LGBT Berkembang dalam Sistem Sekuler-Materialisme
Pemerhati Remaja, Wendy Lastwati menegaskan bahwa LGBT bukan sekadar preferensi seksual, melainkan gerakan yang berkembang dalam sistem sekuler-materialisme dan dikomodifikasi kapitalisme global. Hal tersebut diungkapnya dalam kajian Remaja, Stand Proud Stand Right, Ahad (27/09/2026) di Depok.
Menurutnya, perkembangan LGBT dengan sistem sekuler-materialisme yang ekonominya bertumpu pada kapitalisme. “Sistem tersebut sejalan dengan cara pandang berperilaku liberalisme (HAM) yang diterapkan dalam UU dan dipaksakan oleh negara berkuasa ke dalam pendidikan (kurikulum) dan dikampanyekan dalam bentuk gaya hidup (fashion, food, fun, film),” jelasnya.
Ia menegaskan, LGBT berkaitan dengan orientasi seksual dan identitas gender. Ia menyebut terdapat perbedaan pandangan dalam melihat fenomena tersebut. Sosiolog Indonesia, menurutnya, memandang LGBT sebagai penyimpangan sosial, sedangkan WHO memandangnya sebagai keberagaman preferensi seksual.
“Berbeda ya,” ujarnya.
Munculnya LGBT dipengaruhi berbagai faktor, terangnya, mulai dari biologis, psikologis, hingga sosiologis. Namun, lanjutnya, LGBT tidak hanya dapat dilihat sebagai preferensi individu, tetapi juga sebagai sebuah gerakan yang memiliki power karena mendapat dukungan dari pihak-pihak yang berkuasa.
“Isu dan komunitas LGBTQ+ telah sepenuhnya menjadi komoditi dari sistem kapitalisme global. Fenomena ini secara akademis dan ekonomi dikenal dengan istilah Rainbow Capitalism (Kapitalisme Pelangi) atau komodifikasi gerakan sosial demi akumulasi kapital korporasi. Akumulasi daya beli (spending power) kelompok ini di seluruh dunia mencapai angka fantastis USD 4,7 triliun per tahun,” bebernya.
Sikap Islam
Kak Wendy pun mengajak peserta memahami persoalan tersebut melalui Islamic worldview. Menurutnya, Islam bukan sekadar ritual, melainkan pandangan hidup yang menyeluruh.
“Islam mengatur manusia secara keseluruhan, mulai dari hubungan manusia dengan Allah SWT, manusia dengan dirinya sendiri hingga manusia dengan manusia yang lain,” sebutnya.
Ia juga menjelaskan adanya dalil yang berkaitan dengan LGBT melalui kisah kaum Nabi Luth. Menurutnya, kisah tersebut menunjukkan bahwa perilaku seksual yang dilakukan kaum Nabi Luth merupakan perbuatan yang dibenci Allah SWT.
Karena itu, ketika berada di ruang publik, ia mengajak para remaja untuk memahami makna slogan Stand Proud, Stand Right.
“Stand Proud berarti bangga dan tetap percaya diri dengan nilai-nilai Islam yang dianut di tengah perbedaan arus pemikiran. Sementara itu, Stand Right berarti tegas menolak atau tidak menghadiri agenda maupun gerakan yang mengampanyekan LGBT,” pungkasnya. []Aqila Fahma Diina

Posting Komentar