Pengkhianatan Barat Terhadap Pembebasan Palestina
Oleh : Evi Derni, S.Pd.
Utusan khusus Amerika Serikat Jared kusner mengatakan kemajuan dalam proses pelucutan senjata Hamas dan kelompok lain di Jalur Gaza dapat mulai terlihat dalam waktu 30 hari dengan mulai mengeluarkan sebagian senjata dan menutup beberapa terowongan dalam 60 hingga 90 hari ke depan. Kusner yang juga menantu Trump bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada 17 Agustus 2026, namun pertemuan tersebut belum menghasilkan terobosan untuk merealisasikan peta Jalan terkait Gaza yang sebelumnya telah disepakati Hamas. Israel menyatakan tidak akan memberikan konsesi apapun sebelum Gaza sepenuhnya didemiliterisasi. Dikutip dari Liputan6, 18 Agustus 2026.
Pengkhianatan zionis terhadap kesepakatan gencatan senjata telah diumumkan sesungguhnya sudah tidak terhitung lagi di bawah bendera aliansi besutan Amerika Board of Peace (BOP), mereka menawarkan konsep perdamaian yang penuh jebakan dengan mensyaratkan agar kelompok mujahidin melucuti senjata. Pelucutan senjata dan sandiwara penarikan mundur tentara Zionis tidak akan menghentikan penjajahan bangsa Yahudi atas Palestina ,penjajahan perampasan tanah dan genosida atas Gaza dan Palestina akan terus dilakukan oleh Zionis. Demikian pula dengan kehadiran pasukan yang diklaim akan mampu menjaga stabilitas internasional tidak ditujukan untuk membebaskan Palestina dan penjajahan zionis.
Sebaliknya kehadiran pasukan itu akan digunakan untuk menjaga kepentingan AS dan membekap setiap perlawanan yang akan mengganggu stabilitas kepentingan AS. Inilah taktik licik AS dan Yahudi sebagai benteng terakhir perlawanan masyarakat Palestina. Upaya melucuti senjata Hamas hanya akan melempangkan jalan merebut Gaza. Di titik ini terlihat benang merah bahwa munculnya BOP pada dasarnya berkelindan dengan sejumlah rencana strategi AS untuk menguasai Palestina. Dalam Project 2025 AS menginginkan transformasi Gaza menjadi Riviera Timur Tengah. Presiden Trump sendiri sangat berambisi untuk mengambil alih Gaza demi memuluskan proyek ini. Salah satu strateginya adalah memasukkan diktum soal rencana merekonstruksi total Gaza dalam perjanjian gencatan senjata antara Zionis dan Hamas yang ia inisiasi sejak Januari 2025.
Pada saat yang sama banyak negeri-negeri Islam yang pura-pura rabun akan agenda AS dan Zionis ini. Bahkan mereka turut serta dalam narasi perdamaian semu. Ketakutan yang besar pada negara adidaya itu sungguh membuat mereka gentar untuk menyuarakan pembebasan Palestina secara lantang. Alih-alih merumuskan visi untuk menyelesaikan masalah Palestina dengan mengusung Islam ideologi sebagai solusi. Sebagian besar penguasa muslim lebih memilih untuk terus membebek pada rumusan kebijakan AS secara sadar mereka mengikuti narasi penguasa barat yang jelas ditolak mayoritas umat Islam bahkan dengan percaya diri mereka menganggap bahwa ikut serta dalam aliansi perdamaian merupakan bentuk perjuangan pembebasan Palestina. Nyatanya keikutsertaan mereka dalam aliansi tidak berkontribusi apapun selain merestui setiap pengkhianatan demi pengkhianatan penguasa kuffar atas kaum muslimin.
Jika para Mujahidin secara nyata mengikuti arahan melucuti senjata perlawanan Palestina akan redup dan kebuasan negara kolonialisme global tidak hanya berhenti pada upaya menguasai Palestina tetapi juga akan semakin menancapkan hegemoninya atas Timur Tengah. Ia juga akan memberikan peluang besar bagi AS untuk mengontrol setiap gejolak politik sekaligus mengendalikan pergerakan pejuang Islam yang selama ini menjadi titik didih yang menginspirasi girah perjuangan Islam di dunia. Untuk itu upaya untuk membebaskan Palestina sesungguhnya membutuhkan 1 komando dari seorang Khalifah melalui institusi politik Islam yakni negara Khilafah. Negeri-negeri muslim yang hari ini tersekat dalam ikatan nasionalisme dengan konsep Nation Sate akan dipersatukan. Sementara itu sebagai pemimpin khalifah akan memobilisasi kaum muslim untuk berjihad melawan entitas Yahudi. Jihad adalah solusi riil atas permasalahan Palestina hari ini. Perang opini yang barat lancarkan untuk mendiskreditkan jihad hari ini telah membuat umat jauh dari solusi hakiki pembebasan Palestina. Padahal Islam dengan tegas memberikan legitimasi untuk melakukan perlawanan terhadap pihak-pihak yang terlebih dahulu memerangi kaum muslim.
Pembebasan Palestina adalah bagian dari perjuangan melawan penjajahan yang didukung oleh kekuatan negara adidaya. Alquran menegaskan prinsip tersebut dengan memerintahkan umat Islam untuk berjuang di jalan Allah sebagaimana FirmanNya "perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian bunuhlah mereka di mana saja kalian jumpai mereka dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian". TQS al-baqarah 190-191.
Inilah agenda politis untuk membebaskan Palestina yang wajib umat Islam perjuangkan. Tentu dibutuhkan upaya-upaya sistematis untuk mengopinikan metode islam dalam mengurai masalah Palestina. Di sinilah pentingnya perjuangan Islam politis yang dimobilisasi oleh jemaah dakwah islam ideologis agar umat dapat merumuskan perjuangan dalam upaya mewujudkan hadirnya institusi politik yang mempersatukan negeri-negeri Islam sekaligus membebaskan negeri Islam yang saat ini sedang terjajah, wallahua'lam.

Posting Komentar