-->

HARI SANTRI, RESOLUSI JIHAD, DAN PERAN ULAMA


Oleh : Ummu Qithath
(Ibu Peduli Umat)

Hari Santri yang telah berlalu meninggalkan kesan tentang semangat jihad yang mulai ditinggalkan umat Islam saat ini. Ini terlihat dari tema yang diangkat di hari Santri tanggal 22 Oktober 2026 kemarin. Tahun ini, tema yang diusung untuk peringatan Hari Santri 2026 adalah "Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas". Tema ini menegaskan bahwa santri bukan sekadar pewaris tradisi keilmuan Islam, tetapi juga kekuatan penting dalam membangun masa depan Indonesia; yaitu produktif, kreatif dan adaptif di berbagai bidan; terutama di bidang ekonomi untuk mewujudkan kesejahteraan. Ini juga bisa dilihat dari statemen Menko Ketenagakerjaan Muhaimin Iskandar yang mendorong para santri dan lulusan madrasah untuk langsung bekerja dan mampu mandiri secara ekonomi dengan mendirikan usaha (www.detik.com, Selasa 20 Oktober 2026) (1).


Ini karena dulu ada Gerakan Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh Hadratusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 sebagai latar belakang sejarah diperingatinya hari Santri, yang menggerakkan para santri untuk melakukan jihad melawan penjajah. Rekam jejak Sejarah Islam menunjukkan bahwa ulama bukan sekadar pewaris ilmu Islam yang mengajarkan ibadah ritual kepada umat, tapi mereka juga adalah pemimpin jihad untuk menghadapi ancaman penjajahan fisik. Dan para santri inilah sebagai bibit dan cikal bakal munculnya para ulama, karena memang [ondok pesantren didirikan sejatinya adalah untuk melahirkan para ulama handal yang mampu membimbing umat untuk memahami Islam secara kafah (menyeluruh).

Dalam Islam, jihad secara syar'i berarti berperang (qital) di jalan Allah SWT untuk meninggikan kalimat-kalimat-Nya (Lihat: Ajhizah Dawlah al-Khilaafah, hlm. 78). Di dalamnya tentu termasuk berperang melawan kaum kafir penjajah, jihad, yang menjadi pesan inti Resolusi Jihad yang disuarakan oleh Hadhratusy Syaikh Asy’ari, 81 tahun lalu. Termasuk jihad melakukan perlawanan terhadap kekufuran dalam rangka melawan penjajahan gaya baru berupa dominasi ideologi Barat kafir, yakni Kapitalisme-sekuler, yang telah lama di negeri ini menjadi system dan paradigma di negeri ini, yang menyengsarakan dan merusak. Semangat jihad yang seperti ini yang harus tetap dirawat di dalam dada umat. Seperti dalam firman Allah SWT : 
“Allah sekali-kali tidak akan memberikan jalan kepada kaum kafir untuk menguasai kaum Mukmin” (Terjemah Al-Qur’an surat An-Nisa' [4]: 141). 

Karena itu para ulama dan santri saat ini harus menyadari bahaya penjajahan ideologi Kapitalisme-sekuler atas negeri ini; sehingga mereka harus melakukan perjuangan ideologis Islam untuk membebaskan negeri ini dari cengkeraman penjajahan ideologi Kapitalisme-sekuler tersebut. Karenanya spirit Resolusi Jihad pada masa kini perlu diterjemahkan lebih luas. Bukan sebatas semangat berperang secara fisik untuk menegakkan kalimat Allah, tapi juga sebagai panggilan bagi para ulama dan santri untuk terus memimpin perjuangan untuk melawan berbagai bentuk kerusakan peradaban akibat penerapan ideologi Kapitalisme-sekuler. Mengacu pada firman Allah :
“Berjihadlah kalian di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya (Terjemah Al-Qur’an surat al-Hajj [22]: 78).

Salah satu caranya berjihad adalah dengan berdakwah, melakukan amar maruf nahi mungkar, menyeru pada Islam. Dan yang paling memahami kewajiban dakwah ini adalah para ulama dan santri. Seperti dalam firman-Nya :
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara para hamba-Nya hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Maha Pengampun” (Terjemah Al-Qur’an surat Fathir [35]: 28). 

Amar makruf nahi mungkar ini wajib dilakukan, terutama oleh para Ulama dan santri, khususnya pada penguasa. Karena Rasulullah memandang amar makruf nahi mungkar terhadap penguasa sebagai jihad yang paling utama. Seperti pada sabda beliau : 
“Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kalimat yang benar di hadapan penguasa zalim” (Hadis Riwayat Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah). 

Ulama dan santri juga harus terus menyerukan kepada penguasa agar menjadikan Al-Quran dan as-Sunnah sebagai pedoman utama dalam mengurus urusan rakyat; serta mengingatkan penguasa bahwa segala kesempitan yang dialami bangsa ini adalah akibat bangsa ini, khususnya penguasanya, berpaling dari syariah Islam. Seperti dalam firman-Nya: 
Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku (al-Quran), sungguh bagi dia kehidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkan dirinya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta (TQS Tha-ha [22]: 124). 

Dakwah yang menjelaskan Islam sebagai sebuah ideologi, untuk menggantikan ideologi kapitalisme saat ini yang rusak dan merusak, adalah dakwah ideologis. Dakwah ideologis ini bukan berarti memusuhi setiap pihak—termasuk penguasa—yang berbeda keyakinan atau pandangan. Yang dipersoalkan adalah gagasan, aturan dan kebijakan yang dinilai bertentangan dengan prinsip Islam. Karena itu perjuangan dakwah ideologis ini harus dilakukan melalui pendidikan, dialog, argumentasi dan aktivitas politik yang damai serta bertanggung jawab. Perjuangan dakwah ideologis ini berkaitan dengan cita-cita penerapan syariah Islam secara kafah (menyeluruh) dalam kehidupan masyarakat dan pemerintahan. Cita-cita ini harus dipahami dan didiskusikan secara serius, disertai dengan kajian terhadap dasar pemikiran, metode perubahan dan implikasinya bagi kehidupan umat.

Jika dulu ulama dan santri berjuang menghadapi penjajahan fisik, yang antara lain dipicu oleh Resolusi Jihad; maka hari ini ulama dan santri bersama umat Islam harus memperkuat perjuangan ideologis untuk menghadapi dominasi penjajahan gaya baru, yakni dominasi ideologi Kapitalisme-sekuler. Bukan melalui kekerasan, melainkan melalui ilmu, dakwah, kesadaran politik dan tawaran solusi yang berlandaskan Islam. Sagar Islam Kembali tegak secara utuh sebagaimana pada masa Kekhilafahan Islam dulu selama berabad-abad lamanya.

Penghormatan terbaik kepada para pejuang Resolusi Jiha, kepada para ulama dan para santri di masa perjuangan kemerdekaan di masa lalu, bukan sekadar mengenang keberanian mereka; melainkan melanjutkan pengabdian dan perjuangan Islam dengan memahami tantangan zaman kini, yaitu belenggu sekuler kapitalisme dan memperjuangkan perubahan ke arah Islam sesuai metode dakwah Rasulullah secara bertanggung jawab. Tentu agar negeri ini senantiasa diliputi dengan aneka keberkahan dan ridha Allah SWT.

Wallahualam Bisawab

Catatan Kaki : 
(1) https://news.detik.com/berita/d-8715601/hari-santri-22-oktober-2026-ini-tema-hingga-kegiatannya.