-->

Cara Islam Menanggulangi Bencana


Oleh : Yaurinda

Bencana yang terjadi di Indonesia tergolong sering dan selalu memakan banyak korban, ini disinyalir karena mitigasi bencana yang kurang baik. Selain itu bantuan juga sering terlambat dan sarana kesehatan juga sangat minim, hal ini menyebabkan bertambahnya korban pasca bencana seperti yang terjadi belakangan. Ada peningkatan korban pasca bencana di pengungsian sekitar 94 warga meninggal dunia.

Masyarakat mendesak evaluasi serius dalam penanganan para pengungsi atas insiden 94 warga meninggal di pengungsian pascagempa besar di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus lalu.Anggota Komisi VIII DPR, Hetifah Sjaifudian menilai insiden tersebut tak boleh dianggap sepele. Apalagi, jumlahnya lebih banyak dibanding warga meninggal akibat terdampak langsung gempa.  "Besarnya angka tersebut harus menjadi perhatian serius dalam evaluasi perlindungan dan pelayanan bagi masyarakat setelah bencana," ujar Hetifah saat dihubungi, Dikutip dari CNN Indonesia jumat (18/9). 

Tingginya angka kematian di pengungsian kemungkinan besar dipengaruhi oleh terbatasnya fasilitas yang tersedia hingga minimnya layanan medis darurat. Selain itu perlengkapan yang juga kurang seperti ruangan yang memadai di tengah cuaca ekstrem yang sangat panas di siang hari dan dingin di malam hari. Ini menunjukkan bahwa kapasitas penanganan yang bisa diberikan oleh pemerintah terhadap korban gempa di pengungsian terbukti sangat lemah. Peran negara sebagai rain atau pengurus urusan umat dalam sistem sekuler tidak berfungsi optimal sehingga menyengsarakan rakyat, bahkan yang tengah tertimpa bencana. Karena peran negara dalam sistem sekuler hanya sebagai regulator yaitu penyampai kebijakan dari pemilik modal dan di jadikan menjadi bisnis yang menghitung untung dan ruginya saja. Jumlah korban dalam bencana bukan tanggung jawab melainkan sekedar angka matematis.

Hal ini sangat bertolak belakang dengan sistem Islam yang mana memandang setiap jiwa wajib untuk dilindungi dan negara bertanggung jawab penuh, hak dasar kesehatan setiap individu harus dijamin oleh negara. Dalam sistem Islam mewajibkan penguasa menjalankan fungsi riayah dan perlindungan (ra'in dan junnah) secara optimal dan maksimal. Berbicara kesehatan sistem kesehatan dalam Islam ditopang oleh sistem ekonomi Islam dan sistem keuangan Islam yang menjamin pemenuhan kebutuhan individu rakyat secara optimal dan maksimal.

Dalm pekara bencana alam Negara wajib menerapkan aturan kepemilikan lahan sesuai syariah yang mana hutan, gunung, sungai adalah milik umum yang tidak boleh di berikan kepada perorangan dan sembarangan. Kemudian ada larangan merusak lingkungan: hadits "La dharara wa la dhirar" (tidak boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain). Negara wajib secara tegas menutup industri yang merusak. Tata letak kota dipertimbangkan menurut manfaat, bukan profit. Tidak boleh membangun di bantaran sungai, patahan aktif, atau resapan air.

Selanjutnya mitigasi bencana dipersiapkan dengan cermat. Negara wajib menyediakan teknologi early warning untuk memberikan signal saat akan terjadi bencana, edukasi juga diberikan agar umat siap dalam menyikapi bencana. Kebencanaan ini berbasis masjid dan sekolah, dan pemetaan wilayah rawan bencana. Selain itu negara wajib memiliki Baitul Mal (kas negara) yang kuat untuk dana darurat, tidak bergantung pada utang atau LSM asing. Pemasukan negara tidak tergantung pada pajak namun pengelolaan SDM yang dimiliki.

Yang terakhir penanggulangan saat bencana terjadi adalah negara bertanggung jawab langsung sebagai raa'in (pengurus umat). Melakukan evakuasi secepat mungkin, menyiapkan makanan, obat, tempat tinggal yang nyaman dan layak. Selain itu militer dan seluruh aparatus juga dikerahkan penuh untuk penyelamatan. Selain itu ada penanggulangan pasca bencana seperti ganti rugi dan pembangunan kembali sepenuhnya ditanggung negara, tidak boleh ada komersialisasi bantuan, dan muhasabah kolektif untuk kembali pada syariah bahwa yang terjadi adalah semata-mata atas kehendak Allah SWT.