Menelisik SKB Kesehatan Jiwa Anak
Oleh Firda Umayah
Penamabda.com-Baru-baru ini, 9 Kementerian Indonesia menandatangani SKB (Surat Keputusan Bersama) guna mencegah dan menangani masalah kesehatan mental anak. SKB kesehatan jiwa anak ini diteken oleh Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (MenteriPPPA) Arifah Fauzi, Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian, Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar, Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf, Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid, serta Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo.
Kemenkes mendata bahwa ada 4 faktor utama pemicu keinginan anak mengakhiri hidup. Yaitu karena konflik keluarga sebanyak 24–46 persen, masalah psikologis 8–26 persen, perundungan 14–18 persen, serta tekanan akademik 7–16 persen. Untuk memperkuat pengawasan atas SKB yang telah disepakati, Kemendikdasmen menggunakan digitalisasi laporan kasus guna penanganan yang lebih cepat. (wartaterkini.news, 12/03/2026)
Krisis kesehatan jiwa anak memang makin meningkat. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya kasus stress, depresi, dan gangguan jiwa pada anak. Dampaknya pun beragam. Anak bisa melakukan tindakan kriminal, mengakhiri diri, mengurung diri, dll. Jika ditelusuri lebih dalam, semua itu merupakan efek domino dari penerapan sistem kehidupan sekuler liberal.
Ketika paradigma dan nilai-nilai moral khususnya nilai Islam di tengah masyarakat makin tergerus oleh nilai-nilai sekuler liberal, maka kemerosotan moral dan mental kian parah. Sistem ekonomi kapitalisme yang mencekik turut memengaruhi kondisi keluarga seseorang. Akibatnya, sedikit banyak mental anak menjadi terganggu. Ditambah lagi dengan lingkungan masyarakat yang hedonis dan individual. Kesehatan mental anak tak lagi diperhatikan.
Inilah fakta yang dihadapi dengan hegemoni media kapitalisme global. Dalam dunia pendidikan, pendidikan sekuler tak menjamin anak bebas dari perrundungan. Di keluarga dan masyarakat yang tidak berpijak pada akidah dan syariat Islam turut memperparah kondisi mental anak. Ketika parameter sukses diukur dari kesuksesan yang bersifat materi, maka tuntutan materi menjadi beban yang tak terhindari.
Kerusakan yang ditimbulkan oleh penerapan sistem sekuler liberal kapitalistik seharusnya membuat masyarakat sadar bahwa sistem ini tidak bisa terus dipertahankan. Sistem kapitalisme yang meniadakan aturan Allah dalam kehidupan nyatanya telah membawa kerusakan dan kesengsaraan hidup manusia. Tak hanya lingkungan keluarga dan masyarakat, lingkungan negara pun turut memperparah kondisi mental anak-anak.
Negara yang harusnya menjalankan tanggung jawabnya sebagai pengurus dan perisai dalam melindungi anak dan keluarga tidak bisa menjalankan fungsinya lantaran kerusakan nilai sekuler, liberal kapitalistik. Paradigma politik dalam sistem pendidikan, sistem kesehatan dan sistem ekonomi dalam sistem kapitalisme juga menyumbang ketidakharmonisan keluarga yang berimbas pada mental anak.
Oleh karena itu, jika negara ingin menyelamatkan mental generasi, harus ada integrasi antarsistem kehidupan yang diatur berdasarkan syariat Islam. Dalam pandangan syariat, anak atau generasi adalah amanah yang harus dijaga. Menjaga kesehatan mental atau jiwa anak bukan sekadar menciptakan suasana menyenangkan dalam kehidupan mereka. Melainkan juga menciptakan sistem penuh keimanan yang diatur sesuai syariat Allah.
Anak sejatinya merupakan korban dari penerapan sistem kapitalisme dalam semua aspek kehidupan. Maka dari itu, solusi terbaik untuk menyelamatkan generasi adalah dengan mewujudkan sistem Islam dalam semua ranah kehidupan sebagaimana yang telah Rasulullah saw. lakukan saat beliau saw. menjadi Rasul sekaligus pemimpin negara Islam. Sungguh, Islam adalah aturan terbaik sebagaimana firman Allah Swt. dalam Al-Qur'an surah Al-Maidah ayat 50,
"Apakah hukum jahiliah yang kalian kehendaki, dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang menyakini?".
Wallahu a'lam bishawab. []


Posting Komentar