-->

Fenomena Down Grade, Bukti Nyata Cacatnya Demokrasi (Part 1)


Oleh : Maulli Azzura 
‎
‎Di tahun 2026 hampir seluruh platform media sosial rame membicarakan tentang istilah "Down Grade Lifestyle" atau dikenal dengan sebutan menurunkan standar hidup. Seperti beralih ke barang belanjaan yang lebih murah, mengurangi jajan, hingga memangkas biaya tersier—menjadi sorotan. 
‎
‎Bahkan dalam skala makro ,mereka para pelaku bisnis memangkas biaya produksi untuk menekan angka "Loss" atau besarnya angka pengeluaran akibat dari dampak kebijakan ekonomi penguasa. Tak cukup sampai disitu bahkan para pelaku industri besar memutar otak bagaimana bisnisnya bisa terus berjalan akibat dari putusnya hubungan kerjasama para investor. 
‎
‎Dalam skala micro-pun juga demikian, para pelaku UMKM tak luput dari fenomena down grade ini. Mereka yang tak mampu bertahan dengan keadaan serba mahal baik bahan baku maupun minat pembeli produknya, memaksa mereka untuk berhemat. Misal yang tadinya mereka menggunakan alat produksi serba listrik beralih ke konvensional dan seterusnya. 
‎
‎Dalam level individu-pun juga sangat parah. Mereka beralih ke mode sangat hemat diberbagai aktivitas demi untuk bertahan hidup. Jika demikian apakah fenomena ini biasa-biasa saja, ataukah ini sebuah alarm kegagalan sistem ekonomi?.

Tentu saja ketika kita melihat fenomena "Down Grade" dari kacamata Islam, akan kita dapati sesuatu yang kontras dengan realitanya. Fenomena masyarakat sekarang bukan masalah berhemat dengan menurunkan gaya hidup. Namun memang inilah sebuah alarm kegagalan sistem ekonomi sekuler liberal yang tengah berjalan. 
‎
‎Kebijakan yang lahir dari tangan penguasa demokrasi liberal adalah hasil dari diterapkannya sebuah sistem sekuler liberal yang memaksa manusia untuk ikut alur sistem. Sehingga masyarakat tidak memperoleh haknya untuk layak hidup sejahtera. Bagaimana tidak? 
‎
‎Misal SDA, yang harusnya hasilnya bisa mensejahterakan rakyat, justru hanya dinikmati hasilnya oleh segelintir orang (Kapital) adapun mendapatkan itu hanya sedikit. Belum lagi ekonomi ribawi , masyarakat dituntun dengan hawa nafsunya untuk memiliki hasrat tanpa batas pemenuhan kebutuhan dengan hawa nafsunya, dengan mengambil langkah bathil yakni ikut dalam jeratan riba yang justru akan memberatkan hidupnya dan mengalami kebangkrutan. Juga masalah perpajakan, yang memaksa mereka terbebani hidupnya dengan pajak dan tentunya mempengaruhi kenaikan bahan pokok lainnya akhirnya kebutuhan sekunder -pun tak terpenuhi . Yang lebih penting lagi adalah akidahnya dipaksa untuk menjalankan sistem kafir barat yang memisahkan agama dengan pemerintahan. Sehingga eternite, egalite dan faternite-nya bebas tanpa batasan agama. Mengapa? inilah ulah Sistem biadab, korporasi dan penguasa yang menjalankan ideologi kafir barat  demi mengambil untung untuk dirinya serta meng-eksploitasi secara ugal - ugalan diberbagai sektor kehidupan. Bersambung.
(Lanjut Part 2)
‎