JEJAK-JEJAK DOSA DAN PAHALA


Oleh : Zahida Arrosyida (Revowriter Kota Malang)

Guruku pernah mengatakan ; "tetesan air di sarang semut merupakan lautan. 
Segala sesuatu tak selalu dilihat dari ukurannya, tetapi dari dampaknya".

Ungkapan yang dikatakan beliau memang benar. Dalam kehidupan ini kita harus menjaga lisan dan perilaku ketika berucap dan bertindak. Boleh jadi yang kita anggap sepele akan berdampak besar bagi orang lain. Bisa membawa perubahan kearah yang lebih baik, bisa juga malah menjadikan lebih buruk. Ucapan dan tindakan kita bisa melukai orang lain bisa pula membuat hatinya berbunga-bunga.
Bisa menambah pahala bagi orang lain, bisa pula menambah dosa bagi orang lain.

Di era digital 4.0 ini kita menyaksikan banyak orang yang terinspirasi oleh orang lain hanya karena membaca dan melihat postingan seseorang di media sosialnya. Banyak influencer di bidang bisnis, enterpreneur, kesehatan, politik dan lainnya yang sukses menularkan semangat  bagi followers.  Hari ini informasi begitu cepat untuk diakses sehingga dalam hitungan detik sudah bisa dipastikan akan banyak yang membacanya.

===========

Bagi kaum muslimin kesempatan ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Gunakan media sosial sebagai   jalan tol untuk berbagi keindahan Islam dan  mendapatkan pahala. Bukan dijadikan ajang untuk pamer kecantikan,kemewahan, kemesraan dengan  dengan pasangan dsb. Tak perlulah mengundang kecemburuan bagi orang miskin, wajah pas-pasan dan belum punya pasangan.  Selain hal tersebut juga bisa mengundang kejahatan.

===========

Bertaubat, beristighfar, mengerjakan sholat,shaum dan amalan individu lainnya adalah amalan yang bisa dilakukan saat kita hidup. Namun dimensi waktunya terbatas, hanya sekian kali dalam hidup kita. Lantas apakah yang bisa menolong kita sekalipun telah meninggalkan dunia jika bukan amal jariyah yang pahalanya terus mengalir sekalipun kita sudah tidak ada lagi di dunia?

Amal jariyah bisa berupa uang, ilmu yang bermanfaat dan  anak saleh. Tiap orang diberikan Allah berkah yang berbeda-beda. Ada yang Allah titipkan anak tidak memiliki harta. Ada yang memiliki harta tetapi tidak memiliki anak. Kita pun tahu dari QS Al Kahfi; 46 bahwa harta dan anak adalah bagian dari keindahan dunia. Bagaimana mungkin kita mencapai akhirat kita dari perhiasan dunia? Maka kita perlu  mengubah persepsi kita tentang kehidupan dunia dan akhirat karena sesungguhnya keduanya sangatlah berkaitan.

Kita harus mampu mengenal kekuatan dan kekurangan yang kita miliki. Ketika kita menemukan potensi kekuatan kita, mintalah agar Allah terus memperkuatnya sehingga kita bisa menggunakannya untuk memperkuat agama Allah dan dengannya akan menjadi amal jariyah kita.
Ketika kita menemukan kekurangan dalam diri, janganlah diratapi. Kekurangan juga akan menghasilkan pahala ketika kita mengelolanya dengan baik. Dari kekurangan diri kita belajar sabar dan syukur. Kekurangan  diri juga menuntut terus belajar menjadi lebih baik.

Mohonlah pada Allah agar kekurangan diri menjadikan kita semakin dekat pada Allah bukan malah  membuat kita jauh dari Allah.

Ditenah-tengah gempuran peradaban barat yang terus menyerang pemikiran kaum muslimin, setiap kita punya tanggung jawab untuk  memfilter ide-ide rusak itu agar tidak meracuni kita dan orang lain. Setiap kita wajib (bukan sunah atau mubah) membela Islam apapun kondisi dan latar belakangnya. Maka gunakan media sosial untuk menyebarkan risalah Islam meskipun hanya menyampaikan satu hadist dan kondisi umat.

Inilah amal jariyah jariyah yang akan terus mengalirkan pahala pada kita. 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Apabila manusia meninggal, amalnya akan terputus, kecuali 3 hal: ‘Sedekah Jariyah, Ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang mendoakannya.’ (HR. Nasa’i 3651, Turmudzi 1376, dan dishahihkan Al-Albani).

==========

Disamping ada pahala jariyah, dalam islam juga ada dosa yang sifatnya sama, dosa jariyah. Dosa yang tetap terus mengalir, sekalipun orangnya telah meninggal. Dosa yang akan tetap ditimpakan kepada pelakunya, sekalipun dia tidak lagi mengerjakan perbuatan maksiat itu.

Satu prinsip yang selayaknya kita pahami, bahwa yang Allah catat dari kehidupan kita, tidak hanya aktivitas dan amalan yang kita lakukan, namun juga dampak dan pengaruh dari aktivitas dan amalan itu. Allah berfirman di surat Yasin,

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yasin: 12)

Orang yang melakukan amal dan aktivitas yang baik, akan Allah catat amal baik itu dan dampak baik dari amalan itu. Karena itulah, islam memotivasi umatnya untuk melakukan amal yang memberikan pengaruh baik yang luas bagi masyarakat. Karena dengan itu dia bisa mendapatkan pahala dari amal yang dia kerjakan, plus dampak baik dari amalnya.

Sebaliknya, orang yang melakukan amal buruk, atau perbuatan maksiat, dia akan mendapatkan dosa dari perbuatan yang dia lakukan, ditambah dampak buruk yang ditimbulkan dari kejahatan yang dia kerjakan. Selama dampak buruk ini masih ada, dia akan terus mendapatkan kucuran dosa itu. – wal’iyadzu billah.. –, itulah dosa jariyah, yang selalu mengalir. Sungguh betapa mengerikannya dosa ini.

Mengingat betapa bahayanya dosa jariyah ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan umatnya agar berhati-hati, jangan sampai dia terjebak melakukan dosa ini.

Diantara sumber dosa jariyah yang telah diperingatkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

1)  Mempelopori perbuatan maksiat.

Mempelopori dalam arti dia melakukan perbuatan maksiat itu di hadapan orang lain, sehingga banyak orang yang mengikutinya. Meskipun dia sendiri tidak mengajak orang lain untuk mengikutinya. Dalam hadis dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْء

“Siapa yang mempelopori satu kebiasaan yang buruk dalam islam, maka dia mendapatkan dosa keburukan itu, dan dosa setiap orang yang melakukan keburukan itu karena ulahnya, tanpa dikurangi sedikitpun dosa mereka.” (HR. Muslim).

Orang ini tidak mengajak lingkungan sekitarnya untuk melakukan maksiat yang sama. Orang ini juga tidak memotivasi orang lain untuk melakukan perbuatan dosa seperti yang dia lakukan. Namun orang ini melakukan maksiat itu di hadapan banyak orang, sehingga ada yang menirunya atau menyebarkannya.

Karena itulah, anak adam yang pertama kali membunuh, dia dilimpahi tanggung jawab atas semua kasus pembunuhan karena kedzaliman di alam ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُقْتَلُ نَفْسٌ ظُلْمًا إِلَّا كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ الأَوَّلِ كِفْلٌ مِنْ دَمِهَا

“Tidak ada satu jiwa yang terbunuh secara dzalim, melainkan anak adam yang pertama kali membunuh akan mendapatkan dosa karena pertumpahan darah itu.” (HR. Bukhari-Muslim).

Bisa dibayangkan, orang yang pertama kali mendesain pakaian yang mengumbar aurat,di posting dimedsos lalu ditiru banyak orang. Sekalipun dia tidak mengajak khalayak untuk memakai rok mini, namun dia yang mempeloporinya. Lalu banyak orang yang meniru, maka dia mendapatkan kucuran dosa semua orang yang menirunya, tanpa dikurangi sedikitpun.

Tak jauh beda dengan mereka yang membuat video porno atau cerita seronok di medsos tak terkecuali media massa, kemudian ada orang yang nonton atau membacanya, dan dengan membaca itu dia melakukan onani atau zina atau bahkan memperkosa, maka yang orang yang posting akan mendapat aliran dosa dari semua maksiat yang ditimbulkan karenanya.

2)  Mengajak melakukan kesesatan dan maksiat

Dia mengajak masyarakat untuk berbuat maksiat, meskipun bisa jadi dia sendiri tidak melakukan maksiat itu. Merekalah para juru dakwah kesesatan, atau mereka yang mempropagandakan kemaksiatan.

Allah berfirman, menceritakan keadaan orang kafir kelak di akhirat, bahwa mereka akan menanggung dosa kekufurannya, ditambah dosa setiap orang yang mereka sesatkan,

لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ

Mereka akan memikul dosa-dosanya dengan penuh pada hari kiamat, dan berikut dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). (QS. an-Nahl: 25)

Imam Mujahid mengatakan,

يحملون أثقالهم: ذنوبهم وذنوب من أطاعهم، ولا يخفف عمن أطاعهم من العذاب شيئًا

Mereka menanggung dosa mereka sendiri dan dosa orang lain yang mengikutinya. Dan mereka sama sekali tidak diberi keringanan adzab karena dosa orang yang mengikutinya. (Tafsir Ibn Katsir, 4/566).

Ayat ini, semakna dengan hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

“Siapa yang mengajak kepada kesesatan, dia mendapatkan dosa, seperti dosa orang yang mengikutinya, tidak dikurangi sedikitpun.” (HR. Ahmad 9398, Muslim 6980, dan yang lainnya).

Para propagandis yang menyebarkan aliran sesat, menyebarkan pemikiran menyimpang, menyerukan masyarakat untuk menyemarakkan kesyirikan dan bid’ah, menyerukan masyarakat untuk memusuhi dakwah, panji Tauhid merekalah contoh yang paling mudah terkait hadis di atas.

Mereka yang mengiklankan kemaksiatan, memotivasi orang lain untuk berbuat dosa, sekalipun dia sendiri tidak melakukannya, dia tetap mendapatkan dosa dari setiap orang yang mengikutinya.

Semoga bermanfaat dan jadi pengingat bahwa jejak-jejak perbuatan akan terus mengiringi hidup kita, baik di dunia mau pun di akhirat.
banner zoom