Nasib Gen Z di Tengah Tingginya Angka Pengangguran
Nasib Gen Z di Tengah Tingginya Angka Pengangguran
Oleh. Susi Ummu Musa
Seharusnya semakin banyak jumlah manusia maka lapangan pekerjaan juga disesuaikan sehingga banyak lulusan yang dikeluarkan setiap tahunnya bisa mendapatkan pekerjaan jika ingin bekerja, disamping itu dibarengi dengan pelatihan dan life skill karna kemampuan yang mereka miliki sesuai.
Namun Gen z barangkali membuat masyarakat khawatir akan masa depannya,jika gen z terfokus hanya pada satu tujuan yaitu kerja. Padahal mereka juga seharusnya bisa menjadi garda terdepan dalam memajukan bangsa namun kesempatan itu terlihat lemah saat sistem pendidikan yang carut marut tengah melanda negri ini.
Berbagai problema yang menimpa bangsa ini yang menjadikan angka pengangguran tinggi dan PHK massal lantas bagaimana nasib gen z kedepan jika ini terus terjadi?
KOMPAS.com - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengungkapkan bahwa hampir 67 persen pengangguran merupakan generasi Z atau Gen Z. Shinta mengatakan, tingginya angka pengangguran itu berkaitan erat dengan ketersediaan lapangan kerja dalam negeri yang Dan ini yang saya paling khawatirkan sekarang adalah pengangguran terbesar itu ternyata ada di Gen Z. Hampir 67 persen,” kata Shinta dalam talk show Economic Outlook 2026 yang tayang di Kompas TV, Selasa (16/12/2025)
Di Indonesia sendiri, data terbaru dari Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) per Pebruari 2025 juga menunjukkan fenomena yang sama. Gen Z tercatat menempati tingkat pengangguran terbuka (TPT) tertinggi, yakni mencapai 16,16% dari total jumlah pengangguran yang ada yang menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlahnya mencapai 7,28 juta.
Miris, bahkan cukup mencemaskan dan perlu perhatian ditengah gaya hidup yang serba konsumtif ini mereka tengah berjuang untuk sekedar bisa mendapatkan pekerjaan.
Bisa dilihat saat itu sebuah lowongan pekerjaan hanya mencari beberapa orang namun yang melamar hingga ribuan orang.
Banyak faktor yang disebut-sebut menjadi penyebab fenomena global ini. Antara lain akibat ketidaksesuaian keterampilan (skill mismatch), adopsi teknologi AI yang menggeser banyak pekerjaan, dan memperparah resiko pengangguran struktural, dominasi sektor informal, serta lambatnya penciptaan lapangan kerja dibanding penambahan angkatan kerja baru.
Laporan WEF sendiri menyebut ancaman pengangguran ini berkelindan dengan ancaman lain yang akan dihadapi Indonesia, seperti masalah kurangnya layanan publik dan perlindungan sosial (termasuk akses pendidikan, infrastruktur, dan dana pensiun), dampak negatif dari teknologi kecerdasan buatan, adanya kemerosotan ekonomi berupa risiko resesi ataupun stagnasi ekonomi, serta masalah inflasi.
Gen Z sebagaimana generasi yang lainnya sejatinya hanyalah korban sistem sekaligus korban penguasa yang abai terhadap urusan-urusan rakyatnya. Sampai kapan pun mereka akan menjadi korban jika tidak ada upaya untuk mengubah sistem sekuler kapitalisme yang terbukti gagal membawa kebaikan.
Satu-satunya harapan hanya pada sistem Islam yang dikenal sebagai sistem Khilafah. Sistem ini tegak di atas keimanan bahwa Allah Swt. bukan hanya sebagai Sang Pencipta, tapi juga sekaligus Sang Pengatur. Itulah sebabnya Allah Swt. menurunkan seperangkat aturan untuk menjadi tuntunan bagi kehidupan manusia di semua tempat dan dari zaman ke zaman.
Wallahu a lam bissawab

Posting Komentar