Solusi Tidak Becus Remaja Rentan HIV Virus
Oleh : Fatimah Abdul (Aktivis Muslimah)
Meningkatnya kasus remaja yang terjangkiti virus HIV sungguh sangat memprihatinkan. Seharusnya masalah ini diperhatikan secara serius oleh pemerintah. Memberikan solusi yang benar-benar membuat kasus ini setidaknya menurun, jika perlu dapat diatasi dengan tuntas sehingga para orang tua tidak memiliki kekhawatiran terhadap keselamatan anak-anaknya.
Menurut data resmi yang telah dikonfirmasi, jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS pada kelompok usia 11–17 tahun sejak 2001 hingga Juni 2026 tercatat sebanyak 60 orang. Terdapat sekitar tujuh anak yang telah meninggal dunia, sehingga data riil saat ini tercatat ada 53 anak usia pelajar yang teridentifikasi HIV/AIDS," kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo Lakhsmie Herawati Yuwantina (regional.kompas.com, 24/07/2026).
Sementara itu, (masih berdasarkan data dari dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo) sejak tahun 2001 hingga Juni 2026 telah ditemukan sejumlah 7.230 orang yang hidup dengan virus HIV berdasarkan data secara kumulatif pada kelompok usia 0-24 tahun. Dari jumlah tersebut terdapat 522 orang berstatus pelajar dari jenjang PAUD hingga SMA. Peningkatan kasus dari tahun ke tahun terjadi sejalan dengan semakin luasnya jangkauan layanan tes HIV padai fasilitas pelayanan kesehatan, klinik, puskesmas maupun rumah sakit.
Di kabupaten Tulungagung, jumlah penderita HIV mencapai 4.540 orang. Data diambil dari awal pencatatan hingga pertengahan tahun 2026 yang dihimpun oleh Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) dan Dinas Kesehatan. Dari total jumlah penderita didominasi oleh kelompok usia produktif.
Sekitar 630 kasus yang terjadi pada kelompok usia remaja (muda) memiliki rentang usia 13 hingga 25 tahun. Sementra itu berdasarkan tren penularan pada usia muda, mulai bergeser dan banyak ditemukan pada rentang usia 15 hingga 19 tahun. Ini terjadi akibat faktor risiko hubungan seksual secara bebas/pergaulan bebas yang tengah melanda pada dunia remaja.
Menurut Wakil Gubernur Jawa Timur bapak Emil Dardak, pendidikan seksual sejak dini merupakan langkah penting untuk mencegah perilaku seksual berisiko yang dapat berujung pada penularan virus HIV/AIDS. Edukasi seksual menurut beliau sangat diperlukan supaya anak dapat memahami resiko terhadap pergaulan bebas. Benarkah pendidikan seksual sejak dini dapat menekan resiko pergaulan bebas? Apakah solusi ini efektif?
Penyebab Meningkatnya Kasus HIV
Sebelum membahas masalah apakah pendidikan seksual sejak dini mampu menekan resiko yang ditimbulkan, mari membahas akar masalahnya terlebih dahulu.
Tingginya angka pengidap virus HIV/AIDS merupakan indikasi bahwa sistem sosial yang ada di masyarakat saat ini tengah mengalami kemunduran bahkan kerusakan. Penerapan sistem sekuler kapitalisme merupakan penyebab dari carut marut masalah generasi muda. Tren pergaulan bebas yang dimunculkan oleh sistem ini membuat mereka hidup bebas tanpa mau terikat oleh aturan sehingga menyebabkan berbagai kerusakan mental dan moral. Banyaknya pasangan “kumpul kebo” bahkan perilaku gonta-ganti pasangan membuat mereka rentan terkena virus HIV/AIDS, terjerat kasus KDRT, depresi, meningkatnya kasus bunuh diri, bahkan tindak kejahatan pembunuhan.
Jadi jelas bahwa memberikan edukasi dini terhadap remaja justru merupakan bumerang. Mereka salah mengartikan pendidikan seksual dini sebagai lampu hijau untuk memulai hubungan asalkan dilakukan dengan sehat. Anggapan yang demikian tentu akan membuat trend pergaulan bebas ini akan semakin marak dan dampak yang ditimbulkan akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah remaja setiap tahunnya.
Dengan demikian jelas sudah bahwa solusi memberikan pendidikan seksual sejak dini merupakan cara pandang terhadap penanggulangan virus hiv yang kental dengan paradigma sekularisme liberal. Dan ini jelas tidak akan mampu mengatasi masalah secara tuntas bahkan jauh dari akar masalah dan hanya bersifat pencegahan bukan solusi hakiki.
Sistem Pemerintahan Islam Dalam Mengatasi Kasus HIV/AIDS
Virus HIV/AIDS merupakan jenis virus yang menular, untuk itu penularan virus ini perlu untuk diantisipasi. Dikarenakan penularan virus ini salah satunya adalah melalui aktivitas seksual, maka dibutuhkan adanya edukasi baik itu untuk masyarakat umum maupun untuk generasi muda. Hal ini sangat penting mengingat pergaulan remaja saat ini sangat menjurus pada pergaulan bebas bahkan sudah menjadi sebuah fenomena.
Untuk mencegah Virus HIV/AIDS pada remaja dalam hal ini “pelajar”, Sistem pemerintahan dalam Islam memiliki cara yang tepat dalam mengatasinya. Tidak hanya dapat mengurangi jumlah penderita, namun juga dapat mencegah mereka untuk mendekati pergaulan bebas yang menjurus pada aktivitas perzinaan. Islam membangun sebuah sistem pergaulan sosial yang preventif yaitu melalui Sistem Pergaulan dalam Islam (Nizam Al Ijtima’i) yang mana didalamnya mengatur interaksi-interaksi yang benar dalam islam itu seperti apa. Melalui aturan menjaga pandangan, larangan mendekati zina, perintah memakai pakaian yang syar’i, aturan pernikahan, serta sanksi/uqubat bagi siapa saja yang melakukan pelanggaran terhadap hukum-hukum syara tersebut.
Dalam sistem pemerintahan Islam juga menerapkan Sistem Pendidikan Islam yang mengintegrasikan materi kesehatan reproduksi dengan ilmu fiqih pergaulan dan akhlak. Dengan demikian pelajar dapat memahami bahwa menjaga kesehatan organ reproduksi merupakan bagian dari ibadah dan amanah dari sang pencipta yang wajib untuk ditaati. Karena penjagaan itu merupakan salah satu bentuk kewajiban dalam ibadah maka ada mindset dalam diri mereka (pelajar) jika dilanggar akan mendapatkan sanksi dan dosa. Bukankah setiap perbuatan baik dan buruk akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat oleh Allah SWT?
Islam juga menerapkan sistem penjagaan 3 pilar untuk melindungi generasi penerus bangsa dari ancaman HIV/AIDS dan pergaulan bebas yaitu melalui penguatan aqidah dari sisi keluarga, masyarakat atau lingkungan sebagai kontrol sosial yang kan segera menindaklanjuti permasalahan di masyarakat, serta negara yang menerapkan aturan-aturan yang berlandaskan hukum syara’.
Dengan demikian generasi muda akan memiliki keimanan yang kuat dan pengaruh pergaulan bebas tidak akan membuat mereka goyah karena penjagaan 3 pilar akan benar-benar melindungi mereka. Wallahu'alam bishawab. []

Posting Komentar