-->

Peneliti: Sistem Kesehatan Indonesia di Ujung Tanduk Hadapi Virus Corona



Pemerintah Indonesia kembali mengumumkan jumlah kasus virus corona. Disampaikan oleh Juru Bicara Penanganan Virus Corona, Achmad Yurianto, jumlah pasien positif COVID-19 di seluruh Indonesia sudah mencapai 790 orang, per Rabu (25/3).

Sejak kasus virus corona meningkat, Indonesia memang telah mengalami defisit yang cukup signifikan, terutama dalam sektor fasilitas kesehatan seperti tempat tidur rumah sakit, staf medis, dan fasilitas perawatan intensif. Para pakar telah memperingatkan bahwa Indonesia bisa menjadi episentrum baru pandemi virus corona.

Ini terlihat dari lonjakan kasus yang terjadi di setiap harinya. Menurut peneliti, melonjaknya kasus virus corona di Indonesia tak lain karena respons pemerintah yang dinilai lambat dalam menangani penyebaran wabah SARS-CoV-2.

Selain itu, jumlah kasus yang dilaporkan juga diprediksi akan jauh lebih banyak dari jumlah yang sudah tercatat selama ini. Mengingat tingkat pengujian yang rendah berbanding terbalik dengan tingkat kematian yang tinggi. Hingga saat ini sudah ada 58 korban jiwa akibat COVID-19 di Indonesia, tertinggi di Asia Tenggara.


Simulasi penanganan pasien virus corona di RSUD Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro. pada Jumat (06/3). Foto: Dok. Pemkab Bojonegoro

Hasil studi yang dilakukan para ilmuwan di Center for Mathematical Modelling of Infectious Diseases yang berbasis di London, Inggris, bahkan mengestimasikan hanya 2 persen kasus virus corona di Indonesia yang berhasil dikonfirmasi. Ini artinya, jumlah kasus yang sebenarnya bisa mencapai 34.300 kasus, lebih banyak dari Iran.

Penelitian lain memproyeksikan kasus COVID-19 di Indonesia bisa meningkat hingga 5 juta kasus pada akhir April 2020 di bawah skenario terburuk.

“Wabah telah kehilangan kendali, karena mereka telah menyebar di mana-mana,” ujar Ascobat Gani, seorang ekonom kesehatan masyarakat, kepada Reuters. “Mungkin kita akan mengikuti Wuhan atau Italia. Saya pikir kita ada dalam kisaran itu.”

Kendati begitu, Yuri mengatakan bahwa dampak virus corona di Indonesia tidak akan separah yang dibayangkan. “Kita tidak akan seperti Italia dan China. Yang penting adalah kita mengerahkan kekuatan. Dan masyarakat harus menjaga jarak sosial,” ujar Yuri.

Fasilitas kesehatan yang dimiliki Indonesia
Bagaimanapun, sistem kesehatan yang dimiliki Indonesia memang jauh dari kata memadai, jika dibandingkan dengan negara-negara lain yang juga terdampak SARS-CoV-2.

Indonesia adalah negara keempat terpadat di dunia. Memiliki jumlah penduduk sekitar 260 juta jiwa, dengan total fasilitas tempat tidur rumah sakit mencapai 321.544 unit, berdasarkan data Kementerian Kesehatan.

Jika dilakukan perbandingan sederhana, jumlah tempat tidur yang dimiliki Indonesia ibarat 12 tempat tidur digunakan untuk 10.000 orang. Korea Selatan punya perbandingan 115 tempat tidur per 10.000 orang, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Pada 2017, WHO mencatat Indonesia hanya memiliki dokter dengan perbandingan empat dokter per 10.000 orang. Italia memiliki 10 kali lebih banyak, dan Korea Selatan memiliki dokter empat kali lebih banyak dari Indonesia.

Meski memiliki sistem kesehatan yang serba terbatas, Yuri tetap optimis. Dengan diterapkannya social distancing atau jaga jarak sosial, Yuri yakin bahwa fasilitas kesehatan yang dimiliki Indonesia sudah cukup untuk mengatasi pandemi dan tidak perlu dilakukan penambahan tempat tidur dan staf medis.

Ruang instalasi gawat darurat di Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Senin (23/3). Foto: ANTARA FOTO/Kompas/Heru Sri Kumoro

Berbeda dengan Yuri, Budi Waryanto, ahli epidemiologi di Universitas Indonesia, menilai bahwa rumah sakit yang dimiliki sekarang tidak cukup siap untuk menangani kasus-kasus potensial, dan perawatannya pun sangat terbatas.

Terlihat, sejak kasus virus corona meningkat, beberapa rumah sakit mulai kewalahan menangani pasien virus corona. Padahal, jumlah pasien masih dalam kisaran ratusan orang. Banyak staf yang kehabisan peralatan pelindung dan terpaksa menggunakan jas hujan plastik yang tidak sesuai standar untuk merawat pasien-pasien COVID-19.

Meninggalnya delapan dokter dan satu perawat karena terpapar virus corona bisa menjadi bukti bagaimana gagapnya sistem kesehatan Indonesia dalam menghadapi pandemi. Di Italia, dengan fasilitas yang jauh lebih memadai, sudah ada 6.077 kematian akibat virus corona, di mana 23 di antaranya adalah dokter.

Bawa masker sendiri
Diberitakan Reuters, salah satu staf rumah sakit di Jakarta mengancam tidak akan masuk kerja karena kekurangan peralatan pelindung. “Kami membawa masker sendiri, pakaian pelindung sendiri yang mungkin kualitasnya tidak standar,” kata salah satu dokter yang tidak ingin disebutkan namanya kepada Reuters. “Teman-teman saya satu per satu terpapar virus corona.”


Petugas Skrining ODP PDP di Bogor pakai jas hujan. Foto: Dok. Istimewa

Merespons hal tersebut, pekan ini pemerintah telah mendatangkan sekitar 175.000 peralatan pelindung untuk para staf medis, dan akan segera didistribusikan ke seluruh rumah sakit yang ada di Indonesia.

Mereka juga membuka rumah sakit darurat di Jakarta yang bisa merawat 24.000 pasien virus corona. Dokter dan staf medis dijanjikan akan mendapat uang intensif, dan difasilitasi alat tes virus corona rapid test yang dibeli dari China.

Bagaimanapun, Indonesia memang akan jauh lebih sulit untuk menangani pandemi virus corona. Sistem kesehatan yang terdesentralisasi membuat pemerintah kesulitan dalam mengkoordinasikannya.

Kurangnya tempat tidur di unit perawatan intensif memperparah kondisi yang ada. Terlebih, saat ini Indonesia sedang memasuki puncak musim demam berdarah, dan sudah pasti akan menambah permintaan fasilitas kesehatan. [kumparan]