KEBRUTALAN ZIONIS TAK TERBENDUNG, UMAT HARUS TERUS MENGGAUNGKAN SOLUSI HAKIKI
Oleh : A. Salsabila Sauma
Setidaknya 20 orang, termasuk lima jurnalis yang bekerja di media Internasional, tewas terbunuh dalam serangan ganda Israel di Rumah Sakit Nasser yang berlokai di Khan Younis, Gaza bagian selatan. Salah satu korban adalah Hussam al-Masri, juru kamera sekaligus kontraktor Reuters, yang tewas dalam serangan pertama. (beritasatu)
Video yang merekam serangan kedua dari Israel menyasar tim penyelamat menyebar di berbagai media sosial. Tim penyelamat ini datang untuk mengevakuasi korban dari serangan pertama zionis Israel ke rumah sakit Nasser. yang menjadi dari serangan pertama. Kejadian ini menambah daftar panjang jurnalis yang gugur selama genosida di Gaza ini. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyebut insiden ini sebagai “kecelakaan tragis”. Ia mengatakan otoritas militernya sedang “melakukan penyididkan”. (beritasatu)
Para jurnalis tersebut bekerja untuk kantor berita Internasional seperti Associates Press Reuters, Al Jazera, dan Middle ast Eye, seperti dikonfirmasi oleh media-media terebut. Empat petugas medis juga tewas dalam serangna ini, menurut kepala Organisai Kesehatan Dunia, yaitu Mariam Dagga, Ahmed Abu Aziz, Mohammad Salama, dan Moaz Abu Taha (bbcindonesia)
Sejak Oktober 2023, jurnalis yang terbunuh akibat serangan Israel telah mencapai 200 orang. Gugurnya para jurnalis di Gaza membuat khawatir rekan media di seluruh dunia. Sebab dunia sangat bergantung dengan siaran mereka. Para jurnalis Gaza inilah yang kerap memperlihatkan kondisi nyata kejahatan yang dilakukan oleh zionis. Gugurnya mereka sama saja dengan pembungkaman paksa atas penjajahan yang dilakukan oleh zionis.
RESPON DUNIA TERHADAP GENOSIDA DI GAZA
Tidak ada reaksi khusus dari lembaga dunia, selain kecaman belaka terhadap tindakan brutal yang zionis Israel lakukan. Dari lembaga “perdamaian dunia” PBB, WHO, UNICEF, bahkan para pemimpin dunia. Tak satu pun berani bertindak, merealisasikan hukuman kepada Perdana Menteri Israel dan otoritas militernya.
Diamnya para penguasa dan lembaga dunia membuat geram masyarakat di seluruh di nua. Sehingga dicetuskanlah Global Sumud Flotilla. Gerakan ini merupakan lanjutan dari pelayaran Flotilla sebelumnya dengan kapal Medleen dan Handala, yang ironinya kedua pelayaran tersebut belum berhasil menembus blokade Gaza dan malah mendapat persekusi dari otoritas militer Israel.
Global Sumud Flotilla ini membawa misi untuk membangun koridor kemanusiaan ke Gaza. Menurut kesaksian para aktivis, kekurangan air, listrik, dan makanan di wilayah Palestina merupakan kesengajaan. Pun dengan pengeboman rumah sakit dan sekolah.
Delegasi dari 44 negara akan berpartisipasi dalam pelayaran ini. Dengan misi besar yaitu mematahkan pengepungan illegal Israel, negara-negara dari enam benua mengambil bagian dalam armada tersebut, termasuk diantaranya Australia, Brasil, Afrika Selatan, dan sejumlah negara Eropa. Para peserta ini tidak terafiliasi dengan pemerintah atau partai politik mana pun.
Global Sumud Flotilla ini juga diharapkan dapan menyadarkan para penguasa dan lembaga dunia atas apayang terjadi di Gaza. Para aktivis dan masyarakt berharap lembaga-lembaga Internasional bisa ikut melindungi pelayaran ini dan berhenti bertindak defensif terhadap penjajahan yang dilakukan zionis Israel.
YANG UMAT MESTI LAKUKAN
Mengikuti gerakan besar ini, umat muslim pun juga harus ikut bergegas untuk menolong saudara yang ada di Gaza. Dua miliyar adalah angka yang besar untuk bisa melawan kekejian zionis. Jumlah umat muslim yang tinggi ini seharusnya bisa mendesak para pemimpin dunia, khususnya pemmpin negara Arab untuk bertindak secara militer terhadap kelakuan zionis Israel. Hanya saja jumlah yang besar tidak akan bisa apa-apa kalau tidak adanya visi misi yang sama dan jelas.
Kesadaran bahwa hak kepemilikan tanah Palestina, tanah Syam ada di tangan umat muslim harus terus dilakukan. Urusan Palestina bukan sekadar perebutan tanah sangketa. Tanah itu adalah milik umat muslim yang ambil paksa oleh zionis. Pemahaman akan sejarah Syam dan Baitul Maqdis harus menjadi kesadaran umum umat muslim. Inilah tugasnya para pendakwah
Perlu ditanami pemahaman bahwa kejahatan militer takkan bisa selesai dengan perundingan diplomasi saja. Pembebasan tanah tersebut membutuhkan jihad dan kewajiban jihad telah ada sejak dulu dan terbukti mampu mengakhiri penjajahan. Namun jihad belum bisa dilakukan jika masyarakat muslim masih terpecah belah seperti saat ini.
Umay muslim perlu bersatu dengan ideology yang sama. Pemahaman yang benar tentang Palestina akan mendatangkan solusi yang pasti. Edukasi secara massif perlu dilakukan agar umat muslim mengerti kenapa harus membela umat muslim di Palestina. Pondasi yang dibentuk harus kuat dan kokoh, tidak hanya sekadar rasa kasihan dan kemanusiaan belaka. Hanya kesamaan ideologi, yaitu ideologi Islamlah yang memungkinkan pembebasan Palestina dan Al Aqsa bisa diwujudkan.
Wallahu’alam bi showab

Posting Komentar