Palestina Harus Tetap Ada Di Peta, Maupun Nyata


Oleh : Aya Ummu Najwa

Penamabda.com - TEMPO.CO, Jakarta - Nama Palestina dilaporkan menghilang dari Google Maps dan Apple Maps menurut para pengguna media sosial yang menyadari hilangnya label Palestina dari peta. Dikutip dari Arab News, 17 Juli 2020, para pengguna berbagi tangkapan layar Google Maps yang menunjukkan garis besar peta dengan label untuk "Tepi Barat" dan "Jalur Gaza" berdampingan dengan label "Israel".

Dikutip dari Telegraph, Palestina hilang dari Google Maps ternyata sempat terjadi pada tahun 2016. Saat itu netizen heboh hingga muncul petisi online untuk mengembalikan lagi Palestina di Google Maps.

"Google Maps saat ini sudah menjadi sumber definitif yang digunakan banyak orang mulai dari jurnalis, mahasiswa, atau peneliti yang sedang membuat jurnal terkait Israel dan Palestina. Pengakuan Google atas Palestina mungkin sama pentingnya dengan PBB," ujar seorang netizen.

Ketika Israel didirikan, PBB yang digawangi Amerika berusaha untuk membagi tanah antara kedua negara. Keputusan itu memicu konflik Israel dan Palestina yang masih berlanjut hingga hari ini, yang telah menelan banyak korban jiwa dari Palestina namun terjadi kemajuan potensial dari Israel. 

Sejak beberapa bulan setelah perang Juni 1967, permukiman Israel pertama, Kfar Etzion, dibangun di Tepi Barat. Permukiman awalnya dibangun di wilayah strategis utama atas dalih militer tapi berpenduduk jarang. Namun kini pemukiman Yahudi telah meluas hingga hampir seluruh tepi barat, bahkan di daerah-daerah padat penduduk Palestina yang mereka usir dan bunuhi. Saat ini ada lebih dari 200 ribu pemukim Israel di Yerusalem Timur. Israel meluncurkan proyek pembangunan pemukiman terbesar dalam beberapa tahun terakhir, membangun ribuan rumah.

Orang-orang Yahudi yang dulu menduduki permukiman itu meyakini Tanah Israel sebagai tanah yang dijanjikan oleh Tuhan untuk mereka, sebagai pembenar misi mereka untuk menjajah Palestina. Pada 1968, penghasut sayap kanan Israel, Rabbi Moshe Levinger menyelundup ke Hebron dengan para pengikutnya dari Gerakan Tanah Israel untuk merayakan Paskah dan menolak untuk kembali dari sana.

Pada bulan Maret 2019, Trump secara resmi mengakui kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan yang diduduki, disita dari Suriah pada tahun 1967. Pada 18 November, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menolak pendapat hukum Departemen Luar Negeri 1978 yang menyatakan bahwa pemukiman sipil di wilayah yang diduduki "tidak konsisten dengan hukum internasional," yang terbaru dalam serangkaian langkah administrasi Trump yang melemahkan klaim atas negara Palestina.

Sesungguhnya, Palestina merupakan tanah milik kaum muslim. Pada zaman Khulafaur Rasyidin tepatnya saat Khalifah Umar bin Khatab memimpin,  Palestina telah diserahkan oleh Patrik Safronius kepada Khalifah Umar. Dan itu terus berlanjut,  Palestina tetap menjadi tanah milik kaum Muslim.

Pada tahu 1896 Sultan Abdul Hamid II menegaskan kembali bahwa dia tidak akan memberikan tanah Palestina kepada Yahudi sedikitpun karena Palestina adalah milik Kaum Muslim. Hingga,  pasca Perang Dunia II, Inggris dan Perancis merampasnya dan memberikannya pada Yahudi melalui perjanjian Sykes-Picot. Pada tahun 1916, perjanjian rahasia Sykes – Picot dibuat oleh sekutu (Inggris, Perancis, Rusia), pada saat meletusnya Perang Dunia (PD) I, untuk mencengkeram wilayah-wilayah Arab yang masuk ke dalam wilayah Khilafah Utsmaniyah dan membagi-bagi tanah kaum muslim di antara mereka. Ketika PD I berakhir dengan kemenangan sekutu, Inggris mendapat kontrol atas Palestina. Pada PD I ini, Yahudi Jerman berkomplot dengan Sekutu untuk tujuan mereka sendiri (memiliki pengaruh atau kekuasaan yang lebih besar), menduduki dan merebut tanah Palestina yang mereka yakini sebagai tanah yang telah dijanjikan oleh tuhan untuk mereka.

Sejatinya, PBB dan negara-negara barat tidak akan pernah membiarkan umat Islam tenang. Mereka akan terus menggerogoti dan menjajah tanah kaum muslim. Amerika dan negara anteknya, juga perusahaan-perusahaan milik mereka akan terus mempropagandakan keberadaan Israel yang sejatinya kaum terusir sejak dulu kala. 

وَقَضَيۡنَآ إِلَىٰ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ فِي ٱلۡكِتَٰبِ لَتُفۡسِدُنَّ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَّتَيۡنِ وَلَتَعۡلُنَّ عُلُوّٗا كَبِيرٗا

Dan Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu, “Kamu pasti akan berbuat kerusakan di bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar. (Surat Al-Isra', Ayat 4)

Mereka mungkin bisa menghapus nama Palestina dari peta dunia, namun mereka hanya membodohi diri sendiri, karena sesungguhnya akan selalu ada sekelompok umat yang akan terus berjuang memperjuangkan dan mempertahankan setiap jengkal tanah kaum muslimin dan menegakkan kembali kejayaan Islam.

مِّنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ رِجَالٞ صَدَقُواْ مَا عَٰهَدُواْ ٱللَّهَ عَلَيۡهِۖ فَمِنۡهُم مَّن قَضَىٰ نَحۡبَهُۥ وَمِنۡهُم مَّن يَنتَظِرُۖ وَمَا بَدَّلُواْ تَبۡدِيلٗا

Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Dan di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya),
(Surat Al-Ahzab, Ayat 23)

Palestina adalah tanah kaum muslim, dan akan terus menjadi milik umat Islam. Yang harus terus dilakukan adalah melawan Israel yang didukung oleh Amerika dan kroninya. Walaupun Israel adalah kaum yang diberikan janji oleh Allah untuk membuat kerusakan di muka bumi berkali-kali.

إِنۡ أَحۡسَنتُمۡ أَحۡسَنتُمۡ لِأَنفُسِكُمۡۖ وَإِنۡ أَسَأۡتُمۡ فَلَهَاۚ فَإِذَا جَآءَ وَعۡدُ ٱلۡأٓخِرَةِ لِيَسُـُٔواْ وُجُوهَكُمۡ وَلِيَدۡخُلُواْ ٱلۡمَسۡجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٖ وَلِيُتَبِّرُواْ مَا عَلَوۡاْ تَتۡبِيرًا

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri. Apabila datang saat hukuman (kejahatan) yang kedua, (Kami bangkitkan musuhmu) untuk menyuramkan wajahmu lalu mereka masuk ke dalam masjid (Masjidil Aqsa), sebagaimana ketika mereka memasukinya pertama kali dan mereka membinasakan apa saja yang mereka kuasai.
(Surat Al-Isra', Ayat 7).

Namun, yakinlah kemenangan umat Islam pasti akan terjadi karena itu telah dijanjikan oleh Allah di dalam Al-Qur'an yang mulia. 

Wallahu a'lam

banner zoom