasi jika ASI ibu saja anak tak mencicipi, terganti dengan sufor masa kini, ketika anak beranjak gede, rutinitasnya full day di sekolah, jangankan main atau belajar bareng emaknya, melihat emaknya pun hanya beberapa menit saja. Fenomena apa ini? Kenapa semua menjadi tak terkendali? Keterlaluan bukan?

Bercermin dari generasi pada jaman kekhilafahan, dimana  banyak lahir generasi emas dengan segudang prestasi gemilang, menjadi ulama besar yang menguasai berbagai bidang, sains dan teknologi banyak terpecahkan oleh tokoh Islam. Tak adakah pertanyaan, kenapa terjadi perbedaan? Padahal bunda imam Syafi'i adalah seorang janda, sudah pasti tak banyak harta, tapi lihat, hasil ijtihad nya dijadikan pedoman manusia.

Yap, perbedaanya ada pada kata kekhilafahan, "Khilafah". Negara Islam yang mampu menerapkan syariah, yang dengan syariah, setiap lini urusan terjamin, dari urusan rumah tangga hingga urusan negara, dari pendidikan, kesehatan, pernikahan.

Tapi kan sekarang khilafah belum tegak, jadi emak kudu tetap keluar dong, jauh dari buah hati untuk kumpulin materi, agar kesehatan dan pendidikan terjamin.

Jangan Mak, jangan jadi emak merana di era Corona, tetep stay di rumah yo, Corona ada karena ada yang melanggar syariat pencipta, maka emak jangan ikutan melanggar aturan Allah ya, kudu mulai terbiasa dengan peran utama menjadi istri dan emak, karena semua peran menemui pertanggungjawaban.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِىِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أَنَّهُ قَالَ « أَلاَ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالأَمِيرُ الَّذِى عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِىَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ »(رَوَاهُ مُسْلِمٌ)

Artinya: Dari Ibnu Umar RA dari Nabi SAW sesunggguhnya bersabda: sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara adalah pemimpin atas rakyatnya dan akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin atas anggota keluarganya dan akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang isteri adalah pemimpin atas rumah tangga dan anak-anaknya dan akan ditanya perihal tanggungjawabnya. Seorang pembantu rumah tangga adalah bertugas memelihara barang milik majikannya dan akan ditanya atas pertanggung jawabannya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya atas pertanggungjawabannya (HR. Muslim) 

Wallahu alam bis showab 😊✊🏴🏳️
banner zoom