Harapan dari Even Muslimah Terbesar : Kembalinya Sistem Islam

Oleh : War Yati (Komunitas Pena Islam)

Penamabda.com - Di akhir tahun 2020, muslimah khususnya mendapat kado terindah dari para wanita super pejuang peradaban Islam. Acara RATU atau Risalah Akhir Tahun yang mereka suguhkan sungguh apik dan mengedukasi umat. Acara tersebut digagas oleh muslimah cerdas berdedikasi tinggi dalam gelaran Digital Event Muslimah.

Selain mencerdaskan umat, acara tersebut diisi oleh para narasumber hebat yaitu Ibu Hj. Ir Dedeh Wahidah Achmad (Konsultan dan Trainer Keluarga Sakinah), Ibu Pratama Julia Sujandari, S.P. (Pengamat Kebijakan Publik), Ibu Ratu Erma Rahmayanti, S.P (Pemerhati Kebijakan Keluarga dan Generasi). Tentunya juga kesuksesan acara RATU berkat kehebatan MC, Hj Firda Mutmainah, S.Si dan keterampilan host, Ustazah Nanik Wijayanti, S.P. dalam membawakan acara. 

Saat menyampaikan materi, pemaparan ketiga narasumber ini begitu menggugah dan menarik. Mereka mampu membakar semangat puluhan ribu muslimah yang menyaksikan acara tersebut. Walau dari segi usia mereka yang tak muda lagi, namun semangat dan kepedulian mereka terhadap permasalahan umat begitu tinggi dan patut diacungi jempol.

Acara Ratu dihadiri oleh muslimah seluruh indonesia dari berbagai kalangan dan profesi. Dari emak-emak biasa sampai wanita luar biasa. Umumnya mereka yang peduli permasalahan umat dan berkeinginan tuk memperbaikinya.

Bagi sebagian umat yang masih menggantungkan harapan pada demokrasi tentu tercerahkan dengan adanya acara ini. Selain pemaparan apik dari para narasumber ada juga testimoni dari tokoh masyarakat seperti ustazah Irene Handono (pakar kristologi), ibu Hj Komariyah (Pembina 60 Majelis Ta'lim) dan ibu Dr. Ir Pigoselpi Rokhimin Dahuri. Msi (tokoh masyarakat).

Semuanya menolak tegas sistem demokrasi yang saat ini diterapkan hampir di seluruh dunia. Kebobrokan dari sistem ini nyata terlihat, rusak dan merusak. Adapun jika ada manusia yang mengakui sekaligus meyakini kebenaran sistem demokrasi, maka manusia tersebut termasuk manusia sombong karena menafikan adanya peran pencipta dalam kehidupan.

Manusia diciptakan dengan kelemahan dan keterbatasan yang dimilikinya. Jadi tidak mungkin jika manusia mampu membuat aturan sempurna untuk mengatur kehidupan manusia itu sendiri. Namun faktanya, dalam demokrasi manusia dibolehkan membuat hukum. Tentu saja hukum yang dihasilkan takkan mampu menyaingi kehebatan hukum yang Allah buat. Akibatnya kerusakan terjadi di mana-mana dan demokrasi pun di ambang kehancuran.

Kehancuran demokrasi tidak hanya diakibatkan dari lemahnya sistem ini dalam membuat hukum. Namun juga karena ulah pemimpinnya, baik pemimpin yang otoriter maupun pemimpin yang terlihat kalem. Pada dasarnya karakter pemimpin bukan pengaruh utama kehancuran demokrasi, tetapi kebijakanlah yang melatarbelakangi kerusakan para pemimpin demokrasi.

Jargon indah demokrasi dari, oleh, dan untuk rakyat ternyata dihianati oleh pengusung demokrasi itu sendiri. Perselingkuhan antara penguasa dan pengusaha menjadi penyebab utama bergesernya nilai-nilai demokrasi. Dalam hal ini, rakyat bukan lagi yang utama. Selama korporasi mendapat keuntungan maka apa pun dilakukan termasuk menghianati janji terhadap rakyat dan melalaykan kewajiban kepada rakyat.

Demokrasi dan kekuasaannya memang mampu memberikan kenyamanan hidup bagi orang-orang yang duduk di tampuk kekuasaan. Namun gagal dalam memberikan keadilan dan kesejahteraan bagi rakyatnya. Terbukti hukum demokrasi tajam ke bawah dan tumpul ke atas, masyarakat miskin terus bertambah di setiap tahunnya, dan masih banyak ketimpangan yang disebkan oleh demokrasi.

Semoga umat tercerahkan dengan adanya acara RATU. Memahami tentang pentingnya umat untuk belajar politik Islam. Kembali pada aturan pencipta adalah solusi dari berbagai masalah saat ini. Muslimah sejati tidak hanya mengurusi kepentingan pribadi dan keluarga, namun juga peka terhadap permasalahan umat dan berkontribusi dalam memperbaiki berbagai kerusakan yang ada.

Wallahua'lam

banner zoom