Kemerdekaan Untuk Palestina, Mungkinkah Tercipta?

Oleh : Puspita NT ( Pegiat Literasi )

Palestina kembali berdesing akibat serangan polisi Israel kepada jemaah Masjidilaqsa. Akibat serangan itu, setidaknya 178 warga terluka. Sejak Senin malam, militer Israel membombardir Gaza. Sebanyak 24 orang gugur, 9 di antaranya adalah anak-anak, dan 107 warga terluka akibat serangan tersebut. (Republika, 11/5/2021)

Tragedi serupa berulang kali terjadi, hal ini sebenarnya memunculkan pertanyaan besar. Dan akar persoalannya jelas bukan sekedar krisis kemanusiaan yang bisa diselesaikan dengan hukum HAM ( Hak Asasi Manusia). Satu-satu nya yang berhak atas tanah Palestina adalah kaum muslimin.  Hal ini diabadikan oleh heroik nya sejarah pada masa Sulthan Abdul Hamid II.

 “Aku tidak akan melepaskan walaupun sejengkal tanah ini (Palestina) karena ia bukan milikku. Tanah itu adalah hak umat Islam. Umat Islam telah berjihad demi kepentingan Palestina. Mereka telah menyiraminya dengan darah mereka. Maka biarkanlah orang-orang Yahudi itu menggenggam jutaan uang mereka. Jika negeriku tercabik-cabik, maka sangat mungkin mendapatkan negeri Palestina, tanpa ada imbalan dan balasan apa pun. Namun harus diingat, bahwa hendaknya pencabik-cabikan itu dimulai dari tubuh dan raga kami. Namun tentunya saya juga tidak akan menerima, raga saya dicabik-cabik sepanjang hayat masih di kandung badan.” (Sultan Abdul Hamid II)

Lugas dan tegas, disammpaikan kepada penggagas berdirinya negara Zionis, Theodore Herzl ketika melobi Sultan untuk memberikan Palestina kepada Yahudi. Ia  memberikan tawaran yang cukup menggiurkan kala itu. Yaitu melunasi utang-utang Khilafah Utsmani yang saat itu berada dalam kondisi terpuruk.

Tidak hanya itu, sultan Abdul Hamid II juga  menegaskan, selama ia masih hidup, ia lebih rela menusukkan pedang ke tubuhnya sendiri daripada melihat tanah Palestina dikhianati dan dipisahkan dari Khilafah Utsmaniyah.

Begitulah sejarah membuktikan bahwa Palestina adalah milik kaum muslimin yang harus dijaga dengan nyawa. Pantang diberikan begitu saja kepada Yahudi. Jika muncul perebutan kepemilikan, tentu pihak yang merebut harus diusir, dan juga mengembalikannya kepada pemilik yang sah.

Jadi, solusi dua negara yang ditawarkan PBB sejatinya sama sekali  tidak menyentuh akar masalah. Bisa dikatakan itu hanyalah akal-akalan AS sebagai sekutu abadi Israel untuk memberi ruang bagi Israel mendominasi wilayah Palestina. Sejak AS menyatakan Yerusalem sebagai ibu kota Israel, sebenarnya dia tak lagi layak menjadi negosiator atau menyebut dirinya sebagai polisi dunia. Jelas ditangan PBB Palestina tidak akan merdeka dan tidak mendapatkan hak nya seutuhnya.

Solusi hakiki bagi Palestina adalah one state solution, yaitu dengan mengusir Yahudi Israel dari Palestina dan memerangi Israel dengan mengerahkan militer negeri-negeri Islam. Jika kekuatan militer negeri-negeri Islam digabung, itu sudah cukup meluluhlantakkan Israel.

Jadi Palestina butuh bantuan militer, dibandingkan bantuan-bantuan yang lain. Hanya dengan memerangi Israel, tanah Palestina bisa kembali ke pangkuan kaum muslim. Pertanyaannya, beranikah para pemimpin muslim bersatu menyerukan perlawanan dengan memerangi Israel?

Tentu diibutuhkan keberanian besar untuk melakukannya.  Sayangnya, kepentingan nasional masing-masing negeri Islam menjadi hambatan terbesar. Sekat nation state membuat para pemimpin muslim hanya mampu mengecam dan mengutuk.
Sekat Nation ini, menjadi penyebab tudak adanya penjaga dan pelindung hakiki bagi umat Islam di seluruh dunia. Penjaga dan Pelindung hakiki,  yang mampu menggetarkan para musuh Islam itu, hanyalah  khalifah bagi kaum muslim layaknya Umar bin Khaththab dan Shalahudin al-Ayubi.

Jika menelisik sejarah, di dalam naungan Islam, di bawah kepemimpinan seorang khalifah, Palestina mampu mewujudkan kehidupan tiga agama (Islam, Nasrani, Yahudi) secara damai. Dan Ketika  Palestina terlepas dari tangan kaum muslimin, justru kedamaian itu hilang.

Jadi sebenarnya tidak ada yang perlu ditakutkan dengan kembali nya tanah Palestina ke tangan kaum muslimin. Pun kembali nya bumi para Nabi di pangkuan kaum muslimin adalah sebuah keniscayaan. Menolak kemenangan kaum muslimin atas Palestina seperti menolak terbitnya matahari, mustahil.

Tanah Palestina akan kembali ke pangkuan kaum muslim manakala umat memiliki kepemimpinan tunggal yang akan mengerahkan tentara terbaik melawan Israel. Kepemimpinan yang menyatukan negeri Islam dalam satu institusi.
Yaitu negara Khilafah Islamiah, negara yang mampu menandingi kekuatan musuh Islam demi menjaga martabat dan kemuliaan Islam. Bukan para pemimpin muslim yang lemah karena sekat negara bangsa.

Allahu 'alam Bis Showab
banner zoom