-->

Tidak Mau Syariah Allah? Tidak Pantas Hidup di Buminya Allah!

Ini adalah kisah yang berisi pertaubatan seorang pemuda dari kehidupan yang bergelimang maksiat dan penghambaan pada dunia dan hawa nafsu yang nista menuju kehidupan yang tunduk patuh sepenuhnya menghamba kepada Allah subhanahu wa ta'ala semata.
________________________________________

Oleh: Ustadz Azizi Fathoni

أفيحسن أن تأكل رزقه وتسكن بلاده وتعصيه

Apakah pantas jika kamu makan dari rizki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, sedang kamu bermaksiat kepada-Nya? [Ibrahim bin Adham]

===

Tercantum dalam kitab berjudul At-Tawwabin (orang-orang yang bertaubat) yang ditulis oleh seorang ulama kenamaan dari madzhab Hambali, yaitu Al-Imam Ibn Qudamah Al-Maqdisi, sebuah kisah yang berisi pertaubatan seorang pemuda dari kehidupan yang bergelimang maksiat dan penghambaan pada dunia dan hawa nafsu yang nista menuju kehidupan yang tunduk patuh sepenuhnya menghamba kepada Allah subhanahu wa ta'ala semata.

Semoga dengan diceritakannya kembali kali ini bisa mengokohkan ketaatan kita, serta menyadarkan saudara-saudara kita yang memiliki latar belakang seperti pemuda tersebut. Berikut kisahnya:

وروي أن رجلا جاء إلى إبراهيم بن أدهم فقال له يا أبا إسحاق إني مسرف على نفسي فاعرض علي ما يكون لها زاجرا ومستنقذا لقلبي

Diriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki yang mendatangi Ibrahim bin Adham seraya berkata: “Wahai Abu Ishaq, aku ini adalah seorang manusia yang memperturutkan hawa nafsu (ahli maksiat), maka tunjukkanlah padaku apa yang bisa membuatku jera dan apa yang bisa menyelamatkan hatiku ini.”

قال إن قبلت خمس خصال وقدرت عليها لم تضرك معصية ولم توبقك لذة

Ibrahim berkata: “Kalau kamu mau dan sanggup menerima lima perkara ini, maka kamu tidak apa-apa bermaksiat, dan kenikmatan (saat bermaksiat) yang akan kau peroleh tidak akan mencelakakanmu.”

قال هات يا أبا إسحاق

Laki-laki: “Sebutkanlah wahai Abu Ishaq”

قال أما الأولى فإذا أردت أن تعصي الله عز و جل فلا تأكل رزقه

Ibrahim: “Yang pertama, jika kamu mau berbuat maksiat kepada Allah subhanahu wa ta'ala, maka jangan kamu makan dari rizki-Nya.”

قال فمن أين آكل وكل ما في الأرض من رزقه

Laki-laki: “Lantas aku makan dari mana? Bukankah setiap apa yang ada di bumi ini adalah rizki-Nya..”

قال له يا هذا أفيحسن أن تأكل رزقه وتعصيه

Ibrahim: “Wahai pemuda, apakah pantas bagimu makan dengan rizki-Nya sedang kamu bermaksiat kepada-Nya?”

قال لا هات الثانية

Laki-laki: “Tidak pantas, baiklah tunjukkan yang kedua”

قال وإذا أردت أن تعصيه فلا تسكن شيئا من بلاده

Ibrahim: “Jika kamu hendak bermaksiat kepada-Nya, maka jangan sedikitpun tinggal di bumi-Nya”

قال الرجل هذه أعظم من الأولى يا هذا إذا كان المشرق والمغرب وما بينهما له فأين أسكن

Laki-laki: “Ini lebih berat dari yang pertama. Wahai syaikh, jika timur dan barat serta apa saja yang ada di antara keduanya adalah milik-Nya, lantas aku bisa tinggal dimana?”

قال يا هذا أفيحسن أن تأكل رزقه وتسكن بلاده وتعصيه

Ibrahim: “Wahai pemuda, apakah pantas jika kamu masih makan dari rizki-Nya dan tinggal di bumi-Nya,sedang kamu bermaksiat kepada-Nya?”

قال لا هات الثالثة

Laki-laki: “Tidak pantas, baiklah tunjukkan yang ketiga”

قال إذا أردت أن تعصيه وأنت تحت رزقه وفي بلاده فانظر موضعا لا يراك فيه مبارزا له فاعصه فيه

Ibrahim: “Jika kamu hendak bermaksiat kepada-Nya sementara kamu masih makan dari rizki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, maka carilah suatu tempat yang Dia tidak bisa melihatmu saat kamu berbuat maksiat secara terang-terangan di tempat itu, maka bermaksiatlah kamu di situ”

قال يا إبراهيم كيف هذا وهو مطلع على ما في السرائر

Laki-laki: “Wahai Ibrahim, bagaimana mungkin? Sedangkan Dia maha mengetahui atas setiap apa yang tersembunyi.”

قال يا هذا أفيحسن أن تأكل رزقه وتسكن بلاده وتعصيه وهو يراك ويرى ما تجاهره به

Ibrahim: “Wahai pemuda, apakah pantas jika kamu makan dari rizki-Nya, tinggal di bumi-Nya, dan Dia senantiasa melihatmu, sadang kamu melakukan kemaksiatan secara terang-terangan?”

قال لا هات الرابعة

Laki-laki: “Tentu tidak, baiklah beritahu yang keempat”

قال إذا جاءك ملك الموت ليقبض روحك فقل له أخرني حتى أتوب توبة نصوحا وأعمل لله عملا صاحلا

Ibrahim: “Jika datang malaikat maut mencabut nyawamu, katakanlah padanya: Tangguhkan untukku sampai aku bertaubat dengan sebenar-benar taubat, dan beramal shalih”

قال لا يقبل مني

Laki-laki: “Mana mungkin dia mau memenuhi permintaanku”

قال يا هذا فأنت إذا لم تقدر أن تدفع عنك الموت لتتوب وتعلم أنه إذا جاء لم يكن له تأخير فكيف ترجو وجه الخلاص

Ibrahim: “Wahai pemuda, jika kamu tidak mampu menolak kematian untuk bisa bertaubat dan kamu sudah tahu jika maut datang menjemput dia tidak mungkin bisa ditunda, lantas bagaimana bisa kamu mengharap kesempatan bisa menyudahi kemaksiatan sebelum kematian (jika tidak segera bertaubat).”

قال هات الخامسة

Laki-laki: “Tunjukkan yang ke-lima”

قال إذا جاءتك الزبانية يوم القيامة ليأخذونك إلى النار فلا تذهب معهم

Ibrahim: “Apabila datang kepadamu Zabaniyah (19 malaikat penyiksa di Neraka) pada hari Kiamat kelak, untuk menyeretmu ke Neraka, maka kamu jangan mau ikut bersama mereka”

قال لا يدعونني ولا يقبلون مني

Laki-laki: “Mereka tentu tidak mungkin meninggalkanku, dan tidak akan mau memenuhi permintaanku”

قال فكيف ترجو النجاة إذا

Ibrahim: “Lantas, bagaimana bisa kamu mengharapkan keselamatan (dengan tetap bermaksiat)?”

قال له يا إبراهيم حسبي حسبي أنا أستغفر الله وأتوب إليه

Laki-laki: “Wahai Ibrahim, cukup.. cukup.. Aku memohon Ampunan kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya”

ولزمه في العبادة حتى فرق الموت بينهما

Akhirnya laki-laki itupun senantiasa menyertai Ibrahim bin Adham dalam ketaatan ibadah,hingga maut memisahkan mereka berdua.

===

Sungguh kisah yang menggetarkan pikiran dan perasaan orang-orang yang mau berfikir dan merenungi.

Yaa Rabb.. pantaskah debu yang hina ini, yang makan-minum masih dengan rizki-Mu, bernafas masih menggunakan udara-Mu, berpijak dan bersandar masih diatas bumi-Mu, untuk bermaksiat durhaka kepada-Mu. Meninggalkan apa-apa yang Engkau perintahkan, melanggar apa-apa yang Engkau larang, meninggalkan hukum-hukumMu. Bahkan menerapkan hukum-hukum selain hukum-Mu di bumi-Mu, dengan perantaraan rizki-rizki-Mu, dan terang-terangan dihadapanMu. Padahal tidak ada jaminan bagiku untuk bisa bertaubat kepada-Mu sebelum malaikat maut menjemputku, tidak pula ada peluang untuk lolos dari siksa malaikat-malaikat Zabaniyah-Mu.

Astaghfirullaahal‘Azhiim, wa atuubu ilaih.

—————————————
Sumber : Muslimah News ID