Generasi Rusak Akibat Kebebasan ala Kapitalisme
Oleh : Ummu Faruq
Pembacokan Mahasiswi UIN Sultan Syarif Kasim Riau yang dilakukan oleh sesama mahasiswa hingga korban terluka dan dirawat terjadi akibat persoalan pribadi penolakan cinta. Penolakan cinta saat keduanya mengikuti KKN berujung pada penyerangan di kampus.
Rusaknya pergaulan remaja bukan hanya tercermin pada kasus ini, kasus hamil diluar nikah, narkoba, pembunuhan, dan lainnya seperti sudah biasa membanjiri daftar berita di media. Hal ini menunjukkan betapa gagalnya sistem pendidikan sekuler membentuk generasi yang memiliki kepribadian mulia.
Sistem kapitalis hari ini berkiblat pada Barat yang menjunjung tinggi kebebasan, setiap individu bebas bertindak semaunya, tanpa mempertimbangkan dampaknya. Kebebasan diagungkan, maka tak heran jika pergaulan bebas dimasyarakat mulai merajalela. Pacaran, perselingkuhan, perzinahan, dianggap sebagai hal yang biasa, terus diulangi, dan tidak diberi sanksi yang membuat jera. Maka nilai-nilai liberal ini terus bertumbuh subur dikalangan masyarakat. Hal ini berdampak besar dalam mengubah perilaku masyarakat yang bertentangan dengan norma agama.
Kegagalan sistem pendidikan kapitalis tidak nampak semakin nyata. Pendidikan ala kapitalis tidak memprioritaskan pembinaan generasi, generasi hanya dilandang sebagai faktor produksi yang berorientasi pada materi. Output yang diharapkan adalah menghasilkan tenaga kerja yang memenuhi kebutuhan industri, bukan generasi mulia yang sesuai dengan norma agama.
Berbeda dengan sistem pendidikan Islam, sistem pendidikan Islam dibangun diatas dasar akidah, dengan tujuan membentuk generasi yang bersyakhsiyah Islam. Generasi bersyakhsiyah Islam adalah mereka yang memiliki pola fikir dan pola sikap sesuai syariat Islam.
Tujuan utama pendidikan Islam bukanlah menghasilkan tenaga kerja, melainkan menjadikan generasi yang memiliki kesadaran untuk taat syariat, halal haram, tanggungjawab, dan ketakwaan kepada Allah. Tidak hanya fokus pada materi atau capaian akademik semata.
Ketika dari Individu sudah memiliki kesadaran ketakwaan, maka disupport dengan masyarakat yang memiliki kesadaran amar ma'ruf nahi Munkar, menentang kemaksiatan, sehingga akan tercipta suasana yang mendukung ketaatan, dan dijauhkan dari perilaku menyimpang. Berbeda dengan hari ini, standar kebebasan berhasil membangun mindset masyarakat untuk bersikap individualis dan tidak peduli dengan kemaksiatan yang dilakukan oleh orang lain.
Selain dari masyarakat, negara juga berperan dalam menerapkan peraturan sesuai dengan hukum Islam. Negara mengkondisikan agar sistem pergaulan Islam diterapkan dengan sempurna. Sanksi kepada para pelaku yang melanggar pun ditetapkan sehingga memberikan efek jera. Contohnya ketika ada yang berzina, maka negara akan mencambuk atau merajamnya, sesuai dengan firman Allah yang artinya;
"Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman." (An-Nur ayat 2)
Ketika seluruh syariat Islam diterapkan maka keamanan dan kehormatan kita sebagai hamba Allah pun akan terus terjaga. Pergaulan bebas tidak akan pernah terjadi secara terang-terangan di depan mata. Wallahu a'lam bis-showab.

Posting Komentar