Rajab, Kenangan Indah Pembebasan Baitul Maqdis dan Nestapa Runtuhnya Daulah

Oleh: Dwi Nesa Maulani (Komunitas Pena Cendikia)

Bulan Rajab bulan haram. Artinya Rajab bulan mulia. Selain Rajab ada tiga bulan yang disebut Allah SWT bulan haram yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Di bulan spesial ini hendaknya umat muslim berlomba-lomba beramal untuk mendapatkan keutamaan bulan rajab. Diantaranya puasa rajab, shalat sunnah, baca Alquran, dan berdzikir.


Selain sebagai bulan mulia, di bulan Rajab banyak peristiwa penting dalam sejarah Islam yang patut untuk kita kenang. Salah satunya peristiwa pembebasan Baitul Maqdis, Palestina. Tepatnya pada 27 Rajab 528 H atau 2 Oktober 1187 M. Setelah perjuangan panjang melawan pasukan Salib, Baitul Maqdis akhirnya kembali ke pangkuan umat Muslim.  


Shalahuddin al-Ayyubi,  tokoh penting yang memimpin pembebasan Baitul Maqdis dari pasukan Salib. Dengan menggunakan taktik spiral,  yaitu mengepung dan menutup seluruh akses ke benteng,  sehingga pasukan Salib tidak bisa mendapatkan bantun dari luar. Pertempuran antara pasukan Salib dan  pasukan Shalahuddin itu dimenangkan oleh pasukan Shalahuddin. Kemenangan ini disambut keharuan, air mata, gema takbir dikumandangkan, dan Shalahuddin langsung memimpin salat Jumat di Masjid Al-Aqsha untuk pertama kalinya, setelah pembebasan kota Al-Quds.  


Di bawah kepemimpinan Daulah Islamiyah, masyarakat Palestina diberikan jaminan hidup layak dan terhormat. Dapat menjalankan segala bentuk upacara keagaman baik muslim maupun nonmuslim dengan bebas. Termasuk menjaga keamanan tempat-tempat ibadah mereka. Bahkan tentara salib banyak yang masuk Islam bukan karena mereka takut. Tetapi karena mereka merasakan kemuliaan Islam.


Kepemimpinan Islam terus berlanjut dan membesar mencapai 2/3 dunia. Namun pada tanggal 27 Rajab 1342 H atau 3 Maret 1924 M Daulah Islamiyah yang tersisa di Turki berakhir akibat dihancurkan oleh Mustafa Kemal Attaturk antek Inggris. Daulah yang sebelumnya menerapkan syariat Islam diganti menjadi negara sekuler. Itu artinya tak ada lagi hak dan kewajiban warga negara sesuai dengan pengaturan Islam. Bahasa Arab yang menjadikan umat memahami tsaqofah islyam tak lagi menjadi bahasa nasional. Dan tak ada lagi pelindung umat Islam atas serangan kaum imperialis baik secara fisik maupun nonfisik.


Kini wilayah Daulah Islamiyah yang tadinya satu, dipimpin oleh satu pemimpin yaitu khalifah, terpecah menjadi lebih dari 50 negara. Umat Islam saat ini terpisahkan oleh sekat nasionalisme. Antara muslim di satu negeri tak saling menyayangi dengan muslim di negeri yang lain. Padahal Rasulullah SAW bersabda ''Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam saling mencintai, saling menyayangi dan mengasihi adalah seperti satu tubuh, bila ada salah satu anggota tubuh mengadu kesakitan, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakannya, yaitu dengan tidak bisa tidur dan merasa demam.'' (HR Bukhari dan Muslim).


Seharusnya sebagai saudara seiman, ia tidak akan rela membiarkan saudaranya nestapa. Ia tidak akan rela saudaranya diembargo pihak lain sehingga kekurangan sandang, pangan, dan bahkan obat-obatan. Kesadaran, perasaan, dan jiwanya akan senantiasa tersayat melihat saudaranya di negeri yang lain tengah getir menghadapi kesulitan hidup. Namun karena tak ada lagi Daulah Islamiyah yang menyatukan umat, hilanglah perasaan itu.


Muslim di Palestina yang dulu di naungi Daulah, kini dibantai dengan keji oleh zionis Israel. Masjid Al Aqsha dikuasai, rumah-rumah dihancurkan, tanahnya diambil, sampai anak kecil tak berdosa pun harus tertumpah darahnya. Dimana saudara muslim yang lain? Sebagian tak peduli. Sebagian lagi ikut merasakan penderitaan, namun rasa sebatas rasa tak mampu berbuat apa-apa. Hanya bisa mengumpulkan dana untuk meringankan beban tapi tak mampu menghentikan kebiadaban zionis.


Lagi, muslim di negeri lain seperti muslim Rohingya, muslim Uighur, muslim di Afrika, muslim di Suriah, kondisinya tak jauh beda dengan muslim di Palestina. Mereka terjajah secara fisik.  Namun lagi-lagi saudara muslim di negeri lain tak berdaya untuk menolong. 


Sedangkan muslim di Indonesia meskipun tidak dijajah secara fisik, akan tetapi disadari atau tidak negeri ini sedang dijajah secara ekonomi, politik, dan budaya. SDA dikuasai oleh swasta dan korporasi asing. Sesama muslim diadu domba dengan label muslim moderat dan radikal. Generasi dijauhkan dari nilai-nilai islam. Dan umat dimiskinkan secara struktural.


Begitulah kondisi umat Islam ketika tak ada Daulah Islamiyah yang menyatukan mereka. Mudah sekali mereka terjajah. Tak ada perisai yang melindungi mereka. Umat Islam dihinakan oleh orang-orang kafir penjajah. Predikat sebagai Khoiru Ummah pun belum terlihat pada umat Islam saat ini.


Namun penderitaan umat tak selamanya. Ada secercah harapan yang disampaikan oleh Nabi SAW dalam bisyarahnya, “Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian, atas izin Allah ia tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan yang zhalim; ia juga ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya.  Kemudian akan ada kekuasaan diktator yang menyengsarakan; ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada.  Selanjutnya  akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya (no. 18430), Abu Dawud al-Thayalisi dalam Musnad-nya (no. 439); Al-Bazzar dalam Sunan-nya (no. 2796)).


Bisyarah Rasulullah SAW pasti akan terwujud cepat atau lambat. Tugas umat ini adalah berusaha untuk mewujudkannya. Pada momen bulan Rajab ini, memperbanyak shalat sunnah, puasa, baca Alquran, dan berdzikir memang dianjurkan dan berpahala. Namun janganlah kita lupa bahwa menerapkan syariah Islam kaffah adalah kewajiban. Dan Islam kaffah akan terwujud jika ada Daulah Islamiyah.

banner zoom